Rabu, 20 Januari 2010 pukul 01.30 akhirnya saya berhasil  melumat habis novel  Galaksi Kinanthi. Novel yang satu semester belakangan ini saya incar tapi belum bisa membelinya karena alasan klasik, belum punya duit. Hehehe….

Sehari sebelumnya, tepatnya Selasa siang, saya bertemu teman saya, Dita, anak TI juga. Kebetulan hari itu kami sedikit ada urusan bisnis (wew,bahasanya) sehingga sempat capcipcuz cukup lama. Menjelang sore Dita pamit karena ingin mengembalikan komik di sebuah taman bacaan dekat SMA-nya dulu (SMA 3-red). Muncullah ide untuk ikut meminjam novel dengan menggunakan keanggotaan Dita. Belakangan ini saya memang lagi pengen baca novel setelah beberapa hari sebelumnya menyelesaikan novel Gading-Gading Ganesha. Tapi mo pinjem  novel apa ya? Lantas ide itu muncul begitu saja walaupun saya menyangsikan bahwa novel yang saya cari dapat ditemukan di sebuah taman bacaan.

Berhubung, hari Selasa merupakan hari yang dijanjikan nilai-nilai UAS bakal keluar semua (seharusnya hari Senin malah, dosen dan mahasiswa sama2 deadliners ternyata :p), maka saya memutuskan untuk menunggu nilai2 keluar. Sementara Dita tetap pergi ke Taman Bacaan untuk mengembalikan komik-komik yang ia pinjam.  Dan firasat saya benar, nilai-nilai saya semester ini benar-benar turun, terjun bebas tanpa saya duga. Nasi sudah menjadi bubur, There’s nothing I can do selain mencoba bersyukur dan memperbaiki nya semester depan. I’m sorry Mom… I wish that I could do better.

Demi sedikit mengurangi kesedihan saya, saya pun ber-facebook ria di perpustakaan TI yang bisa internetan gratis. Berharap ada sesuatu yang membuat saya bisa tertawa . Tiba-tiba Dita menelpon, menanyakan kembali judul novel yang saya minta. “Galaksi Kinanthi, Dit”, jawab saya di telepon. Ya, itulah judul novel yang saya incar selama ini. Awalnya saya hanya tahu tentang penulis novel ini, Tasaro GK, yang pernah menulis sebuah tulisan pendek yang cukup menarik bagi saya. Lalu saya pun melacak tulisan-tulisan beliau sehingga bertemulah dengan novel Galaksi Kinanthi. Dari berbagai review di situs-situs social dan setelah membaca resensi novel ini, saya semakin penasaran. Bahkan saya sempat ingin membeli novel tersebut di Toga Mas, tapi stoknya habis. Saking penasarannya, saya pun juga mencari di Gramedia dan berhasil menemukan buku tersebut. Namun saya urung membelinya hari itu. Kapan2 saja de, begitu pikir saya. Hehehe, dasar aneh…

Dan begitu senangnya saya ketika Dita membawakan novel tersebut ke kampus Selasa itu juga. Karena tidak sabaran ingin membaca novel tersebut, saya pun segera pulang ke kosan. Kesedihan karena nilai UAS yang mengecewakan , lenyap begitu saja. Big thanks to DIta^^.

Sesampai dikosan, saya pun melalap habis novel dengan tebal 423 halaman itu. Saya benar-benar terhanyut dengan alur cerita tokoh utamanya, KInanthi. Seorang gadis desa asal Gunung Kidul yang menjadi korban trafficking. Dia dijual oleh keluarganya dengan ganti 50kg beras. Saya semakin terhanyut ketika sang tokoh utama mengalami siksaan ketika menjadi TKW di Riyadh, Kuwait hingga Amerika. Cerita pun semakin mengharu biru dengan perjuangan temen kecil Kinanthi, Ajuj, yang berusaha mencari Kinanthi hingga Bandung dan Jakarta.

Walaupun jumlah dan jenis novel yang saya baca, belum bisa dibilang banyak.  Tapi bagi saya, hanya ada dua jenis novel, yaitu novel  bagus dan novel favorit. Sebuah novel saya katakan bagus karena alur ceritanya, latar belakang penulisnya atau hikmah yang dapat saya ambil dari ceritanya. Tapi novel favorit bagi saya adalah novel yang bisa membuat saya menangis dan membuncah emosi saya karena saya bukan orang yang mudah tersentuh atau menangis karena cerita-cerita melankolis.  Dan Galaksi Kinanthi merupakan salah satu novel favorit saya karena berhasil membuat saya menangis dan terlarut dalam ceritanya. Great job, Mas Tasaro.

Membaca novel ini, membuat saya juga ingin berkelana ke Gunung Kidul yang dalam novel tersebut digambarkan begitu indah dengan pantai-pantainya. Novel ini juga penuh dengan percakapan bahasa Jawa yang sedikit banyak menambah kosakata bahasa Jawa saya. Terus terang, bahasa Jawa adalah bahasa daerah favorit saya setelah bahasa Minang, tentunya. Menyelesaikan novel ini dalam waktu kurang lebih  7 jam juga menjadi rekor tercepat dalam catatan sejarah saya dalam membaca novel. Hehehe…I can say, It is a great novel.

Jumat, 6 Nov kemaren hari yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang jg. Bukan karena hari itu ada yg special ato menggembirakan, tp karena hari itu saya akan presentasi laporan kerja praktek (KP) saya di Minas  beberapa bulan yang lalu.

Dan yg bikin tegang, saya akan presentasi di depan Pak Anas, dosen favorit saya belakangan ini. Dulu pas awal kuliah, beliau terkenal dengan disiplin dan “ketegaannya”. Tapi karena sudah sering diajar ma beliau, saya semakin kenal bahwa beliau dosen TI yg kuereeen abis.

Nah terus, ga ada alesan buat tegang kan, Nit??? Seharusnya sih gtu. Tapi…karena saya kurang yakin dengan metode pemecahan masalah KP yang saya gunakan, jadinya takut dibantai  ama ni dosen. Saya duduk di bangku dekat ruang dosen, menungu giliran untuk presentasi sambil berdoa.

Dan..waktu itupun tiba. Giliran saya…dengan bismillah saya melangkahkan kaki masuk ke ruang dosen sambil dengan laptop di tangan. Kita memang tidak presentasi dengan proyektor, cukup di depan meja kerja sang dosen saja.

Ketika saya menaruh laptop yang daritadi sudah nyala, saya melihat baterai laptop saya ampir mampus. Duh…permulaan yg tidak bagus. Sang dosen memperhatikan gelagat saya. Kenapa? tanya beliau. Lowbat pak, jawab saya. Oh, y uda colok sini aja. Colokan tersebut persis di dekat beliau duduk. Dengan tangan gemetar, saya berusaha memasang kabel charger laptop ke colokan. Duh, tangan saya ga  berhenti gemetaran, bapaknya liat ga ya?? Jeng..jeng..jeng…

Untungnya saya dipersilakan duduk di kursi di depan meja beliau. Beliau menanyakan nama dan mengambil laporan KP saya di mejanya yang penuh dengan laporan KP teman2 yg lain.

Trus beliau bertanya lagi “KP kamu dimana?”.

” Di Chevron-Minas, Pak!” jawab saya singkat.

“Oh, Chevron, sama siapa aj kamu?”

Karena pertanyaan si dosen, mulai nyantai, saya pun mulai tenang.  Saya menyebutkan dua orang nama teman saya lainnya yang juga KP di Chevron.

“Ada yang orang sana? ” beliau bertanya lagi.

“Ga ada pak, tapi saya orang Padang asli ” jawab saya.

“Udah kemana aja selama di Minas?”

“Hmmm..ke Duri, Pekanbaru….”

Belum selesai saya menjawab, bapaknya langsung menyela, “Oh, nyampai ke Duri? naek bus gratis itu?”

“Iya pak!”.

” Disana dikasi mess?”

” Iya pak!”.

” Makan di mess hall?”.

” Iya pak!”.

“Pake kupon makan itu?”

” Iya pak!”.

Jadilah presentasi KP saya, penuh dengan pertanyaan yang tidak saya sangka. Bused dah, ternyata tu dosen pernah ke Chevron jg. Beliau kemudian bertanya lagi, ” Jadi masalah KP kamu apa?”.

Saya pun menarik napas, berusaha menjelaskan dengan tenang, masalah KP yang saya hadapi. Penjadwalan multi proyek dengan multi resources. Saya baru tahu ternyata topik ini, menjadi tugas akhir mahasiswa TI angk 2005. Dan tentu saja algoritma penjadwalannnya jauh sekali dengan algoritma yang saya gunakan untuk menyelesaikan probelm KP saya. Dan saya sadar, yang saya lakukan jauh dari benar, tidak ada dasaar teori, tidak ada referensi. Metode yang saya gunakan, rule of thumb, berdasarkan logika berpikir semata. Dengan muka pasrah, saya siap diadili karena kebodohan saya, yang sok tau dan ngasal dalam memecahkan masalah KP seperti ini.

Trus, dengan nada bicaranya yang bijaksana, beliau berkata ” Topik KP kamu bagus. Ini bisa dilanjutin jd topik TA.”

“Ehhhh???”

“Gimana, tertarik buat ngelanjutin?”.

“Hmmm…gimana ya pak? soalnya ngambil datanya susah, jauh”. Sayapun berdalih.

“Oh gampanglah itu. Kan bisa lewat email. Kamu tahu ini topiknya TI banget. Kalo kamu mau ngelanjutin topik ini, kamu bakal menghemat waktu yag banyak buat ngerjain TA kamu…Kamu akan…bla bla bla.”

Si Bapak terus menasehati saya agar melanjutkan topik ini sebagai topik TA. Saya pun hanya bisa berkata, akan saya pertimbangkan, Pak. Setelah itu beliau mempersilahkan saya keluar.

Saya keluar dari ruang sang dosen dengan muka sumringah. 180 derjat berbeda dengan muka saya pas masuk..

Thanks God. You save me again and again. Saya benar2 plong, langkah kaki saya terasa ringan, dan dunia seakan ikut tersenyum..AHHHHHHH lebaaaaaaayyyy…..

Tinggal satu presentasi lagi, dengan dosen yang lain, Mr. Tota, chief of Industrial Engineering Study Program. Semangaaaaaaaaaadhhhh!!!!!!!!!

 

 

Barusan iseng baca2 blog teman..Hmm..baru sadar uda begitu lamaaaa tak menyentuh blog lagi. Blog ku sayang, maapin ya, dicuekin..hehehe^^

Trus jadi pengen nulis lagi. Satu hal yang terlintas pengen cerita tentang libu Lebaran kemaren. Lumayan ada stock poto2nya juga…Please enjoy^^

IMG_0353

Kalo inget kampung, saya jadi berpikir tentang keadaan rumah disana pasca gempa. Sekedar informasi, rumah saya tepat di jantung kota Pariaman dan kampung saya (a.k.a rumah ibu) tepat di Ombilin, Kabupaten Tanah Datar. Berdasarkan informasi dari ibu saya (yang baru bisa dihubungi, Kamis siang -satu hari sesudah gempa-), keluarga saya di Pariaman alhamdulillah, rumah pun hanya retak-retak . Begitupun keluarga di daerah lainnya di Sumbar. Alhamdulillah. Terus terang saya sempat panik, karena sejak kejadian gempa, keluarga tak satupun bisa dihubungi, sementara sms terus berdatangan menanyakan kabar keluarga saya gimana.

Malam itu, 30 Sept,Oom saya yang kebetulan di Ombilin langsung menjemput keluarga saya di Pariaman dan di Padang untuk di bawa ke Ombilin. Bayangkan saja, jarak Pariaman-Ombilin yang biasa ditempuh awaktu 2 jam, pasca gempa menjadi 15 jam. Jalan Padang Bukittingi macet total, dan mobil yang membawa keluarga saya hanya bisa beringsut seperti semut. Baru setelah ibu saya sampai di Ombilin, beliau baru dapat dihubungi. Namun diluar itu, saya bersyukur semuanya baik – baik saja.

Malangnya, teman-teman saya yang lainnya di Pariaman, mengalami nasib yang lebih parah dibanding saya. Ada yang keluarganya meninggal, rumahnya rata tanah dan saat itu teman saya tidak berada dekat keluarganya karena sudah balik ke tempat kuliah masing-masing. Sumbar yang malang. Sampai saat ini saya belum tahu pasti keadaan kota kelahiran saya bagaimana. Pariaman masih termasuk daerah yang beruntung karena jumlah korban relatif sedikit dibanding Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman.

Bencana ini benar-benar terapi iman yang luar biasa bagi masyarakat Sumatera Barat. Mungkin syarak itu mulai pudar, hingga Allah dengan caranya yang luar biasa menegur kita semua. Mungkin juga kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing hingga lupa mengingatkan saudara, teman dan keluarga kita untuk ingat kepada-Nya. Apapun itu, semoga bencana ini bisa membangunkan kita semua, menyadarkan kita atas apa yang telah kita perbuat dan memacu kita untuk menunjukkan rasa kemanusiaan pada sesama.