Posted by: alwaysanita on: November 8, 2009
Jumat, 6 Nov kemaren hari yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang jg. Bukan karena hari itu ada yg special ato menggembirakan, tp karena hari itu saya akan presentasi laporan kerja praktek (KP) saya di Minas beberapa bulan yang lalu.
Dan yg bikin tegang, saya akan presentasi di depan Pak Anas, dosen favorit saya belakangan ini. Dulu pas awal kuliah, beliau terkenal dengan disiplin dan “ketegaannya”. Tapi karena sudah sering diajar ma beliau, saya semakin kenal bahwa beliau dosen TI yg kuereeen abis.
Nah terus, ga ada alesan buat tegang kan, Nit??? Seharusnya sih gtu. Tapi…karena saya kurang yakin dengan metode pemecahan masalah KP yang saya gunakan, jadinya takut dibantai ama ni dosen. Saya duduk di bangku dekat ruang dosen, menungu giliran untuk presentasi sambil berdoa.
Dan..waktu itupun tiba. Giliran saya…dengan bismillah saya melangkahkan kaki masuk ke ruang dosen sambil dengan laptop di tangan. Kita memang tidak presentasi dengan proyektor, cukup di depan meja kerja sang dosen saja.
Ketika saya menaruh laptop yang daritadi sudah nyala, saya melihat baterai laptop saya ampir mampus. Duh…permulaan yg tidak bagus. Sang dosen memperhatikan gelagat saya. Kenapa? tanya beliau. Lowbat pak, jawab saya. Oh, y uda colok sini aja. Colokan tersebut persis di dekat beliau duduk. Dengan tangan gemetar, saya berusaha memasang kabel charger laptop ke colokan. Duh, tangan saya ga berhenti gemetaran, bapaknya liat ga ya?? Jeng..jeng..jeng…
Untungnya saya dipersilakan duduk di kursi di depan meja beliau. Beliau menanyakan nama dan mengambil laporan KP saya di mejanya yang penuh dengan laporan KP teman2 yg lain.
Trus beliau bertanya lagi “KP kamu dimana?”.
” Di Chevron-Minas, Pak!” jawab saya singkat.
“Oh, Chevron, sama siapa aj kamu?”
Karena pertanyaan si dosen, mulai nyantai, saya pun mulai tenang. Saya menyebutkan dua orang nama teman saya lainnya yang juga KP di Chevron.
“Ada yang orang sana? ” beliau bertanya lagi.
“Ga ada pak, tapi saya orang Padang asli ” jawab saya.
“Udah kemana aja selama di Minas?”
“Hmmm..ke Duri, Pekanbaru….”
Belum selesai saya menjawab, bapaknya langsung menyela, “Oh, nyampai ke Duri? naek bus gratis itu?”
“Iya pak!”.
” Disana dikasi mess?”
” Iya pak!”.
” Makan di mess hall?”.
” Iya pak!”.
“Pake kupon makan itu?”
” Iya pak!”.
Jadilah presentasi KP saya, penuh dengan pertanyaan yang tidak saya sangka. Bused dah, ternyata tu dosen pernah ke Chevron jg. Beliau kemudian bertanya lagi, ” Jadi masalah KP kamu apa?”.
Saya pun menarik napas, berusaha menjelaskan dengan tenang, masalah KP yang saya hadapi. Penjadwalan multi proyek dengan multi resources. Saya baru tahu ternyata topik ini, menjadi tugas akhir mahasiswa TI angk 2005. Dan tentu saja algoritma penjadwalannnya jauh sekali dengan algoritma yang saya gunakan untuk menyelesaikan probelm KP saya. Dan saya sadar, yang saya lakukan jauh dari benar, tidak ada dasaar teori, tidak ada referensi. Metode yang saya gunakan, rule of thumb, berdasarkan logika berpikir semata. Dengan muka pasrah, saya siap diadili karena kebodohan saya, yang sok tau dan ngasal dalam memecahkan masalah KP seperti ini.
Trus, dengan nada bicaranya yang bijaksana, beliau berkata ” Topik KP kamu bagus. Ini bisa dilanjutin jd topik TA.”
“Ehhhh???”
“Gimana, tertarik buat ngelanjutin?”.
“Hmmm…gimana ya pak? soalnya ngambil datanya susah, jauh”. Sayapun berdalih.
“Oh gampanglah itu. Kan bisa lewat email. Kamu tahu ini topiknya TI banget. Kalo kamu mau ngelanjutin topik ini, kamu bakal menghemat waktu yag banyak buat ngerjain TA kamu…Kamu akan…bla bla bla.”
Si Bapak terus menasehati saya agar melanjutkan topik ini sebagai topik TA. Saya pun hanya bisa berkata, akan saya pertimbangkan, Pak. Setelah itu beliau mempersilahkan saya keluar.
Saya keluar dari ruang sang dosen dengan muka sumringah. 180 derjat berbeda dengan muka saya pas masuk..
Thanks God. You save me again and again. Saya benar2 plong, langkah kaki saya terasa ringan, dan dunia seakan ikut tersenyum..AHHHHHHH lebaaaaaaayyyy…..
Tinggal satu presentasi lagi, dengan dosen yang lain, Mr. Tota, chief of Industrial Engineering Study Program. Semangaaaaaaaaaadhhhh!!!!!!!!!
Posted by: alwaysanita on: October 22, 2009
Barusan iseng baca2 blog teman..Hmm..baru sadar uda begitu lamaaaa tak menyentuh blog lagi. Blog ku sayang, maapin ya, dicuekin..hehehe^^
Trus jadi pengen nulis lagi. Satu hal yang terlintas pengen cerita tentang libu Lebaran kemaren. Lumayan ada stock poto2nya juga…Please enjoy^^

Kalo inget kampung, saya jadi berpikir tentang keadaan rumah disana pasca gempa. Sekedar informasi, rumah saya tepat di jantung kota Pariaman dan kampung saya (a.k.a rumah ibu) tepat di Ombilin, Kabupaten Tanah Datar. Berdasarkan informasi dari ibu saya (yang baru bisa dihubungi, Kamis siang -satu hari sesudah gempa-), keluarga saya di Pariaman alhamdulillah, rumah pun hanya retak-retak . Begitupun keluarga di daerah lainnya di Sumbar. Alhamdulillah. Terus terang saya sempat panik, karena sejak kejadian gempa, keluarga tak satupun bisa dihubungi, sementara sms terus berdatangan menanyakan kabar keluarga saya gimana.
Malam itu, 30 Sept,Oom saya yang kebetulan di Ombilin langsung menjemput keluarga saya di Pariaman dan di Padang untuk di bawa ke Ombilin. Bayangkan saja, jarak Pariaman-Ombilin yang biasa ditempuh awaktu 2 jam, pasca gempa menjadi 15 jam. Jalan Padang Bukittingi macet total, dan mobil yang membawa keluarga saya hanya bisa beringsut seperti semut. Baru setelah ibu saya sampai di Ombilin, beliau baru dapat dihubungi. Namun diluar itu, saya bersyukur semuanya baik – baik saja.
Malangnya, teman-teman saya yang lainnya di Pariaman, mengalami nasib yang lebih parah dibanding saya. Ada yang keluarganya meninggal, rumahnya rata tanah dan saat itu teman saya tidak berada dekat keluarganya karena sudah balik ke tempat kuliah masing-masing. Sumbar yang malang. Sampai saat ini saya belum tahu pasti keadaan kota kelahiran saya bagaimana. Pariaman masih termasuk daerah yang beruntung karena jumlah korban relatif sedikit dibanding Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman.
Bencana ini benar-benar terapi iman yang luar biasa bagi masyarakat Sumatera Barat. Mungkin syarak itu mulai pudar, hingga Allah dengan caranya yang luar biasa menegur kita semua. Mungkin juga kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing hingga lupa mengingatkan saudara, teman dan keluarga kita untuk ingat kepada-Nya. Apapun itu, semoga bencana ini bisa membangunkan kita semua, menyadarkan kita atas apa yang telah kita perbuat dan memacu kita untuk menunjukkan rasa kemanusiaan pada sesama.
Posted by: alwaysanita on: June 22, 2009
Sabtu, 14 Juni sekitar jam 5 sore, saya dibangunkan oleh suara Lifehouse dr HP saya. Satu nomor tak dikenal muncul di layar HP. Ketika saya angkat ternyata yang menelpon adalah Hanief, teman TI. Satu berita yang mengejutkan saya, “Nit, saya, kamu ma Audrey diterima di CHevron, tar hari Senin ambil suratnya di TU, selasa kita ke Riau”. Hehhhh???? Begitu banyak pertanyaan berdesakan di kepala saya tapi tiba-tiba telepon terputus. Sesaat saya terdiam, eh???Ini bukan mimpi kan?
Sungguh saya bingung ditelepon Hanief sore itu. Solanya saya baru saja pulang dari acara Latpim di Lembang selama seminggu ini. Pulang ke kosan, shalat Zuhur dan langsung merebahkan badan di tempat tidur. Tiba-tiba saya diberi kabar bahwa saya diterima KP di Chevron. Bingung…itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi saya saat itu.
Belum lima menit berlalu, tiba2 nomor dengan kode Jakarta muncul lg di HP saya. Ternyata, pegawai HR Chevron yang juga mengkonfirmasikan bahwa saya dan teman saya diterima KP di Chevron, Pak Elwin namanya. Masih terdiam dan bingung karena sebenarnya saya sudah diterima KP di PT. Pindad dan akan mulai KP pada tanggal 18 Juni nanti. Perasaan ga enak pun muncul karena saya dibantu oleh seorang teman untuk bisa terima KP di Pindad. Saya memasukkan KPdi Pindad karena tidak ada kabar dari 3 proposal KP yang telah saya ajukan ke beberapa perusahaan.
Pilih yang mana? Chevron ato Pindad? Rumbai ato Bandung? Minyak ato senjata? hahaha… Saya jadi bingung sendiri dan memutuskan untuk mandi saja karena sejak pulang dr Latpim saya belum bersih2 sama sekali…(Dasar malas ^^)
Setelah berdiskusi dengan teman saya , Audrey yang juga diterima di Chevron, akhirnya kami memutuskan untuk KP di Chevron dan membatalkan KP kami di Bandung. Mungkin posisi yang lebih sulit adalah karena Audrey telah menjalani KP selama seminggu di PT DI. Tapi itu semua demi PT CPI (Chevron Pacific Indonesia). Demi nama besarnya, demi ke Riau, demi bisa pulang ke Pariaman, demi pengalaman bekerja di sebuah perusahaan kelas dunia. Terkesan matre ato apapun kata orang, but A Chance doesn’t come twice…
Masalahnya adalah hari Senin, berdasarkan info dr Hanief (bukan bermaksud menyalahkan, nief ^^), kami harus ke Chevron Jakarta untuk melapor. Dan selasa harus berangkat ke Chevron Rumbai. Dan parahnya lagi kami belum tahu jadwal keberangkatan pesawat ke Rumbai pada hari Selasa. Ketika menelpon Pak Elwin, beliau selalu sibuk sehingga kami berpikir, ya uda ke Jakarta dulu saja tar juga dapat jadwal keberangkatan.
Sepertinya Allah benar-benar menguji kesungguhan saya untuk KP di Chevron, atau ini hukuman karena saya membatalkan Pindad begitu saja. Saya ketinggalan kereta jam 10.30 dan kami harus menunggu kereta jam 12.45 ke Jakarta. Saya dan teman saya, Audrey, mencoba menelpon semua travel di Bandung jika ada keberangkatan ke Jakarta yang paling cepat dan tujuannnya adalah daerah sekitar BI. Semua travel yang kami telepon, berangkat jam 1 siang. Huff…sama aja…
Akhirnya kami memilih untuk naik kereta jam 12.45 dan diperkirakan sampai di Gambir jam 16.00. Saya lalu mencoba menelepon Hanief apakah Chevron masih buka jam 5 sore. Hanief pun bilang, “Ga papa nit, masih buka KAYAKNYA, kan jam kantor mpe jam 5″. Sekali lagi, kami pun berasumsi yang sama, bisalah ya, sampai di Chevron sebelum jam 5.
Ketika masih di kereta, Hanief memberi kabar bahwa besok (Selasa) berangkat jam 5 dan ke Chevron Jakarta hanya untuk melapor saja, cuma sekitar 5 menit. Saya kaget luar biasa, serius jam 5? Gimana ini? Ke bandara (Halim) jam berapa? belum packing2 lagi… Astaghfirullah.. Ya Allah,, kepala saya pusing, yang terdengar hanya suara kereta. waktu masih sekitar sejam perjalanan, kami tak henti-hentinya berpikir, menelpon, mencari tahu cara ke Halim dini harinya. Tidak ada travel yang berangkat dini hari ke Jakarta (daerah sekitar Halim). Kami terus berpikir siapa kira-kira yang berhati malaikat akan mengantarkan kami ke Jakarta tengah malam nanti.
Setelah telepon sana sini, satu-satunya jalan adalah dengan naek bis ke Jakarta dan itu berarti kami harus ke terminal Leuwi Panjang terlebih dahulu. Ya Allah, itu kan lumayan jauh, di tengah malam??? Tapi kami tak punya pilihan lain, hanya itu satu2nya cara yang kami tahu.
Sesampai di Gambir kami langsung mencegat taksi ke kantor Chevron Jakarta. Jakarta lagi macet2nya, mungkin karena saatnya jam pulang kantor, pukul 16.20. Karena takut Chevron akan tutup, teman saya menelpon pak Elwin dan mengatakan bahwa kami sedang di jalan. Beliau pun menjawab,” Wah, kantor uda tutup, besok aja langsung ke Halim, jam 5 uda disana ya, Jangan telat. Sebenarnya kamu ga perlu ke Jakarta, kan bisa ditelpon saja, wong uda didaftarin ko pesawatnya”
Gubrakkk!!! Hah?? Ga perlu ke Jakarta? Besok jam 5 subuh? Bingung..Panik…Capek!!! Jakarta terasa sangat panas, walaupun kami sedang di dalam taxi ber-AC. Kami pun kembali ke Gambir dengan taksi yang sama, berharap bisa menaiki kereta jam 16.30 tapi sekali lagi kami ketinggalan kereta. Yang tersisa kereta jam 17.45, eksekutif, 50 ribu!!!
Teman saya lantas berkata bahwa dia mau pulang dulu ke rumahnya di Serpong untuk menjemput laptop. Dia berencana akan balik ke Bandung untuk mengambil baju dan buku. Itu artinya saya kembali ke Bandung seorang diri tapi saya pikir tak apa, toh tar malam kami akan ke Jakarta bareng.
Itulah perjalanan tersingkat saya Bdg-Jkt. Hanya antara Gambir, dalam taksi sekitar 15 menit dan kembali ke Gambir. Dalam sehari itu pula, lengkaplah pengalaman saya menaiki tiga kelas kereta api, ekonomi; bisnis; dan eksekutif. Berharap perjalanan balik ke Bdg-Jkt akan lancar, saya menikmati pemandangan sore Jakarta dari stasiun Gambir. Saat itu Monas tampak dengan gagah berdiri di tengah kota. Terbersit satu doa, Ya Allah, jika ini memang jalanku, tolong mudahkanlah….
Sekitar satu jam saya menunggu di Gambir sambil mengamati orang-orang yang menunggu di peron, kereta yang datang dan pergi, penumpang yang bergelantungan dalam kereta Express. Pemandangan tersebut begitu mirip dengan yang saya lihat di TV. Hmmm, walaupun bernilai percuma, ada hikmahnya juga saya ke Jakarta. Pemandangan stasiun ini walau baru saya lihat tapi begitu akrab di mata saya. Ah, Jakarta…aku pun mulai mengenalmu lebih dekat.
Suara dari pengeras suara di stasiun menyampaikan bahwa sebentar lagi KA Argo Gede jurusan Bandung akan sampai di Gambir. Itu kereta saya. Bandung…I’am back…
Bersambung
Recent Comments