Antara Angkot dan Ngetem

Tiba-tiba pengen nulis yang agak serius setelah saya mengalami kejadian yang tidak mengenakkan beberapa saat yang lalu di atas angkot.  Barusan saya naik angkot dari Ciwalk ke kosan, dan ada kejadian yang membuat saya miris dan merenung. Sopir angkot Caheum- Ciroyom bersiteru memperebutkan penumpang. Angkot yang saya naiki dianggap tidak antri dalam mengambil penumpang. Kebetulan ada beberapa angkot yang sedang nge-tem di Jalan Cipaganti untuk mengambil penumpang dari Ciwalk.  Si bapak-entah-siapa marah-marah terhadap sopir angkot yang saya naiki. Dengan bahasa Sunda yang sedikit-sedikit saya mengerti, si bapak memaki-maki sopir angkot tsb karena dianggap memotong antrian untuk mengambil penumpang. Si sopir angkot saya kekeuh bahwa dia tidak memotong. Dengan logat Jawanya yang kental, ia terus berusaha membela diri, membantah pernyataan si bapak Sunda yang bahkan memanggilnya goblok.

Saya dan teman saya, yang duduk di bangku paling depan (samping sopir) sempat was was juga takut terjadi pertengkaran yang lebih parah. Untungnya si sopir angkot Jawa, mau mengalah, menyuruh turun penumpangnya untuk menaiki angkot yang lebih depan dahulu. Entah siapa yang benar dan salah, dari pada terjadi yang gak- gak saya dan penumpang lainnya manut saja. Eeeehhh, uda jalan ke angkot paling depan, ternyata beberapa penumpang termasuk saya, malah tidak kebagian tempat. Jadinya malah kami kembali lagi ke angkot semula. Ufffff…

Bukan masalah bolak baliknya yang saya ributkan, cuma tiba-tiab muncul perasaan tidak enak. Kehidupan perangkotan ternyata keras juga. Saya sampai sekarang masih bertanya-tanya, berapa rata-rata pendapatan sopir angkot sehari? berapa yang harus disetor? berapa penghasilan bersihnya? Mungkin terkadang kita marah-marah, kesal karena sopir angkot ngetem. Kadang kalo saya sedang baik, saya sempat berpikir dari sisi lain, si sopir memang mungkin dari tadi belum dapat penumpang. Kalo angkotnya dengan 1 ato 2 penumpang, waktunya hanya akan habis dijalan sementara uang yang didapat pun tidak seberapa. Bahkan saya ingat cerita teman saya  bahwa ada seorang bapak yang marah-marah pada sopir angkot karena si sopir sering berhenti untuk menaiki penumpang. Si bapak mengaku sedang terburu-buru. Tapi caranya itu, kalo emang mau cepat, naik taksi sana Pak. Kayak orang ga pernah naik angkot saja.

Yap, jika kita sempat untuk berpikir dan merenung, cobalah untuk berempati pada sopir angkot. Kalo memang sedang buru-buru, dan ternyata angkot kita ngetem, dan kita tidak punya pilihan transportasi lain (baik karena masalah uang ato kondisinya memang tidak ada angkot lain yang tidak ngetem), daripada ngedumel ato pura-pura kesal dengan menghentakkan kaki ke lantai angkot mending kita sempatkan berdoa semoga si sopir segera mendapatkan tambahan penumpang. Atau hatinya tergerak untuk mulai menjalankan angkotnya dan mendapatkan penumpang lain sepanjang perjalanan.

Saya pernah mencoba beberapa kali cara ini dan berhasil. Waktu itu saya menaiki satu-satunya angkot yang lewat di subuh hari menuju stasiun. Karena penumpangnya memang baru 2 orang (termasuk saya), si sopir dengan sangat nyantainya  mengendarai si angkot dengan pelan perlahan. Saya berkali-kali lirik jam, takut ketinggalan kereta api. Sungguh bukan pada posisi saya untuk bilang, ” Pak, bisa cepatan dikit ga, takut ketinggalan kereta Pak!”. Lah, salah sendiri kenapa mepet banget berangkatnya, kenapa ga naik taksi atau ojek saja. Makanya dengan pasrah saya berdoa semoga saya tidak terlambat dan si bapak angkot dapat tambahan penumpang. Dan doa saya terkabul. Setelah menaiki satu penumpang tambahan, si sopir angkot mulai mempercepat laju angkotnya. Dan Alhamdulillah saya sampai di stasiun 5 menit sebelum keberangkatan, dan masih dapat tiket walaupun harus bayar lebih untuk tiket Eksekutif.

Dari pengalaman saya sebagai pengguna angkot aktif, tingkat ke-ngetem-an angkot di Bandung masih bisa saya tolerir dibandingkan angkot di Pariaman dan  beberapa kota lain di Sumbar. Mungkin frekuensi bolak-balik mereka atau poin-poin tempat naiknya penumpang yang sangat jarang sehingga mereka tidak mau rugi jika harus berangkat dengan jumlah penumpang yang sedikit. Apapun alasannya, saya dan siapapun yang merasa user dari angkot-angkot yang beredar, benar-benar harus melatih kesabaran dan rasa empati terhadap sopir angkot. Diakui memang, kesulitan hidup membuat orang kehilangan rasa empati dan peduli. Ngapain gue mikirin nasib lo, nasib gue aja ga jelas. Ngapain gue mikiran nasib sopir angkot, TA gue aja ga kelar-kelar ni, uang jajan lagi seret, pulsa habis, ortu cuek, teman nyebelin dan masalah-masalah lainnya yang tidak bakal kehabisan kata untuk disebutkan. Disitulah sisi humanisme kita diuji. Disaat kita sibuk dengan kehidupan kita, sempatkah untuk sebentar kita berhenti, melihat kiri dan kanan, memperhatikan orang-orang sekitar kita. Karena terkadang dengan begitu, kita masih bisa bersyukur bahwa kita masih beruntung dibanding mereka. Bahwa Tuhan masih memberi nikmat yang lebih kepada kita, dalam bentuk apapun itu. Bahwa sepahit dan sesulit apapun masalah yang kita hadapi, ada yang mengalami lebih pahit dan sulit daripada kita. Dengan begitu kita masih bisa menghargai betapa pentingnya setiap kehidupan untuk diperjuangkan.

(Bukan) Mahasiswa Lagi

Oke, pertama-tama saya ingin meminta maaf (kepada siapapun yang merasa-:P) karena sudah dua bulan lebih blog ini saya tinggal tanpa memberi kabar. Sebenarnya blog ini masih sering saya intip, kalau-kalau bisa membangkitkan mood saya untuk menulis. Tapi nyatanya, rasa malas berhasil menaklukkan saya.  Bukannya saya sok sibuk ato beneran sibuk tapi benar-benar mood saya tidak bisa diajak kompromi. Padahal saya sudah me-list hal -hal apa saja yang ingin saya tulis. Tapi rencana tinggal rencana, tanpa eksekusi (kebiasaan buruk saya).

Sesuai dengan judul postingan kali ini, resmi sejak tanggal 24 maret 2011, saya sudah bukan mahasiswa lagi. Alhamdulillah. Dan seremoni kelulusan ini pun sudah saya lalui di gedung Sabuga tanggal 9 April yang lalu. Tapi entah kenapa, bagi saya wisuda hanyalah euforia sesaat. Saya mati rasa, mungkin karena sudah terlalu sering melihat, menonton dan terlibat langsung dalam acara wisuda baik di himpunan, unit maupun langsung di Sabuga (baca: menjadi protokoler). Satu hal yang menyenangkan adalah Ibu dan adik saya berkesempatan ke Bandung untuk menyaksikan wisuda saya. Bahkan abang saya yang kebetulan sedang training di Bandung juga hadir di hari ‘bahagia’ itu. Di luar dari itu, semuanya adalah kegiatan yang melelahkan dan menghabiskan duit-:P.

Bagaimana tidak? Mengurusi syarat administrasi wisuda (tutup ini itu, bikin surat ini itu, bayar ini itu), bikin pas foto, beli bahan kebaya, jahit kebaya, cari sendal (ini permintaan Ibu, yang minta saya pake high heels–sumpah ga bakal2 lagi de-:P). Itu baru persiapan sebelum hari-H. Sore hari menjelang wisuda, ada acara syukuran di Program Studi yang seharusnya mengundang orang tua tapi karena Ibu berangkat dengan pesawat sore, akhirnya saya datang bersama abang saya. Pesawat yg ditumpangi Ibu ternyata delayed, dan baru nyampe di Bandung hampir tengah malam. Malam itu saya benar-benar tidak bisa tidur, entah kenapa ada perasaan tidak enak padahal besok seharusnya adalah hari yang berbahagia. Saya baru bisa tidur jam setengah 3 dan bangun lagi jam 4. Anehnya tanpa rasa malas dan kantuk, seolah-olah saya sudah tidur cukup. Saya pun berangkat ke Sabuga jam 7 lewat.

Selesai wisuda jam 12, kemudian menunggu giliran foto dengan rektor. Lalu mengikuti proses arak-arakan (saya pernah cerita disini) dan baru kelar  jam setengah 6 sore. Itupun saya tidak mengikuti acara lempar-lemparan balon air. Ibu, adik dan kakak saya telah pulang duluan sejak acara di Sabuga selesai. Dari semua yang melelahkan itu saya benar-benar terharu karena teman-teman  dan junior saya (dari SMA 1 Pariaman yang kuliah di Bandung) rela menunggui saya hingga arak-arakan selesai. Mereka bahkan telah datang sejak siang. Dan saya mendapat banyak bungaaaaaaa….Hahaha…That was the first time I got so many flowers-:D  Terima kasih sahabat dan adek-adek ku tersayang. You guys (and also girls-:P) definitely are my second family. I am so lucky to have you all… Bahkan pulang dari kampus pun saya di ‘arak’ oleh mereka hingga kosan padahal saya masih lengkap bertoga dan berkebaya. What a day…-:D. Seharian berteriak, malamnya suara mulai parau dan serak-serak basah terdengar seperti suara Afgan *kata teman saya*. Padahal esok hari Minggu-nya saya harus menemani Ibu belanja dan masih harus antri foto studio karena Senin paginya beliau sudah berangkat kembali ke Pariaman.

Efek satu hari wisuda itu benar-benar ‘mengesankan’ bagi saya.  Hari Senin tanggal 11 April, suara saya resmi hilang, saya seperti menjadi orang bisu (ini serius-:P). Bahkan ketika Ibu saya menelpon, beliau tidak bisa mendengar suara saya. Hari itu juga saya ke klinik BMG (Bumi Medika Ganesha) ITB, berharap bisa mendapat pengobatan secepatnya. Takut juga kalo tar  jadi beneran bisu. Serius, menjadi bisu itu sulit sekali. Ketika saya ke BMG naik angkot, saya meminta tolong – dengan bahasa bibir tanpa suara- seorang anak SMA yang kebetulan satu angkot dengan saya,  untuk meminta pak sopir berhenti. Aduh, mungkin si anak mengira saya gagu beneran. Bahkan saya masi ingat, tatapan prihatinnya melihat saya yang tidak bersuara.

Menjadi bukan mahasiswa lagi, bukan berarti kemerdekaan sejati. Sungguh, seperti kata-kata senior dan orang-orang yang telah mendahului saya, menjadi mahasiswa justru lebih banyak ‘untung’nya. Kita bisa berlindung dibalik status ‘mahasiswa’ untuk mendapatkan berbagai macam previlege dan benefit. Contoh yang paling nyata saya alami adalah ketika saya berobat ke BMG. Alasan saya ke BMG dibanding ke RS umum, tentu saja berharap mendapat pengobatan gratis. Mahasiswa ITB memang mendapatkan akses layanan kesehatan di BMG, dan hanya membayar uang administrasi yang waktu itu masih Rp 5000 sekali berobat (sekarang uda 10 ribu:P). Tapi karena saya yang bukan mahasiswa lagi, dan dianggap sbg masyarakat umum, terpaksa harus bayar adm Rp 20 ribu dan nebus obat 50 ribu. Ahhhhhhhh….duit lagiiiiiiiiii………:(((((( Kalo tau gitu, mending pas si Mba-nya nanya masih mahasiwa ato ga, saya jawab masih aja kali ya:P

Menjadi bukan mahasiswa lagi juga berarti, ketika saya harus mengisi suatu form yang meminta info tentang pekerjaan saya apa, sungguh saya tidak tahu harus mengisi apa. Harus mengisi pengangguran kah? Makanya ketika saya -karena tidak ada kerjaan- membuat paspor di kantor imigrasi Bandung saya pun menuliskan bahwa status saya adalah mahasiswa. Menjadi bukan mahasiswa lagi, juga berarti  bahwa saya tidak dapat menggunakan KTM a.k.a Kartu Tanda Mahasiswa sebagai alat untuk mendapat diskon ketika naik travel, menghadiri seminar ataupun acara-acara yang memberikan Pelajar/mahasiswa berbagai keuntungan lainnya.

Ahhh….mahasiswa beruntunglah kamu ketika masih menyandang status itu. Memang benar setiap tahap kehidupan yang (harus) kita lewati, adalah bagian hidup yang menjadikan seperti apa tahapan kehidupan kita berikutnya. Nikmatilah. Live within it to the fullest. Karena siap tidak siap, mau tidak mau, kita harus berhadapan dengan tahapan berikutnya. Dan pastinya tiap tahapan itu akan lebih sulit, lebih bermasalah dan lebih menantang makna kedewasaan yang kita punya. Goodbye college… Goodbye campus… Welcome to the real world!!!

Japan: The Way They Tell The World

Barusan baca sebuah tulisan dari mailing list himpunan. Tulisan yang ditulis oleh seorang mahasiswa Indonesia di Jepang itu bercerita tentang filosofi kehidupan di Jepang yang membuat mereka begitu perkasanya dalam menghadapi segala masalah, baik dalam konteks personal maupun kenegaraan. Filosofi ini pun terpraktekkan dengan jelas ketika Jepang dikejutkan dengan bencana Tsunami beberapa pekan yang lalu.  Mungkin banyak teman-teman yang uda baca tentang tulisan tersebut. Search aja di Google ‘Say YES to GANBAMARU!!!”, pasti dengan mudah tulisan tersebut dapat ditemui.

Setelah membaca tulisan tersebut, saya hanya bisa manggut-manggut. Tak salah dengan perkiraan saya selama ini. Saya memang bukan orang yang pernah tinggal di Jepang atau mempunyai kenalan maupun teman yang berasal dari Jepang. Saya mengenal Jepang dari sejarah negaranya. Saya mengenal orang Jepang lewat dorama-dorama, anime-anime, dan manga-nya. Dan itu semua sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mengenal budaya dan karakter orang Jepang.

Mungkin karena persepsi saya yang demikian terhadap orang Jepang dan negaranya, membuat saya merasa Jepang akan baik-baik saja setelah bencana dahsyat yang melanda negeri itu beberapa waktu yang lalu. Sungguh, tak terbersit di pikiran dan perasaan saya rasa ‘iba’ dan ‘kasihan’, karena saya tau Jepang akan baik-baik saja. Entah kenapa, bagi saya Jepang berhasil mencitrakan bahwa mereka akan bangkit dengan perkasa. We’ll be all right, begitulan kira-kira kalimat yang mereka sampaikan pada dunia. Bukan berarti mereka tidak butuh bantuan untuk kembali berbenah diri, tapi sekali lagi saya merasa teryakinkan bahwa mereka telah siap dan terlatih. Mereka akan tunjukkan pada dunia bahwa bencana ini bukanlah apa-apa. Sama halnya ketika bom nuklir meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki puluhan tahun yang lalu, bencana kali ini pun hanya akan menambah deretan catatan sejarah mengenai semangat juang  orang Jepang untuk bangkit dari keterpurukan.

Kondisi Jepang pasca bencana menurut saya sungguh tidak pantas digambarkan dalam lagu-lagu sendu dan pilu seperti tayangan lebay di salah satu stasiun TV nasional (ini stasiun emang terlebay mengabarkan-IMHO). Bahkan, menurut tulisan yang barusan saya baca, tidak ada tayangan dengan backsound lagu2 pilu  di stasiun TV di Jepang, ataupun penyebaran rekening-rekening peduli bencana. They have been ready all the time. Lihat saja, dalam beberapa bulan, Jepang akan memperlihatkan pada dunia seakan-akan bencana itu tidak pernah terjadi di negara mereka. Mental untuk keluar dari kegelapan, selalu berjuang untuk lebih baik, bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan, selalu belajar dari pengalaman, Jepang punya itu semua. Dan itu adalah modal luar biasa untuk terus maju dan maju, tak peduli berapa kali mereka jatuh dan terpuruk.

Banyak cerita dan tulisan yang saya baca, yang membuktikan bahwa karakter dan budaya orang Jepang sungguh sangat islami. Bagaimana mereka menghargai waktu dan kejujuran, continous improvement, budaya kerja  5 S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke), dan banyak lainnya. Bukannya itu semua telah kita kenal dan ketahui dengan jelas dalam Al Quran  dan Sunnah Rasul? Tapi orang Jepang dengan berhasil mempraktekkannya dan menjadikan mereka negara perkasa seperti sekarang.

Menulis ini, sebenarnya hanya ingin menceramahi diri saya sendiri. Betapa seringnya saya mengeluh, merasa Tuhan terkadang begitu tega menghujani saya dengan masalah demi masalah. Betapa begitu banyak nikmat Tuhan yang saya sia-siakan. Dan Tuhan, dengan Maha Kasih dan Penyayang-Nya selalu berhasil membuat saya tergugu, betapa kecilnya saya dan Maha Besar-Nya Dia. Begitu luar biasa Kuasa-Nya hingga ketika Dia berkehendak sesuatu terjadi maka terjadilah ia.   Semoga kisah ini, kisah Jepang dan kisah masing-masing kita di kehidupan selalu membuat kita menjadi  orang yang lebih baik, dan bisa memanfaatkan segala nikmat yang diberikan-Nya untuk sebanyak-banyak amal dan kebaikan. Amin.

* NB: O ya saya udah resmi bukan mahasiswa lagi. Alhamdulillah, Ya Allah. Thanks for everything. Will write another story about this, later.

 

Nostalgia Masa SMP

Beberapa jam yg lalu, saya menerima telpon dari sebuah nomor tak dikenal. Setelah main tebak2 an orang (jelas banget ga ada kerjaan), ternyata yg nelpon adalah teman SMP saya. Huaaa…di tengah-tengah stress TA yg tak kunjung selesai, saya senang banget ada yg nelpon, apalagi teman yg uda lama ga ketemu. Bahkan wajahnya dia aja, saya masih samar2, ups. Awalnya saya ga begitu mood menjawab pertanyaan dia, lg dimana? ngapain? uda lulus kan? hahaha pertanyaan yg sensi banget buat saya belakangan ini :P #no-offense.

Setelah ngalor ngidul nanya ini itu, tak terasa obrolan pun beralih pada masa-masa kami di SMP. SMP bagi saya bukanlah masa satu tahun atau dua tahun yang lalu. That was a long time ago, ten years ago. Hahaha… semakin menyadarkan saya bahwa saya tidak muda lagi, sudah kepala dua. Kata seorang teman, “Lah elok jadi induak urang (Sudah pantas menjadi seorang ibu)”. Seperti SMA dan SD saya dulu, SMP saya cukup dekat dari rumah. Bahkan sebelum saya pindah rumah terakhir kali,  rumah saya sangat dekat dengan SMP, tak cukup lima menit berjalan kaki.

Awal masuk SMP saya masih ingat saya sangat antusias sekali. Masuk SMP berarti jarak ke sekolah lebih dekat (lebih dekat dibandingkan sewaktu SD). Masuk SMP berarti saya bisa bangun siang karena untuk kelas 1 sekolah dimulai jam 1 siang. Masuk SMP berarti untuk pertama kalinya, setelah 6 tahun akhirnya seragam saya berubah warna : Putih biru. Masuk SMP berarti saya sudah bisa daftar les bahasa Inggris (karena bahasa Inggris baru diajarkan pas SMP). Masuk SMP berarti mempelajari pelajaran-pelajaran baru : Fisika, Biologi, Akuntansi, Ekonomi, Sejarah dan Geografi yang sewaktu SD terangkum dalam IPA dan IPS. Masuk SMP berarti ketemu teman-teman baru, guru baru, suasana sekolah yang baru dan tempat jajan yang baru. Saya benar-benar senang bisa lulus SD. Menanggalkan seragam putih merah yang sudah 6 tahun saya kenakan. Tidak lagi merasa horor di sekolah karena SD saya berlokasi di samping TPU aka Tempat Pemakaman Umum. Masih ingat dengan jelas di kepala saya : Saya begitu bahagianya bisa melanjutkan sekolah ke SMP.

Sewaktu pengumuman penerimaan siswa di SMP, saya tedaftar sebagai siswa dengan no urut 2 dari segi NEM. Kala itu NEM saya 44 koma sekian. Saya tak begitu ingat pelajaran apa saja yang di EBTANAS-kan saat itu. Yang pasti, saya cukup berbangga karena saya berada di no urut 2. No urut pertama tentu saja berasal dari SD favorit di tempat saya: SDN 29 Kampung Baru. SD ini terkenal dengan murid-muridnya yang pintar, gedung sekolah yang bagus (satu-satunya SD yang berlantai 2 di daerah saya) dan orang tua wali murid yang berekonomi “baik”. Tentu saja karena SD ini berada di kawasan yang dihuni oleh orang perantau yang rata-rata bekerja sebagai PNS, karyawan bank, TNI dan pedagang. Sebenarnya rumah saya lebih dekat dengan SD 29 dibandingkan SD saya yang sebenarnya. Tapi dengan alasan tradisi, saya juga didaftarkan oleh mama ke SD tersebut, SD 22 Lohong. Saya tinggal di desa Kampung baru dan menamatkan sekolah dasar saya di Lohong yang berbeda desa/kelurahan dengan tempat tinggal saya. Namun demikian, SD 22 masih bisa saya tempuh dengan jalan kaki.

Ahhhh…ko jadi ngomongin SD? Hmm, biarin de, sekalian nostalgia SD-;p. Hanya ingin kembali mengumpulkan mozaik kenangan yang masih tinggal di kepala saya.  Ok, mari kita kembali ke masa SMP saya. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini tidak ada lagi kelas unggul di SMP saya. O ya, namanya SMP 2 Pariaman, berlokasi di desa Kampung Baru juga. Seluruh siswa baru di acak penempatan kelasnya, dan terlemparlah saya ke kelas I-6. Hohoho….awalnya ngeri juga, masa saya di kelas I-6? kelas paling buncit no 2 setelah kelas I-7. Tapi takdir Tuhan memang luar biasa indahnya. Di kelas I-6 lah saya dipertemukan dengan orang-orang yang telah membuat kehidupan saya lebih berwarna (halah, bahasanya-;p). Bener loh. Masa SMP yang jauh jauuuuuuuuh menyenangkan dibandingkan SD. Apanya yang menyenangkan? pertama, wali kelas saya ganteng abis (menurut pandangan saya sebagai anak SMP kelas 1 saat itu). Nama beliau Maskur Hadi, mengajar Biologi. Tidak hanya wajah beliau yang enak di pandang, tulisannya pun enak dilihat dan dibaca. Tulisan yang sangat indah untuk seorang guru laki-laki. Saking stalker-nya saat itu, saya sering bersepeda hanya untuk melewati rumah Sang Guru, kebetulan tidak begitu jauh dari rumah saya.

Kedua, saya mendapatkan teman sekelas yang sangat menyenangkan. Teman yang saya maksud disini adalah teman perempuan karena penyakit saya dari SD (baca : tidak begitu menyukai teman laki2) sepertinya masih berlanjut di tahun pertama saya di SMP. Makanya saya merasa risih dan merasa terganggu jika ada teman laki-laki yang menghampiri saya, walaupun mungkin tujuannya hanya untuk menyapa. Teman sekelas saya : Pitria Hayati (Ipit), Eliza Edwar (Ija) dan Nining Hendrawan (Nining a.k.a Nining Cendawan-;p). They are the best friends ever yang pernah saya punya. Walaupun hingga kini jarang kontak2-an tapi bagi saya setiap kenangan bersama mereka begitu menyenangkan, memorable dan selalu membuat saya tersenyum jika mengingatnya. Oh, miss u all girls…

Saya duduk sebelahan dengan Ija di baris kedua dekat jendela dekat pintu kelas. Ipit dan Nining di baris pertama tepat di samping pintu kelas. jadi jika ingin keluar dari tempat duduknya, Nining kerap menggeser mejanya ke depan, karena lebih mudah lewat depan daripada harus keluar melalui sisi samping kursi tempat duduknya. hahaha…Penting ga sih, cerita yang beginian. Penting bagi saya, karena ketika menuliskan ini, kejadian itu terputar ulang di kepala saya.

Saya juga masih ingat, ketika kelas 1 SMP -perilaku egois peninggalan SD- yang saya miliki masih terlihat jelas. Cadiak buruak. hahaha… Bagaimana tidak? bayangkan saja, tiap pelajaran yang mewajibkan membawa buku Paket ke sekolah, saya tidak pernah membawanya. Alasan saya : berat!!! Hahahaha, hingga kini pun saya ketawa sendiri mengingat tingkah laku saya. Akibatnya saya selalu mengandalkan buku paket yang di bawa Ija. Walaupun dia sering menyindir saya karena tidak pernah mau membawa buku paket, tapi dia selalu mengijinkan saya berbagi buku paket dengannya. Ija, where’re  u now? Thanks for always bringing those books for me.

Ipiiiiiitt….hehe, walaupun kita satu SMA tapi semenjak terpisah dari kelas I-6, sepertinya kita jarang bersepeda bersama lagi pit. Aku jarang mengunjungi rumahmu. Kita tak janjian ke Mesjid bareng lagi. Tak lagi saling mencicipi nasi goreng buatan ibu kita. Tak lagi saling memberi hadiah ketika salah satu diantara kita berulang tahun. Tak lagi menjadi stalker Pak Maskur. Oh, miss all that time, Pit. O ya, Apa kabar Ibu? Riri?  I am so sorry Pit, bahkan ketika kakak dan Ayah-mu meninggal aku tidak begitu cukup dekat untuk mendampingimu. You have taught me about friendship, happiness and being strong. Thanks for everything, Pit. Time may changes us but there’s something that still the same. dan sesuatu itu memang ada pit(^_^). Hatimu. Senyummu. Hatimu masih seperti pertama kali aku mengenalmu di SMP, tak ada dendam, tulus dan sangat hangat. Senyummu masih manis dan menenangkan.

Nining: apa kabar dirimu? masih tinggal di Taluak (daerah di pinggir pantai Pariaman) kah? Apa kabar adek2mu? masih nakalkah? hahaha… kau masih ingat bagaimana aku, ipit, ija pagi2 menyatroni rumahmu. Yap, kami bersepeda menelusuri jalan sepanjang pinggir pantai untuk mencari rumahmu dengan bermodal sedikit petunjuk tentang lokasi rumahmu. Dan hebatnya kami menemukannya. Karena kami melihatmu keluar dari rumah. Masih terekam dikepalaku, nasi goreng buatan ibumu yang kau sajikan untuk menyambut kami. Bagaimana kita bermain di pantai di belakang rumahmu. Ah, kapan ya terakhir kali aku melihat mu Ning? masih ingatkah kamu betapa semangatnya dirimu jika yang mengajar adalah Pak Maskur, Pak Zul atau Pak Edison. Hahaha…mereka bertiga guru favoritmu kan? Guru favorit kita. Karena ketampanan mereka.  Ke-cool-an mereka. Cara mereka mengajar kita dan cara mereka memanggil nama kita. Nining, hope you’re just all right there. I am just fine here.  It will be so wonderful to have a reunion, right?

Wow….it has been a long note. Tak terasa. Padahal masih banyak yang ingin saya ceritakan. Itu pun baru kenangan di tahun pertama, belom lagi ketika saya di kelas II apalagi kelas III. Hmm…I will find the right time to write about them. Just wait. Hoaahhhmmm. It is 01.42 am already.  Still got something to do….Night everybody…

Insiden Kick Andy vs Tatty Elmir

Benar-benar berita yang cukup mengejutkan bagi saya. Awalnya saya mengetahui insiden pengusiran penonton di taping Kick Andy (KA) melalui twitter. Saya memang salah satu followernya @KickAndyShow. Saya juga salah satu fans acara Kick Andy, bahkan walaupun tidak sempat nonton di TV saya akan meluangkan waktu untuk menonton videonya di situs metro TV. Saya yakin banyak yang setuju bahwa acara KA telah menjadi semacam pencerahan di tengah berjibunnya acara-acara televisi yang tidak mendidik bahkan justru membodohi masyarakat. Tema-tema  yang diangkat di KA sedikit banyak telah menginpirasi saya dan juga jutaan penonton lainnya (yang menonton dengan hati – tagline Kick Andy). Oleh karena itu acara ini menjadi salah satu tontonan wajib bagi saya.

Hingga Jumat malam kemaren, saya cukup kaget mengenai berita yang ditulis di akun resmi KA Show. Akun tsb mengumumkan bahwa Andy F. Noya akan mengklarifikasi insiden pengusiran penonton yang terjadi pada saat taping (proses rekaman) salah satu tema yang akan diangkat di KA. Sekilas membaca berita lewat twitter tersebut, saya terus terang tidak begitu tertarik. Paling penonton yang tidak diundang, atau membuat keributan selama proses taping. Not care about it too much. Hingga barusan melalui twitter juga, KA Show memberikan link dimana Andy Noya menuliskan tanggapannya terhadap insiden pengusiran tersebut. Yang penasaran bisa baca disini.

Dalam tulisannya tersebut, Andy menyatakan bahwa seorang penonton mengakui telah diusir dalam salah satu proses. Si penonton juga melayangkan berbagai tuduhan dan kritikan terhadap acara KA dan sang host-nya sendiri, Andy F. Noya. Oh, tulisan yang begitu panjang ditulis Bung Andy di Andy’s Corner. Ada 21 poin  yang beliau sampaikan dalam tulisan tersebut. Hingga poin ke-9 saya dengan naif-nya langsung memvonis si penonton, menganggap penonton tsb kurang dewasa dan terkesan emotional. Tentunya saya membela Bung Andy, karena pembawa acara sekelas beliau pasti punya alasan kuat untuk melakukan pengusiran di depan 500-an penonton lainnya yang hadir pada saat acara taping tsb.

Namun, rasa penasaran membuat saya pengen membaca langsung blog yang ditulis oleh ‘orang yang terusir’ itu . Dan saya kaget, langsung mengucap “Astaghfirullah”, ternyata penonton terusir tersebut adalah ibu Tatty Elmir.  Anak UKM ITB pasti kenal dengan beliau. Walaupun tidak kenal secara personal dengan Bunda (begitu kami memanggil beliau – red), namun saya pertama kali bertemu Bunda di acara LKO  (Latihan Kepemimpinan dan Organisasi) yang diadakan UKM ITB. Saat itu beliau menjadi salah satu pembicara. Saya samar-samar ingat wajah dan perawakan beliau. Cara Bunda berbicara benar-benar membuat kami sebagai peserta terkesima. Dan saya juga baru tahu, kalo ternyata Ibu Tatty adalah mamanya Ni Jetsi. Ow… ini membuat saya lebih terkaget-kaget lagi.

Setelah membaca tulisan Bunda Tatty tentang pengusiran tersebut, saya merasa bersalah karena terlalu cepat menilai orang lain. Saya memaklumi alasan Bunda, terhadap kritikannya kepada Bung Andy. Saya juga sadar Bung Andy memang kerap mengeluarkan joke yang agak ‘nakal’ ketika mewawancarai narasumbernya. Dan jika memang begitu adanya seperti yang dituliskan oleh Bunda maka saya juga merasa kecewa dengan Bung Andy. Lalu karena tidak ingin  berlaku tidak adil terhadap kedua pihak *sok-sok pengen berlaku adil*, maka saya melanjutkan membaca tulisan Bung Andy hingga poin terakhir. Saya juga membaca tanggapan-tanggapan yang masuk di blog Bunda maupun di situs KA. Masing-masing pihak ada yang mendukung dan mengkritik.

Saya juga tidak bisa memutuskan siapa yang salah dan benar hingga menonton langsung versi yang akan ditayangkan di TV, karena menurut Bung Andy sendiri rekaman acara tersebut pastinya akan mengalami proses pengeditan. Hal-hal yang dianggap oleh Bunda tidak pantas untuk di-explore mungkin saja memang tidak ditayangkan. Terus terang, saya prihatin melihat dua orang yang saya kagumi, bersalah paham seperti itu. Beliau orang-orang hebat dan saya percaya keduanya memiliki itikad baik untuk kemaslahatan orang banyak. Seperti komentar salah satu penonton KA, saya harap permasalahan ini bisa dibicarakan baik-baik, bertatap muka dengan kepala dingan, hati yang jernih dan mengesampingkan ego masing-masing. Tidak kekanak-kanakan dengan saling melakukan pembelaan diri maupun tudingan melalui internet. Cukup sudah masyarakat kehilangan banyak tokoh teladan, dengan perilaku mereka yang tidak pantas. Dan sungguh saya tidak ingin memelihara rasa ‘ilfil’ ini lama-lama, baik terhadap Bunda maupun Bung Andy. Ayo Bung Andy, Ayo bunda Tatty tunjukkanlah kalian memang orang-orang yang berjiwa besar.

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.