Posted by: alwaysanita on: May 25, 2009

Sewaktu lg browsing nyari gambar buat tugas, tanpa sengaja saya menemukan gambar ini…
Kirain gambar apa, ternyata ada tulisannya. Menarik untuk dibaca ^_^ , especially for you girls…
So, How do you think????
maaf, sumbernya lupa…
Posted by: alwaysanita on: May 20, 2009
Saya cuma pengen bilang kalo saya pengen cerita…
Hufff…kirain apaan. Ya, saya cuma pengen cerita setelah sekian lama ga ngeblog lg. Mungkin alasan klasik kalo saya bilang ga sempat, banyak tugas blablabla, but that’s not a reason. Pak Budi aja yg super duper sibuk masih sempat ngeblog tiap hari apalagi diriku yg sok merasa sibuk ini >_<
Entah kenapa, semester ini terasa begitu menggila. Padahal ada yg bilang kalo semester genap di TI lebih nyantai (walopun definisi nyantai itu sebenarnya kurang pas untuk TI) but this semester is tragic. Hahaha..lebayyyy^^. Beneran loh, padahal saya cm ambil 20 sks, dan kayaknya ga terlalu sibuk di tempat lain jg.
Kuliah yg paling menggila akhir2 ini adalah Simulasi Komputer alias Simkom. Beneran deh tu kuliah, uda ga ngerti kuliahnya, yg ngajar rada horor gtu, trus tugas besarnya pun bikin sakit perut. Seumur-umur hidup di TI akhirnya saya merasakan yag namanya ga tidur sama sekali selama lebih dari 24 jam. Sesibuk apapun tugas (minumnya teh botol sosro,,iklan ^^), setidaknya masi bs tidur walo cuma 2-3 jam, ini ga tidur sama sekali dunk.
Tugas besar yg harus dikumpul Kamis, 14 Mei 2008 jam 10 teng itupun akhirnya jadi walo dengan output yg pas-pasan. Ya iyalah sistem deadliners masih berlaku dan semakin laris dari generasi ke generasi. Tapi, kerjaan kelompok saya masih bisa dikatakan mending daripada kelompok lain yang model simulasinya ga jalan. Thanks to Asek for being the master of ProModel ^^
Malam tragis itu ga bakal terlupakan, bertempat di kosan Diko, di Tubagus Ismail Indah No XX, sekumpulan anak2 TI (yg simkomnya Pak Icak) berkumpul ngerjain tugas besar. Ada beberapa orang dari kelas tetangga juga. Kami bergelut dengan laporan dan model simulasi masin-masing, tidak mengenal waktu, dingin, rasa lapar apalagi rasa kantuk. Pokonya besok sebelum jam 10 harus selesai.
Akhirnya laporan pun dikumpul, seadanya, sejadinya, hasil begadang yg sangat berkesan. But, that’s all right. Saya cuma pengen tugas ini cepat berakhir trus konsen ke UAS. Wuaaaa….. UAS apa kabar??? Tapi masih tinggal satu langkah lagi..PRESENTASI LAPORAN!!!! Langsung setelah laporan dikumpul.
Duh, gimana tuh? uda ngerjainnya pake SKS, ga ngerti bikin Promodel-nya, datanya banyak yg ngaco..
Huaaaa..Muka horor Pak Icak pun menghantui perjalanan saya dr kosan ke kampus (cuma sempat cuci muka doang, ga mandi >_<). Karena kelompok saya yang ngumpulin pertama, kami pun mendapat giliran presentasi yg pertama. Horor ga tuh?? Tp sekali lg saya mencoba tenang, ” Stay calm, nita. It will be over soon….”
Tanpa diduga dan diramalkan dengan metode Weighted Moving Average sekalipun, ternyata sodara2…Laporan kami DITOLAK!!!! Dengan gayanya yg *********, Pak Icak pun bilang ni mana daftar gambarnya, daftar tabel??? Ni referensinya mana? Klo gini ga usa masukin ke laporan, ga penting. Datanya mana? kok ga dilampirin? Modelnya mana? Laporan apa ini? Saya ga bisa dapat informasi apa2 dari laporan kamu. Ini validasinya kok cuma segini? Replikasinya kok cuma 3? Perbaiki ya.. kapan bisa kalian kumpulkan lagi?????
Stressssssssssssssssss… Harapan untuk mengakhiri Simkom pun kandas sudah. Sepertinya penderitaan ini tetap menghantui smp tgl presentasi ulang, 28 Mei. 24 Jam non stop pun rasanya ga berarti, laporan kita cuma dibolak-balok ga jelas, dianggap belum bernilai apa-apa.
Oh God…plis save me. Ngerjain lagi, berkutik dengan model2 itu lagi? Hufffffffff… Emang si dikasi kesempatan buat memperbaiki, but plis, I ‘m really get bored. Dan hingga tulisan ini saya posting, kami sekelompok belum ngumpul lagi, sibuk dengan UAS, mungkin juga masih jenuh dengan Simkom. Dan bagusnya lagi, Jumat ini UAS Simkom, dan saya benar-benar blank ttg ProModel.
Mentoring, esoknya, tgl 15 mei diisi dengan curhat2an. Simkom jd topik utama, dan jurusan lain sepertinya juga merasakan sindrom minggu sebelum UAS. Tugas menggila!!!
Dan teteh mentor saya pun mengeluarkan satu hadis yg sangat merepresentasikan kondisi kami saat itu, bahkan hingga kini…
Rasulullah bersabda : Barangsiapa yg bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya (tidak zikir) maka Allah akan menanamkan 4 penyakit: kebingungan yang tiada putusnya, kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya, kebutuhan yang tidak pernah tercukupi dan khayalan yang tidak berujung (HR Imam Thabrani)
Hmmm..that’s me. Bagaimana dengan kamu???
Posted by: alwaysanita on: March 11, 2009
Dalam rangkaian seri arus searah dari beberapa resistor, yang berperan sebagai hambatan total rangkaian adalah hambatan pengganti seri. Hambatan pengganti seri diperoleh dengan menjumlahkan tiap-tiap resistor yang terdapat dalam rangkaian seri secara aljabar biasa.
Sementara pada rangkaian arus bolak-balik komponen R dan X (rekatansi induktor atau kapasitor), yang berperan sebagai hambatan total rangkaian adalah hambatna pengganti yang disebut besaran impedansi. Impedansi rangkaian seri arus bolak balik (lambang Z) diperolah dengan menjumlahkan hambatan R dan reaktansi X secara fasor. Impedans i menjadi salah satu besaran yang perlu diperhatikan dalam memilih speker, headphone, earphone dan alat-alat elektronik lainnya. Sayangnya, pabrik sering menyalahgunakan isu impedansi dan konsumen sering salah mengerti tentang hal tersebut sehingga impedansi tidak lagi menjadi spesifikasi yang perlu diperhatikan.
Gampangnya, untuk memahami tentang impedansi, kita dapat menganalogikan dengan pipa air dan pompa air. Untuk kasus ini, kita akan mengambil contoh untuk impedansi speaker. Diameter pipa dapat dianggap sebagai impedansi dari speaker; air yang mengalir melalui pipa dianggap sebagai daya dan pompa air dianggap sebagai amplifier (receiver). Pompa memompa air melalui pipa. Diameter pipa yang besar dapat mengalirkan jumlah air yang besar. Begitupun sebaliknya, pipa yang berdiameter kecil akan mengalirkan jumlah air yang kecil pula. Dapat dikatakan bahwa, kondisi dengan impedansi rendah berarti kondisi dengan pipa berdiameter besar sehingga tidak menghalangi jumlah air yang mengalir. Sedangkan pipa berdiameter kecil hanya mengalirkan air dalam jumlah yang kecil, kondisi ini disebut dengan impedansi tinggi.
Impedansi menghalangi aliran daya dari receiver atau amplifier. Jadi seharusnya kita memilih speaker dengan impedansi yang rendah. Benarkah begitu? Sebenarnya,impedansi yang rendah memberi tekanan yang lebih besar pada ampli karena menghasilkan arus yang lebih besar. Hal ini tidak baik untuk ampli yang tidak mampu menghasilkan sejumlah arus yang dibutuhkan oleh speaker dengan impedansi rendah.
Dengan menggunakan analogi pipa air, meningkatkan diameter pipa (menurunkan impedansi) berarti meningkatkan aliran air (arus listrik) tapi menyebabkan pompa (amplifier) harus bekerja lebih keras untuk menjaga jumlah tekanan air yang dibutuhkan (tegangan listrik). Dalam kasus dimana ampli dengan kualitas rendah yang dipasang pada speaker dengan impendandi yang terlalu kecil, dapat mengakibatkan overheat atau shut down. Pada kasus yang ekstrim, receiver dapat menjadi rusak. Dengan demikian, apakah speaker dengan impedansi lebih tinggi lebih baik? Jawabannya tidak. Impedansi yang terlalu tinggi menghalangi aliran arus listrik, yang merupakan aspek penting yang dibutuhkan oleh speaker untuk menghasilkan suara yang keras.
Kebanyakan alat elektronik kelas menengah ke bawah, dan sebagian besar pemilik speaker, memiliki impedansi speaker anatar 6-8 ohm, yang menunjukkan trade-off yang baik antara arus dan tegangan. Dengan kata lain, sebagian besar ampli dan receiver dapat dipasang dengan aman dengan speker yang memiliki impedansi 6-8 ohm. Headphone dengan impedansi rendah berkisar antara 75-150 ohm. Tipe ini dapat langsung dipasang pada headphone jack dan sering ditemukan pada perlengkapann rekaman. Impedansi tinggi berkisar sekitar 600 ohm, banyak digunakan pada instalasi studio dimana banyak unit yang diapsang secar paralel untuk studio monitoring. Dengan demikian, headphone dengan impedansi rendah akan menghasilkan suara yang lebih rendah jika dipasang pada alat yang bertegangan rendah seperti portable CD players, dsb.Pada kenyataanya, karena keterbatasan daya pada portable players, headphone untuk protabel sebaiknya memiliki impedansi maksimum sebesar 64 ohm.
Untuk earphone, impedansi yang banyak dipilih adalah sekitar 6 ohm. Besaran ini harus disesuaikan dengan peralatan yang mengeluarkan suaranya, untuk memastikan bahwa power suara yang dialirkan ke earphone akan optimum. Biasanya earphone dengan impedansi rendah (misalnya < 100 ohm) direkomendasikan untuk mobile player dan PC sound card. Sedangkan earphone dengan impedansi lebih tinggi, cocok digunakan untuk peralatan hi-fi rumah, amplifier, dan peralatan professional lainnya. Untuk headphone yang dipasang paralel maka daya yang dihasilkan akan lebih besar dibanding jika hanya memasang satu pasang headphone saja. Sedangkan untuk dua pasang headphone yang dipasang seri, maka daya yang dihasilkan akan lebih besar. Prinsipnya mirip dengan penggunaan hambatan total pada rangkaian seri dan paralel pada resistor. Secara matematis , impedansi total untuk headphone yang dipasang paralel
Untuk headphone yang dipasang seri maka impendansi totalnya adalah
Dimana Z1 = impedansi headphone 1; Z2 = impedansi headphone 2. Seperti yang kita ketahui rumus daya adalah :
Jika kita menganti R dengan Z (impedansi) maka rumus daya menjadi :
Misalnya untuk headphone yang berimpedansi 64 ohm, maka total impedansinya jika di paralel adalah 32 ohm sedangkan jika dipasang seri akan menghasilkan impedansi 128 ohm. Misalkan tegangan yang digunakan 220 volt maka P1 adalah daya satu pasang headphone, P2 adalah daya untuk headphone yang dipasang paralel dan P3 adalah daya untuk headphone yang dipasang seri. Dari perhitungan rumus diperoleh P1 = 756,25 watt, P2 = 1512,5 watt dan P3 =378,125 watt.
Dari berbagai sumber.
Recent Comments