TERSESAT DI ISTIQLAL#1

Jumat, 14 Juni, saya sedang berada di Jakarta sebagai salah satu panitia IEC 3 (Innovative Enterpreneurship Challenge). Acara Temu Bisnis yang merupakan puncak dari serangkaian acara IEC diadakan di salah satu hotel terkenal di Jakarta. Jika siang itu, saya tidak melongok melalui jendela kaca dari lantai 19, saya tentu tidak akan ngeh kalau ternyata hotel tempat acara berlangsung sangatlah dekat dengan Mesjid Istiqlal, yang berarti juga dekat dengan Gereja Katedral.Terlintas di memori saya, salah satu pertanyaan pada kuis Who Wants to be A Millionaire yang menanyakan

nama jalan antara Mesjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Nama jalan tersebut Jalan Katedral. Hmhm ..melihat Jakarta khususnya kedua bangunan tersebut dari ketinggian benar-benar menakjubkan. Bagi orang yang jarang main-main ke Jakarta seperti saya (ke Jakarta cuma buat ke Cengkareng), tentu melihat gedung-gedung yang sering ditayangkan di televisi sedikit banyak membuat saya bangga dan terkagum-kagum.

Saat itu, timbul ide yang sedikit gila(menurut teman saya). Saya dengan spontan mengajak salah satu teman untuk shalat Ashar di Mesjid Istiqlal. Lalu teman saya langsung nyeletuk, ‘’Emang itu ga kejauhan ya?. Dengan sok tau saya menjawab, ‘’ Kalu dilihat dari ketinggian segini, itu lumayan dekat loh..”. Teman saya manggut-manggut dan lantas menjawab ,” Boleh…’. Saya agak terkejut karena terus terang saya sendiri kurang yakin dengan ide saya tersebut. Namun, karena saya tidak tahan dengan rasa penasaran, akhirnya saya membulatkan tekad menempuh mesjid Istiqlal dari hotel dengan berjalan kaki. Lagi pula, saya pikir setidaknya selain menjalankan tugas saya sebagai panitia, kedatangan saya ke Jakarta dapat menambah list tempat-tempat yang pernah saya kunjungi di Indonesia. Lumayan buat cerita ke orang-orang hehehe…

Dengan curi-curi kesempatan di tengah-tengah persiapan panitia untuk acara Temu Bisnis malamnya, saya dan teman saya berjalan kaki menyusuri Jakarta sore itu untuk shalat Ashar di Istiqlal, yang konon katanya mesjid terbesar di Indonesia (benar ga sih…?). Untungnya cuaca Jakarta sore itu agak mendung, jadi kami pun dengan bersemangat melangkahkan kaki untuk sampai di Istiqlal.

Lokasi mesjid tersebut ternyata memang tidak terlalu jauh, hanya berjarak satu blok atau sekitar 600 meter dari hotel kami. Namun, jarak tersebut hanya baru sampai di gerbang samping mesjid Istiqlal yang sayangnya ternyata tidak dibuka. Kami harus mengitari kawasan mesjid yang lumayan jauh untuk sampai di gerbang depannya. Wah..aku cukup terkejut, karena jarak dari gerbang ke bangunan mesjid pun ternyata cukup jauh. Aku pun langsung berkeluh, “Kayaknya mesjid ini bukan untuk orang-orang yang berjalan kaki seperti kita ya..”. Teman ku pun mendukung, “ Ya ni,,cuma buat kalangan menengah ke atas…”. Kami pun tertawa.

Pertama kali memasuki banguanan mesjid, kami menemui tangga yang menurut pikiran saya saat itu menuju ke ruang utama mesjid (tempat shalat). Saya sedikit bingung karena yang kelihatan cuma kaum laki-laki. Saya khawatir kalau ternyata kami memasuki kawasan khusus ikhwan sepertinya halnya di mesjid Salman ITB, bagian kiri merupakan kawasan ikhwan dan kanannya kawasan akhwat. Kami sedikit lega karena tidak ada yang menegur, berarti kawasan ini bebas dilalui siapa saja. Kami menyusuri ruangan di bawah tangga untuk mencari tempat berwudhu. Dari sinilah, perjalanan kami mengelilingi kawasan Istiqlal dimulai. Inilah mulanya kami tersesat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s