KP#01 Perjalanan Tersingkat

Sabtu, 14 Juni sekitar jam 5 sore, saya dibangunkan oleh suara Lifehouse dr HP saya. Satu nomor tak dikenal muncul di layar HP.  Ketika saya angkat ternyata yang menelpon adalah Hanief, teman TI. Satu berita yang mengejutkan saya, “Nit, saya, kamu ma Audrey diterima di CHevron, tar hari Senin ambil suratnya di TU, selasa kita ke Riau”. Hehhhh???? Begitu banyak pertanyaan berdesakan di kepala saya tapi tiba-tiba telepon terputus. Sesaat saya terdiam, eh???Ini bukan mimpi kan?

Sungguh saya bingung ditelepon Hanief  sore itu. Solanya saya baru saja pulang dari acara Latpim di Lembang selama seminggu ini. Pulang ke kosan, shalat Zuhur dan langsung merebahkan badan di tempat tidur. Tiba-tiba saya diberi kabar bahwa saya diterima KP di Chevron. Bingung…itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi saya saat itu.

Belum lima menit berlalu, tiba2 nomor  dengan  kode Jakarta muncul lg di HP saya. Ternyata, pegawai HR Chevron yang juga mengkonfirmasikan bahwa saya dan teman saya diterima KP di Chevron, Pak Elwin namanya. Masih terdiam dan bingung karena sebenarnya saya sudah diterima KP di PT. Pindad dan akan mulai KP pada tanggal 18 Juni nanti. Perasaan ga enak pun muncul karena saya dibantu oleh seorang teman untuk bisa terima KP di Pindad. Saya memasukkan KPdi Pindad karena tidak ada kabar dari 3 proposal KP yang telah saya ajukan ke beberapa perusahaan.

Pilih yang mana? Chevron ato Pindad? Rumbai ato Bandung? Minyak ato senjata?  hahaha… Saya jadi bingung sendiri dan memutuskan untuk mandi saja karena sejak pulang dr Latpim saya belum  bersih2 sama sekali…(Dasar malas ^^)

Setelah berdiskusi dengan teman saya , Audrey yang juga diterima di Chevron, akhirnya kami memutuskan untuk KP di Chevron dan membatalkan KP kami di Bandung. Mungkin posisi yang lebih sulit adalah karena Audrey telah menjalani KP selama seminggu di PT DI. Tapi itu semua demi PT CPI (Chevron Pacific Indonesia). Demi nama besarnya, demi ke Riau, demi bisa pulang ke Pariaman, demi pengalaman bekerja di sebuah perusahaan kelas dunia.  Terkesan matre ato apapun kata orang,  but A  Chance doesn’t come twice…

Masalahnya adalah hari Senin, berdasarkan info dr Hanief (bukan bermaksud menyalahkan, nief ^^), kami harus ke Chevron  Jakarta untuk melapor. Dan selasa harus berangkat ke Chevron Rumbai.  Dan parahnya lagi kami belum tahu jadwal keberangkatan pesawat ke Rumbai pada hari Selasa. Ketika menelpon Pak Elwin, beliau selalu sibuk sehingga kami berpikir, ya uda ke Jakarta dulu saja tar juga dapat jadwal  keberangkatan.

Sepertinya Allah benar-benar menguji kesungguhan saya untuk KP di Chevron, atau ini hukuman karena saya membatalkan Pindad begitu saja. Saya ketinggalan kereta jam 10.30 dan kami harus menunggu kereta jam 12.45 ke Jakarta. Saya dan teman saya, Audrey, mencoba menelpon semua travel di Bandung jika ada keberangkatan ke Jakarta yang paling cepat dan tujuannnya adalah daerah sekitar BI. Semua travel yang kami telepon, berangkat jam 1 siang. Huff…sama aja…

Akhirnya kami memilih untuk naik kereta jam 12.45 dan diperkirakan sampai di Gambir jam 16.00.  Saya lalu mencoba menelepon Hanief apakah Chevron masih buka jam 5 sore. Hanief pun bilang, “Ga papa nit, masih buka KAYAKNYA, kan jam kantor mpe jam 5″. Sekali lagi, kami pun berasumsi yang sama, bisalah ya, sampai di Chevron sebelum jam 5.

Ketika masih di kereta, Hanief memberi kabar bahwa besok (Selasa) berangkat jam 5 dan ke Chevron Jakarta hanya untuk melapor saja, cuma sekitar 5 menit.  Saya kaget luar biasa, serius jam 5? Gimana ini? Ke bandara (Halim) jam berapa? belum packing2 lagi… Astaghfirullah.. Ya Allah,, kepala saya pusing, yang terdengar hanya suara kereta. waktu masih sekitar sejam perjalanan, kami tak henti-hentinya berpikir, menelpon, mencari tahu cara ke Halim dini harinya. Tidak ada travel yang berangkat dini hari ke Jakarta (daerah sekitar Halim). Kami terus berpikir siapa kira-kira yang berhati malaikat akan mengantarkan kami ke Jakarta tengah malam nanti.

Setelah telepon sana sini, satu-satunya jalan adalah dengan naek bis ke Jakarta dan itu berarti kami harus ke terminal Leuwi Panjang terlebih dahulu.  Ya Allah, itu kan lumayan jauh, di tengah malam??? Tapi kami tak punya pilihan lain, hanya itu satu2nya cara yang kami tahu.

Sesampai di Gambir kami langsung mencegat taksi ke kantor Chevron Jakarta. Jakarta lagi macet2nya, mungkin karena saatnya jam pulang kantor, pukul 16.20. Karena takut Chevron akan tutup, teman saya menelpon pak Elwin dan mengatakan bahwa kami sedang di jalan. Beliau pun menjawab,” Wah, kantor uda tutup, besok aja langsung ke Halim, jam 5 uda disana ya, Jangan telat. Sebenarnya kamu ga perlu ke Jakarta, kan bisa ditelpon saja, wong uda didaftarin ko pesawatnya”

Gubrakkk!!! Hah?? Ga perlu ke Jakarta? Besok jam 5 subuh? Bingung..Panik…Capek!!! Jakarta terasa sangat panas, walaupun kami sedang di dalam taxi ber-AC. Kami pun kembali ke Gambir dengan taksi yang sama, berharap bisa menaiki kereta jam 16.30 tapi sekali lagi kami ketinggalan kereta. Yang tersisa kereta jam 17.45, eksekutif, 50 ribu!!!

Teman saya lantas berkata bahwa dia mau pulang dulu ke rumahnya di Serpong untuk menjemput laptop. Dia berencana akan balik ke Bandung untuk mengambil baju dan buku. Itu artinya saya kembali ke Bandung seorang diri tapi saya pikir tak apa, toh tar malam kami akan ke Jakarta bareng.

Itulah perjalanan tersingkat saya Bdg-Jkt. Hanya antara Gambir, dalam taksi sekitar 15 menit dan kembali ke Gambir. Dalam sehari itu pula, lengkaplah pengalaman saya menaiki tiga kelas kereta api, ekonomi; bisnis; dan eksekutif. Berharap perjalanan balik ke Bdg-Jkt akan lancar, saya menikmati pemandangan sore Jakarta dari stasiun Gambir. Saat itu Monas tampak dengan gagah berdiri di tengah kota. Terbersit satu doa, Ya Allah, jika ini memang jalanku, tolong mudahkanlah….

Sekitar satu jam saya menunggu di Gambir sambil mengamati orang-orang yang menunggu di peron, kereta yang datang dan pergi, penumpang yang bergelantungan dalam kereta Express.  Pemandangan tersebut begitu mirip dengan yang saya lihat di TV. Hmmm, walaupun bernilai percuma, ada hikmahnya juga saya ke Jakarta. Pemandangan stasiun ini walau baru saya lihat tapi begitu akrab di mata saya. Ah, Jakarta…aku pun mulai mengenalmu lebih dekat.

Suara dari pengeras suara di stasiun menyampaikan bahwa sebentar lagi KA Argo Gede jurusan Bandung akan sampai di Gambir. Itu kereta saya. Bandung…I’am back…

Bersambung

Advertisements

9 thoughts on “KP#01 Perjalanan Tersingkat

  1. alwaysanita says:

    langsung kirim surat pengantar ma proposal aj kesana…
    bagusnya didatengin langsung si..tar bagian administrasi ngejelasin prosedurnya…
    Gud luck ya…

  2. Affan says:

    Wah parah, kamu mengecewakan PT PINDAD. Seharusny km ambl d pindad soalny pindad dluan lah yg memutskan kp km d trima. Demi chevron kah? Dasar tidak teguh pendirian. Lagian kan tidak bleh mengajukan kp d bnyak tmpat sblum ada kptsan d trima ato d tolak.Ksian tmen2 lain yg tdk dpt tmpat kp. Kalo aq pikir km tipe orng sdikit srakah. Sory ya sblumnya.

  3. extri says:

    mbak, mohon informasi nya.. saya beberapa bulan lalu memasukkan proposal ke chevron, namun sampai H-6, belum ada konfirmasi. bolehkah saya minta info nomor pak elwin untuk memastikan konfirmasi KP saya.. dimohon dengan sangat mbak.. terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s