Gigit Jari, Abis nonton Final Thomas Cup 2010

Final Thomas Cup memang sudah berlalu dan Indonesia harus menelan kekalahan atas China. Saya pribadi merasa sedih dan kecewa karena tim Thomas Indonesia gagal memboyong pulang piala Thomas yang sejak tahun 2004 dikuasai oleh China.  Saya memang bukan pakar bulutangkis, maen bulutangkis aja terkahir keknya pas SMP, tapi sebagai rakyat Indonesia saya benar-benar berduka. Bulutangkis Indonesia telah kehilangan masa jayanya. Padahal, menurut saya hanya cabang olahraga ini yang bisa membuat bangsa lain di dunia mengakui eksistensi Indonesia di kancah internasional. Prestasi atlet bulutangkis Indonesia setidaknya menjadi secercah cahaya dibalik kelamnya profil bangsa ini di mata dunia. Dengan bulutangkis, lagu Indonesia raya bisa berkumandang di dunia internasional dengan gagahnya. Benar-benar suatu kebanggaan yang luar biasa karena mengingat tidak banyak yang  bisa dibanggakan dari bangsa yang dilanda multi krisis ini.

Bukan saya tidak bangga dengan Indonesia. Atau merasa malu menyandang kewarganegaraan Indonesia. Absolutely not.  I’m proud being Indonesian. Tapi saya benar-benar miris karena bangsa yang besar ini tidak dapat menghargai prestasi anak-anaknya yang membawa harum nama Indonesia di dunia internasional. Bahkan sang anak akhirnya harus mengadu ke negara lain, untuk dapat diakui dan dihargai pantas sesuai dengan kompetensi dan kapabilitasnya. Tidak hanya di bidang olahraga, kita pun bisa berkaca pada anak-anak jenius Indonesia yang memenangkan berbagai kompetisi keilmuan di kancah dunia. Mereka justru mendapat penghargaan yang lebih dari dunia luar, dibanding negeri sendiri sehingga mereka lebih memilih membaktikan ilmu mereka di negeri orang, demi kemajuan negeri orang tersebut. Karena Indonesia memang tidak peduli, atau (seperti kata salah satu dosen saya) kondisi Indonesia yang membuat orang-orang seperti mereka tidak akan terpakai melainkan hanya menjadi korban politik.

Kembali pada cerita tim Thomas Indonesia. Lucunya lagi, setelah kekalahan demi kekalahan bertubi-tubi Indonesia seakan tak pernah sadarkan diri. Semua seakan sembunyi di balik kata-kata,”kita sudah berusaha maksimal, lawan memang lebih tangguh”. Itu bukan alasan yang pertama, namun untuk kesekian kalinya. Alasan inilah yang membuat kita malas untuk berubah. Seakan merasa cukup hanya dengan berusaha maksimal. Kalau saya bilang, Indonesia terlalu cepat puas, puas dengan apa yang disebut dengan maksimal. Menurut saya perjuangan Indonesia belumlah maksimal karena tidak ada perubahan dari yang lalu. Kesalahan dan isu yang sama masih mucul setiap tahunnya. Regenerasi lah. Jaminan kesejahteraan pemain lah. Organisasi yang tidak berbenah diri lah. Masalah klasik yang seakan tidak ada solusinya.

Hahahaha…mungkin bukan kapasitas saya untuk mengomel seperti ini. Soalnya kesal banget abis nonton ‘Apa Kabar Indonesia malam’. Kebetulan malam ini, menghadirkan Simon Santoso, Nova Widiyanto dan Menpora Andi Mallarangeng. Kesal melihat sang MenPora cengar-cengir tak jelas seolah-olah happy2 saja menerima kekalahan Indonesia. Mau pamer senyum bang? Ato dalam rangka kampanye kali ya? Beliau bilang harus berbenah dan berbenah. Dari tahun ke tahun, bahkan sudah berganti pemimpin, itu saja jawabannya ketika ditanyakan apa yang harus dilakukan agar bulutangkis Indonesia kembali jaya seperti dulu. Bosan dan sangat basi sekali. Kita butuh tindakan nyata. Ketika negara lain telah melaju dengan cepat, kita masih sibuk berputar-berputar dengan masalah yang sama. How poor we are (>_<).

Ayolah Indonesia. Saya benar-benar merindukan kembali masa-masa itu, ketika rasa haru dan bangga melihat dan mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan di depan jutaan masyarakat dunia. Ketika Sang Merah Putih dengan gagahnya digerek dengan posisi yang lebih tinggi dibandingkan  bendera bangsa lain. Sebuah kebanggaan yang benar-benar mengguncang nasionalisme kita. Mungkin saya tidak bisa berbuat banyak untuk kejayaan bulutangkis Indonesia. Ini hanya curhatan seorang anak bangsa yang merasa kecewa. Tidak bermaksud mencela atau memojokkan pihak tertentu. Beberapa minggu lagi mungkin juga saya sudah lupa dan menertawakan diri sendiri, mengingat begitu nasionalisnya saya ternyata. Hohohoho…But, for this night, I just want to say :  Hai Indonesia, dengarkan curhatku (^_<).

One thought on “Gigit Jari, Abis nonton Final Thomas Cup 2010

  1. tyas says:

    harusnya memang atlet tuh dilatih dari kecil kaya di china, yg dilatih jg bukan olahraga doang, tp juga kasih pendidikan yg layak biar ada bekal lain buat kerja,
    jadinya ketika ada org yg pingin aktif di olahraga ga perlu khawatir gimana pendidikannya, secara porsi latihan atlet pasti ngabisin jatah belajar
    penghargaan juga harus diperhatiin biar masa tua atlet ga terombang-ambing, contoh liatlah elias pical (bner ga ya?) pas jadi atlet dulu dipuja, skrg? dilupakan iya keknya, miris
    btw, saya banyak omong ya? 😀
    nonton thomas final pas ganda markis kido-hendra setiawan, ketiduran, trus bangun2 pas detik2 kekalahan simon, heuuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s