Review : Muhammad, Lelaki Penggengam Hujan

Pertama kali lihat novel ini di toko buku Toga Mas Balubur. Sebuah karya terbaru dari seorang Tasaro GK, salah satu penulis favorit saya. Novel Tasaro yang telah saya baca sebelumnya adalah galaksi Kinanthi. Novel yang bagi saya membuktikan bahwa Tasaro adalah sang pemain kata sejati. Begitu lincah merangkai kata dan meramunya menjadi kalimat-kalimat yang sangat indah dan bermakna dalam.

Novel Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan (MLPH) agak berbeda dengan novel-novel Tasaro lainnya. Ini sebuah novel biografi tentang Manusia Sepanjang Jaman, Muhammad SAW. Selain karena saya ngefans dengan Mas Tasaro, saya pun penasaran bagaimana jika kisah Rasul diceritakan dalam bentuk novel. Novel setebal 500-an halaman itu begitu menggoda untuk dibaca. Lagi-lagi masalah kantong menghalangi saya untuk membeli novel tersebut karena ada kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Tapi yang namanya jodoh (jodoh saya untuk membaca novel ini :D) ga bakal lari kemana. Tersiarlah kabar bahwa seorang teman saya telah memiliki novel ini. Dan saya haqqul yaqin kalau dia akan dengan senang hati meminjamkannya pada saya (weeeeeekkkk:P). Dan nyatalah keyakinan saya, seseorang yang namanya tak mau disebut (karena takut novelnya ikut dipinjam orang lain..hahahaha, maaf bagi yang merasa :P) rela meminjamkan novel barunya itu pada saya. Padahal dia sendiri belum membacanya. Thank you so much, Mr. AP (^_^).

Back to the track. Membaca bab pertama novel ini, sedikit membingungkan dan bahasa yang digunakan begitu melangit. Saya tidak yakin akan melanjutkan untuk membaca. Namun, karena lagi stress oleh sesuatu yang lain dan saya butuh sesuatu untuk dibaca, makanya dengan setengah hati saya lanjutkan membaca novel ini. Barulah saya menemukan seorang Tasaro di dalamnya. Saya mengenali gaya penuturannya yang khas dan sedikit puitis.

Bagi saya, novel ini seperti sebuah fragmen-fragmen surat cinta untuk Nabi Muhammad. Tasaro menyebut beliau dengan berbagai panggilan mesra  yang membuat hati saya tergetar. Lelaki yang Lembut Tutur Katanya, Pembawa Kabar Gembira, Tuan yang Berhalus Rasa, yang Bijak Simpulannya, Lelaki Penyeka Lara, Lelaki yang Terjaga dari Dosa dan berbagai panggilan mulia lainnya. Saya semakin mengenal sosok Muhammad lewat novel ini. Saya diajak bertualang pada zaman Perang Uhud, Perang Parit, zaman Perjanjian Hudaibiyah dan berakhir pada penaklukan Mekah. Benar-benar tersadar begitu besar perjuangan Muhammad menyampaikan ayat-ayat Allah SWT.

Lewat novel ini pula saya semakin terpana dengan keagungan budi pekerti Rasullullah. Manusia mulia yang kelahirannya diberitakan di seluruh kitab suci agama-agama di dunia saat itu. Tasaro begitu detail mengisahkan betapa mulianya Muhammad SAW. Dan penggalan berikut adalah salah satu buktinya  (yang juga menjadi bagian favorit saya dalam novel ini):

Renta, buta, pengemis dan dia seorang Yahudi. Lelaki tua itu mendudukkan badan ringkihnya seperti kain usang yang teronggok. Kepala bergerak-gerak, telinga menjadi matanya. Seperti kemarin, jarang yang menghampirinya dan melemparkan sejumlah receh untuknya menyambung hidup. Dia menunggu seseorang yang setiap pagi menjadi yang pertama mendatanginya. Pengemis tua itu yakin, pagi ini pun tidak akan ada yang berubah.

Dia datang. Dia datang. Pengemis itu mengenali langkah seseorang yang ajek mendatanginya setiap pagi. Dia bersiap untuk mengulangi mantra yang dia rapal setiap hari, setiap kali ada orang yang menghampirinya dan memberi keping receh untuk menyambung napasnya.

“Janganlah engkau mendekati Muhammad karena dia orang gila, pembohong dan tukang sihir! Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya.”

Dimulai. Ini pengulangan setiap hari. Rutinitas yang tidak pernah terganti. Seseorang itu akan menyuapkan makanan lunak kepada pengemis renta dengan mulutnya sendiri. Perlahan dan penuh kelembutan. Seperti induk burung yang menyuapi anaknya melalui paruhnya. Makanan selembut apapun akan sulit sikunyah oleh pengemis renta itu. Apa yang dilakukan seseorang yang senantiasa setiap pagi sama saja dengan surga.

Dia tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya mengangakan mulutnya, makanan yang halus siap telan telah berpindah ke rongga mulutnya. Orang itu mengunyahkan makanan untuk dia dengan mulutnya sendiri. Perlahan-lahan sampai tandas seluruh makanan yang ia bawa.

“Janganlah engkau mendekati Muhammad,” si tua itu mengulangi kalimatnya. Seolah dia mendapat layanan ekstra dari orang tak dikenalnya itu karena kalimat-kalimat yang ia ucapkan, “ Jangan…karena dia orang gila, pembohong, dan tukang sihir! Jika engkau mendekatinya engkau akan dipengaruhinya.”

Orang itu tersenyum. Tidak bersuara. Dia bangkit perlahan setelah memastikan si tua selesai dengan makanannya. Lelaki itu bangkit lalu menderap meninggalkan si pengemis. Langkahnya tegap dan terukur. Ritmis dan berpendar wibawa. Lelaki itu … dirimu, wahai Muhammad Al-Mustafa.

Masih banyak kisah-kisah perjuangan Muhammad dan sahabat beliau yang dikisahkan dengan sangat indah dalam novel ini. Betapa para sahabat begitu mencintai Rasul, hingga merelakan apapun, jiwa dan raga, untuk Sang Junjungan Umat. Benar-benar membuat saya tergugu. Jika saya menjadi salah satu umat yang hidup di jaman Rasul, akankah saya seperti para sahabat yang meyakini setiap perkataan yang Beliau sampaikan atau justru menjadi salah satu pengikut Abu Sufyan yang menganggap Beliau adalah pembual dan menjadikanmu musuh yang harus dimusnahkan.

Sebenarnya kisah hidup dan perjuangan Rasulullah dalam novel ini merupakan bagian dari kisah perjalanan seorang pemuda bernama Kashva. Pemuda Persia yang rela meninggalkan Kuil tempat ia belajar, dikejar-kejar tentara Khosrou (Raja Persia), demi menemukan Lelaki Penggenggam Hujan : Muhammad SAW. Petualangan Kashva sendiri diwarnai dengan berbagai kisah yang  membuat saya semakin tak sabar untuk membalik halaman berikutnya, menemukan penjelasan atas berbagai peristiwa dalam kehidupan Kashva.

Lalu kenapa Muhammad SAW, disebut Lelaki Penggengam Hujan? Tentunya Anda akan menemukan jawabannya dalam novel ini. Makanya buruan baca:p

One thought on “Review : Muhammad, Lelaki Penggengam Hujan

  1. naraku says:

    asw. bener banget.. keren euyyyy… belom selese baca buku ni.. saya juga maulangsung bikin review nya jugaaa… hohohhoooo ga sabar juga kasih tau orang2 buat baca novel ini ,, pas bgt juga nii lagi Maulid.. brasa lagi ngobrol dengan Beliau..

    salah satu cerita menegenai beliau saya juga suka yang bagian itu.. Subhanalloh yaa,, suri tauladan sekaleee….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s