Menjaga Tepian Tanah Air, Menjaga Pulau Terdepan Nusantara

Sebenarnya rada malas untuk nugas protokoler hari senin, 25 Okt kemaren, soalnya jumat-sabtu lalu juga ikutan nugas buat wisudaan. Tapi karena saya sedang malas juga untuk mengerjakan hal lainnya, jadilah saya ikut-ikutan nugas buat acara tersebut. Lumayan bisa mejeng2 bareng teman-teman. Awalnya saya pikir cuma acara lokakarya yang berlangsung sehari doank. Ops, ternyata pas dateng ke CC timur, ada pameran foto juga dan lokakarya-nya selama 4 hari alias ampe hari Kamis.

Acara yang dibuka langsung oleh rektor ITB tersebut, merupakan bentuk partisipasi ITB dalam mendukung upaya Garis Depan Nusantara dalam menjaga pulau-pulau terdepan Indonesia.

Ketika pertama kali membaca tema acaranya : “Menjaga tepian tanah air”, saya cukup berpikir lama tepian tanah air apaan sih? bahasanya ambigu banget. Dari foto2 yang dipajang, saya baru mengerti tepian tanah air adalah pulau-pulau terdepan Indonesia.

Lantas kenapa disebut sebagai pulau terdepan? Penggunaan kata-kata yang tidak umum, menurut saya.  Jadi, ada pendapat dari seorang pakar lingkungan yang menyatakan bahwa seharusnya kita merubah persepsi tentang pulau-pulau terluar Indonesia. Kenapa pulau2 tersebut  jauh dari peradaban, tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah dan tertinggal dalam segala aspek pembangunan? Ya, karena selalu dicap sebagai pulau terluar dan terpencil. Padalah sebenarnya pulau2 itulah yang menjadi garda depan wilayah kita, NKRI. Pulau-pulau tersebut lah yang menjadi halaman rumah kita, bangsa Indonesia.

Yap, saya setuju sekali. Rasanya tidak adil jika menyebut pulau2 tersebut sebagai pulau terluar. Sebutan tersebut semakin memposisikan mereka sebagai anak tiri bangsa ini. Anak tiri yang sengsara dan terabaikan.

Rasa nasionalisme saya seakan dipertanyakan kembali ketika mendengar langsung kisah kisah ekspedisi tim GDN dan Wanadri dalam rangka mengunjungi 92 pulau terdepan Indonesia. Mulai dari kesulitan mencari kapal untuk berlayar mengarungi samudera Indonesia, hingga kesulitan-kesulitan teknis yang dihadapi di lapangan. Seperti kata Mayjen Lilik, yang hari itu memberikan sambutan mewakili panglima TNI, “Kami pikir hanya TNI yang peduli dengan batas wilayah NKRI, ternyata masih ada segelinir orang yang peduli dan berani turun tangan langsung demi menjaga tepian tanah air”. Ya, mungkin tim ekspedisi ini hanya segilintir orang yang peduli, di tengah-tengah sibuknya pemerintah mengurusi politik dan banjirnya ibukota.

Dan saya tidak menyangka yang ikut tim ekspedisi tersebut sebagian besar adalah pria paruh baya. Mereka benar-benar luar biasa. Rela menantang maut, mengelilingi lautan Indonesia untuk mengunjungi pulau2  tersebut. Mereka layak disebut pahlawan.

Begitu banyak hal yang membuat saya terharu hari itu. Foto-foto yang dipamerkan benar-benar bercerita banyak tentang kondisi di pulau-pulau terdepan Indonesia.Di satu sisi saya tidak berhenti berdecak kagum, alangkah indahnya negeri ini. Lagu Rayuan Pulau Kelapa itu benar-benar terbukti. Namun disisi lain, saya miris melihat kondisi sosial masyarakat disana.  Bahkan sang narasumber mengatakan, negara seakan tidak pernah ada di disana.

Lihat saja, mereka kesulitan akses air bersih, tidak ada penerangan. Bahkan salah anggota Wanadri bercerita, mereka merasa tinggal di planet lain karena siang hari terang dan malamnya gelap gulita. Janganlah kita mempertanyakan kesehatan, pendidikan ataupun kesejahteraan masyarakat disana, jika mereka masih hidup seperti itu.

Dari sekian banyak pembicara, materi dan topik-topik yang diangkat, hanya sebaris kata ini yang melekat kuat di kepala saya.

Kita harus mencintai negeri ini dengan cinta yang keras kepala.

Tidak hanya cinta, tapi juga keras kepala berjuang untuk membawa negeri ini ke arah yang lebih baik. Karena kita mencintai anak-anak cucu kita, karena tak ada tempat lain yang patut kita jaga selain rumah kita sendiri. Karena itu, jika semuanya dilakukan dengan cinta yang keras kepala, maka kita telah berusaha untuk memberikan ruang yang lebih baik bagi generasi di masa mendatang. Uhmm, bahkan ketika menulis ini saya masih merasakan gemuruh perasaan saya ketika kata-kata itu diucapkan oleh narasumber, Aat Soeratin yang kerap dipanggil Kang Aat.

Kang Aat juga menyebutkan bahwa hanya Indonesia yang menyebut bangsanya sebagai “tanah air”. Ketika buku Tepian Tanah Air, ingin diterjemahkan dalam bahasa Inggris, tidak ada satu kosakata bahasa Inggris pun yang dianggap cocok untuk menggantikan kata “tanah air”. Tidak water land, mother land apalagi archipelago. Akhirnya kata “tanah air” tetap digunakan dalam bahasa aslinya.

Begitu banyak kisah, suka duka dan cerita yang dikisahkan oleh tim ekspedisi ini. Iri dan sekaligus bangga pada mereka. Pengen sekali bisa berbuat sesuatu untuk Indonesia ini. Pengen sekali berkunjung ke pulau2 terdepan Indonesia, mengenali lebih jauh halaman rumah sendiri. Dengan begitu, kita baru bisa menyebut diri ini bagian dari Indonesia.

Sayang buku Tepian Tanah Air, harganya cukup mahal untuk kantong mahasiswa,  300 ribu.  Untungnya kemaren saya sempat lihat dan baca buku itu di pameran. Yang baru diterbitkan adalah pulau2 di bagian barat Indonesia. Jadi, masih ada 2 seri lagi seharusnya, yaitu pulau bagian tengah dan bagian timur. Pengen punyaaaaaaaaaaa… Akan menjadi koleksi yang bermanfaat  untuk diwariskan pada anak-anak kita nanti. Tapi, harus nabung dulu nih -;p

Bagi yang penasaran foto-foto dan kisah petualangan tim ekpedisi pulau2 terdepan Indonesia, silahkan mampir disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s