Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Pertama dengar judul novel ini, tanggapan saya, “Wow, judulnya puitis sekali..unik…dan keren”. Kesan pertama begitu menggoda. selanjutnya terserah anda. Ya, terserah setelah anda baca novel ini.

Berbekal rasa penasaran yg tak kunjung padam, akhirnya saya memutuskan untuk membeli novel ini. Awalnya mau beli buku yang lain, ternyata stoknya abis terus karena novel ini dipajang di tempat yang menarik mata, dan setelah berpikir dan menimbang cukup lama, saya pun mengambil novel ini dan membawanya ke meja kasir.

Satu kesan saya setelah membaca buku ini: TERTIPU…!!! Yap, saya tertipu kepuitisan judulnya (secara saya orang yang sangat sensitif dengan kata-kata puitis), tertipu dengan warna covernya (saya kan suka warna ijo), tertipu dengan penulisnya (salah satu penulis favorit saya) dan tertipu dengan harganya (novel ini tergolong murah dibanding novel umumnya, mana diskon lagi-;p).

Novel yang tergolong tipis ini langsung saya libas malamnya. Dan saya benar-benar kecewa. Kok cerita-nya kanak-kanakan gini ya, kalo ga mau dibilang norak. Kisah seorang gadis yang jatuh cinta dengan malaikat penolongnya. Dan endingnya pun tak mampu mengobati kekecewaan saya dengan alur cerita novel ini.

Terlepas dari berbagai ketidaklogisan dalam novel ini (ada pembaca yang lebih detail menguraikan tentang hal tsb), saya kehilangan sosok Tere-Liye dalam novel ini. Saya tidak menemukan Tere-Liye seperti di novel Bidadari2 Surga, Moga Bunda Disayang Allah, Hapalan Shalat Delisa ataupun di novel serial anak mamak. Novel-novel itu selalu membawa pencerahan bagi saya setelah membacanya, dan pastinya selalu sukses membuat saya mewek.

Tapi tidak dengan novel yang berjudul puitis ini. Entahlah, mungkin karena genre-nya yang lebih ke arah romantisme sepasang manusia dengan alur cerita yang terlalu dipaksakan. Dipaksakan untuk too good to be true, ketika seorang Tania (tokoh cewe utama dalam novel ini) mengalami perubahan drastis dalam hidupnya ketika bertemu Danar, seorang laki-laki berhati malaikat yang kemudian di-jatuhi cinta oleh Tania. Dipaksakan untuk sad-ending ketika ternyata Danar juga mencintai Tania tapi tidak berani mengakui perasaannya hingga akhirnya menikah dengan orang lain.

Mungkin Mas Tere memang tidak cocok menulis novel kisah cinta seperti ini. Mas Tere bagi saya lebih baik tetap menjadi Delisa, Pukat ataupun Kak Laisa. Saya  kagum dengan Mas Tere yang berhasil menuliskan kisah tentang keluarga dan kehidupan anak-anak dengan cara yang polos tapi tidak kekanak-kanakan. Inspiratif tapi  tidak melebih-lebihkan. Novel ini cukup membuat saya ilfil kalo Mas Tere menulis lagi novel bergenre serupa.

Ahhh… Saya butuh “Burlian” ni utk mengobati kekecewaan saya. Belom baca karena belom punya. Ada yang mau pinjemin ga ato mau ngasih novelnya juga gapapa -;p

Advertisements

3 thoughts on “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

  1. anita says:

    ya sih suf…nothing is impossible…
    tp tetap aja ceritanya maksa..hahaha*keukeuh…
    eh, btw suf lah baco lo?

  2. belind says:

    aku agak kecewa juga sih..soalnya nggak seperti resensi2 yg pernah aku baca..dan gaya nulisnya juga beda banget..ngomong2 burlian sama pukat juga gaya nulisnya beda dari moga bunda disayang Allah, delisa sama bidadari2 surga..aq pikir tere liye bener2 bisa mengubah2 gaya nulisnya..apalagi stlh baca cerbung yg di facebooknya..i really like this guy.. 😀 hihihi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s