Nostalgia Masa SMP

Beberapa jam yg lalu, saya menerima telpon dari sebuah nomor tak dikenal. Setelah main tebak2 an orang (jelas banget ga ada kerjaan), ternyata yg nelpon adalah teman SMP saya. Huaaa…di tengah-tengah stress TA yg tak kunjung selesai, saya senang banget ada yg nelpon, apalagi teman yg uda lama ga ketemu. Bahkan wajahnya dia aja, saya masih samar2, ups. Awalnya saya ga begitu mood menjawab pertanyaan dia, lg dimana? ngapain? uda lulus kan? hahaha pertanyaan yg sensi banget buat saya belakangan ini ūüėõ #no-offense.

Setelah ngalor ngidul nanya ini itu, tak terasa obrolan pun beralih pada masa-masa kami di SMP. SMP bagi saya bukanlah masa satu tahun atau dua tahun yang lalu. That was a long time ago, ten years ago. Hahaha… semakin menyadarkan saya bahwa saya tidak muda lagi, sudah kepala dua. Kata seorang teman, “Lah elok jadi induak urang (Sudah pantas menjadi seorang ibu)”. Seperti SMA dan SD saya dulu, SMP saya cukup dekat dari rumah. Bahkan sebelum saya pindah rumah terakhir kali, ¬†rumah saya sangat dekat dengan SMP, tak cukup lima menit berjalan kaki.

Awal masuk SMP saya masih ingat saya sangat antusias sekali. Masuk SMP berarti jarak ke sekolah lebih dekat (lebih dekat dibandingkan sewaktu SD). Masuk SMP berarti saya bisa bangun siang karena untuk kelas 1 sekolah dimulai jam 1 siang. Masuk SMP berarti untuk pertama kalinya, setelah 6 tahun akhirnya seragam saya berubah warna : Putih biru. Masuk SMP berarti saya sudah bisa daftar les bahasa Inggris (karena bahasa Inggris baru diajarkan pas SMP). Masuk SMP berarti mempelajari pelajaran-pelajaran baru : Fisika, Biologi, Akuntansi, Ekonomi, Sejarah dan Geografi yang sewaktu SD terangkum dalam IPA dan IPS. Masuk SMP berarti ketemu teman-teman baru, guru baru, suasana sekolah yang baru dan tempat jajan yang baru. Saya benar-benar senang bisa lulus SD. Menanggalkan seragam putih merah yang sudah 6 tahun saya kenakan. Tidak lagi merasa horor di sekolah karena SD saya berlokasi di samping TPU aka Tempat Pemakaman Umum. Masih ingat dengan jelas di kepala saya : Saya begitu bahagianya bisa melanjutkan sekolah ke SMP.

Sewaktu pengumuman penerimaan siswa di SMP, saya tedaftar sebagai siswa dengan no urut 2 dari segi NEM. Kala itu NEM saya 44 koma sekian. Saya tak begitu ingat pelajaran apa saja yang di EBTANAS-kan saat itu. Yang pasti, saya cukup berbangga karena saya berada di no urut 2. No urut pertama tentu saja berasal dari SD favorit di tempat saya: SDN 29 Kampung Baru. SD ini terkenal dengan murid-muridnya yang pintar, gedung sekolah yang bagus (satu-satunya SD yang berlantai 2 di daerah saya) dan orang tua wali murid yang berekonomi “baik”. Tentu saja karena SD ini berada di kawasan yang dihuni oleh orang perantau yang rata-rata bekerja sebagai PNS, karyawan bank, TNI dan pedagang. Sebenarnya rumah saya lebih dekat dengan SD 29 dibandingkan SD saya yang sebenarnya. Tapi dengan alasan tradisi, saya juga didaftarkan oleh mama ke SD tersebut, SD 22 Lohong. Saya tinggal di desa Kampung baru dan menamatkan sekolah dasar saya di Lohong yang berbeda desa/kelurahan dengan tempat tinggal saya. Namun demikian, SD 22 masih bisa saya tempuh dengan jalan kaki.

Ahhhh…ko jadi ngomongin SD? Hmm, biarin de, sekalian nostalgia SD-;p. Hanya ingin kembali mengumpulkan mozaik kenangan yang masih tinggal di kepala saya. ¬†Ok, mari kita kembali ke masa SMP saya. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini tidak ada lagi kelas unggul di SMP saya. O ya, namanya SMP 2 Pariaman, berlokasi di desa Kampung Baru juga. Seluruh siswa baru di acak penempatan kelasnya, dan terlemparlah saya ke kelas I-6. Hohoho….awalnya ngeri juga, masa saya di kelas I-6? kelas paling buncit no 2 setelah kelas I-7. Tapi takdir Tuhan memang luar biasa indahnya. Di kelas I-6 lah saya dipertemukan dengan orang-orang yang telah membuat kehidupan saya lebih berwarna (halah, bahasanya-;p). Bener loh. Masa SMP yang jauh jauuuuuuuuh menyenangkan dibandingkan SD. Apanya yang menyenangkan? pertama, wali kelas saya ganteng abis (menurut pandangan saya sebagai anak SMP kelas 1 saat itu). Nama beliau Maskur Hadi, mengajar Biologi. Tidak hanya wajah beliau yang enak di pandang, tulisannya pun enak dilihat dan dibaca. Tulisan yang sangat indah untuk seorang guru laki-laki. Saking stalker-nya saat itu, saya sering bersepeda hanya untuk melewati rumah Sang Guru, kebetulan tidak begitu jauh dari rumah saya.

Kedua, saya mendapatkan teman sekelas yang sangat menyenangkan. Teman yang saya maksud disini adalah teman perempuan karena penyakit saya dari SD (baca : tidak begitu menyukai teman laki2) sepertinya masih berlanjut di tahun pertama saya di SMP. Makanya saya merasa risih dan merasa terganggu jika ada teman laki-laki yang menghampiri saya, walaupun mungkin tujuannya hanya untuk menyapa. Teman sekelas saya : Pitria Hayati (Ipit), Eliza Edwar (Ija) dan Nining Hendrawan (Nining a.k.a Nining Cendawan-;p). They are the best friends ever yang pernah saya punya. Walaupun hingga kini jarang kontak2-an tapi bagi saya setiap kenangan bersama mereka begitu menyenangkan, memorable dan selalu membuat saya tersenyum jika mengingatnya. Oh, miss u all girls…

Saya duduk sebelahan dengan Ija di baris kedua dekat jendela dekat pintu kelas. Ipit dan Nining di baris pertama tepat di samping pintu kelas. jadi jika ingin keluar dari tempat duduknya, Nining kerap menggeser mejanya ke depan, karena lebih mudah lewat depan daripada harus keluar melalui sisi samping kursi tempat duduknya. hahaha…Penting ga sih, cerita yang beginian. Penting bagi saya, karena ketika menuliskan ini, kejadian itu terputar ulang di kepala saya.

Saya juga masih ingat, ketika kelas 1 SMP -perilaku egois peninggalan SD- yang saya miliki masih terlihat jelas. Cadiak buruak. hahaha…¬†Bagaimana tidak? bayangkan saja, tiap pelajaran yang mewajibkan membawa buku Paket ke sekolah, saya tidak pernah membawanya. Alasan saya : berat!!! Hahahaha, hingga kini pun saya ketawa sendiri mengingat tingkah laku saya. Akibatnya saya selalu mengandalkan buku paket yang di bawa Ija. Walaupun dia sering menyindir saya karena tidak pernah mau membawa buku paket, tapi dia selalu mengijinkan saya berbagi buku paket dengannya. Ija, where’re ¬†u now? Thanks for always bringing those books for me.

Ipiiiiiitt….hehe, walaupun kita satu SMA tapi semenjak terpisah dari kelas I-6, sepertinya kita jarang bersepeda bersama lagi pit. Aku jarang mengunjungi rumahmu. Kita tak janjian ke Mesjid bareng lagi. Tak lagi saling mencicipi nasi goreng buatan ibu kita. Tak lagi saling memberi hadiah ketika salah satu diantara kita berulang tahun. Tak lagi menjadi stalker Pak Maskur. Oh, miss all that time, Pit. O ya, Apa kabar Ibu? Riri? ¬†I am so sorry Pit, bahkan ketika kakak dan Ayah-mu meninggal aku tidak begitu cukup dekat untuk mendampingimu. You have taught me about friendship, happiness and being strong. Thanks for everything, Pit. Time may changes us but there’s something that still the same. dan sesuatu itu memang ada pit(^_^). Hatimu. Senyummu. Hatimu¬†masih seperti pertama kali aku mengenalmu di SMP, tak ada dendam, tulus dan sangat hangat. Senyummu masih manis dan menenangkan.

Nining: apa kabar dirimu? masih tinggal di Taluak (daerah di pinggir pantai Pariaman) kah? Apa kabar adek2mu? masih nakalkah? hahaha… kau masih ingat bagaimana aku, ipit, ija pagi2 menyatroni rumahmu. Yap, kami bersepeda menelusuri jalan sepanjang pinggir pantai untuk mencari rumahmu dengan bermodal sedikit petunjuk tentang lokasi rumahmu. Dan hebatnya kami menemukannya. Karena kami melihatmu keluar dari rumah. Masih terekam dikepalaku, nasi goreng buatan ibumu yang kau sajikan untuk menyambut kami. Bagaimana kita bermain di pantai di belakang rumahmu. Ah, kapan ya terakhir kali aku melihat mu Ning? masih ingatkah kamu betapa semangatnya dirimu jika yang mengajar adalah Pak Maskur, Pak Zul atau Pak Edison. Hahaha…mereka bertiga guru favoritmu kan? Guru favorit kita. Karena ketampanan mereka. ¬†Ke-cool-an mereka. Cara mereka mengajar kita dan cara mereka memanggil nama kita. Nining, hope you’re just all right there. I am just fine here. ¬†It will be so wonderful to have a reunion, right?

Wow….it has been a long note. Tak terasa. Padahal masih banyak yang ingin saya ceritakan. Itu pun baru kenangan di tahun pertama, belom lagi ketika saya di kelas II apalagi kelas III. Hmm…I will find the right time to write about them. Just wait. Hoaahhhmmm. It is 01.42 am already. ¬†Still got something to do….Night everybody…

Advertisements

4 thoughts on “Nostalgia Masa SMP

  1. tedong says:

    Sorry, baru singgah lagi. Trim’s tulisannya, enak dibaca. Seenak nasi goreng masakan ibunya Nining…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s