Japan: The Way They Tell The World

Barusan baca sebuah tulisan dari mailing list himpunan. Tulisan yang ditulis oleh seorang mahasiswa Indonesia di Jepang itu bercerita tentang filosofi kehidupan di Jepang yang membuat mereka begitu perkasanya dalam menghadapi segala masalah, baik dalam konteks personal maupun kenegaraan. Filosofi ini pun terpraktekkan dengan jelas ketika Jepang dikejutkan dengan bencana Tsunami beberapa pekan yang lalu.  Mungkin banyak teman-teman yang uda baca tentang tulisan tersebut. Search aja di Google ‘Say YES to GANBAMARU!!!”, pasti dengan mudah tulisan tersebut dapat ditemui.

Setelah membaca tulisan tersebut, saya hanya bisa manggut-manggut. Tak salah dengan perkiraan saya selama ini. Saya memang bukan orang yang pernah tinggal di Jepang atau mempunyai kenalan maupun teman yang berasal dari Jepang. Saya mengenal Jepang dari sejarah negaranya. Saya mengenal orang Jepang lewat dorama-dorama, anime-anime, dan manga-nya. Dan itu semua sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mengenal budaya dan karakter orang Jepang.

Mungkin karena persepsi saya yang demikian terhadap orang Jepang dan negaranya, membuat saya merasa Jepang akan baik-baik saja setelah bencana dahsyat yang melanda negeri itu beberapa waktu yang lalu. Sungguh, tak terbersit di pikiran dan perasaan saya rasa ‘iba’ dan ‘kasihan’, karena saya tau Jepang akan baik-baik saja. Entah kenapa, bagi saya Jepang berhasil mencitrakan bahwa mereka akan bangkit dengan perkasa. We’ll be all right, begitulan kira-kira kalimat yang mereka sampaikan pada dunia. Bukan berarti mereka tidak butuh bantuan untuk kembali berbenah diri, tapi sekali lagi saya merasa teryakinkan bahwa mereka telah siap dan terlatih. Mereka akan tunjukkan pada dunia bahwa bencana ini bukanlah apa-apa. Sama halnya ketika bom nuklir meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki puluhan tahun yang lalu, bencana kali ini pun hanya akan menambah deretan catatan sejarah mengenai semangat juang  orang Jepang untuk bangkit dari keterpurukan.

Kondisi Jepang pasca bencana menurut saya sungguh tidak pantas digambarkan dalam lagu-lagu sendu dan pilu seperti tayangan lebay di salah satu stasiun TV nasional (ini stasiun emang terlebay mengabarkan-IMHO). Bahkan, menurut tulisan yang barusan saya baca, tidak ada tayangan dengan backsound lagu2 pilu  di stasiun TV di Jepang, ataupun penyebaran rekening-rekening peduli bencana. They have been ready all the time. Lihat saja, dalam beberapa bulan, Jepang akan memperlihatkan pada dunia seakan-akan bencana itu tidak pernah terjadi di negara mereka. Mental untuk keluar dari kegelapan, selalu berjuang untuk lebih baik, bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan, selalu belajar dari pengalaman, Jepang punya itu semua. Dan itu adalah modal luar biasa untuk terus maju dan maju, tak peduli berapa kali mereka jatuh dan terpuruk.

Banyak cerita dan tulisan yang saya baca, yang membuktikan bahwa karakter dan budaya orang Jepang sungguh sangat islami. Bagaimana mereka menghargai waktu dan kejujuran, continous improvement, budaya kerja  5 S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke), dan banyak lainnya. Bukannya itu semua telah kita kenal dan ketahui dengan jelas dalam Al Quran  dan Sunnah Rasul? Tapi orang Jepang dengan berhasil mempraktekkannya dan menjadikan mereka negara perkasa seperti sekarang.

Menulis ini, sebenarnya hanya ingin menceramahi diri saya sendiri. Betapa seringnya saya mengeluh, merasa Tuhan terkadang begitu tega menghujani saya dengan masalah demi masalah. Betapa begitu banyak nikmat Tuhan yang saya sia-siakan. Dan Tuhan, dengan Maha Kasih dan Penyayang-Nya selalu berhasil membuat saya tergugu, betapa kecilnya saya dan Maha Besar-Nya Dia. Begitu luar biasa Kuasa-Nya hingga ketika Dia berkehendak sesuatu terjadi maka terjadilah ia.   Semoga kisah ini, kisah Jepang dan kisah masing-masing kita di kehidupan selalu membuat kita menjadi  orang yang lebih baik, dan bisa memanfaatkan segala nikmat yang diberikan-Nya untuk sebanyak-banyak amal dan kebaikan. Amin.

* NB: O ya saya udah resmi bukan mahasiswa lagi. Alhamdulillah, Ya Allah. Thanks for everything. Will write another story about this, later.

 

Advertisements

6 thoughts on “Japan: The Way They Tell The World

  1. tedong says:

    Anita, boleh juga buah pikiranmu tentang stasiun TV yang lebay…. Selama ini saya terharu kalau lihat tayangannya. Setelah baca kalimat-kalimatmu, saya pikir-pikir benar juga, ngapain terharu, terlalu lebay nih, orang Jepangnya aja tegar, kok aku yang …… By the way, kamu bergelut di bidang ilmu apa ya, kalau boleh tahu? Ada kaitannya dengan kelistrikan ya, kalau baca-baca blogmu sejak dari pertama? Atau saya yang keliru, he, he, sampai minta nulis tentang “eddy current”……

  2. anita says:

    @tedong: hahaha…itu tugas kuliah saya, tedong. Saya jurusan Teknik Industri (TI), nah salah satu kuliah wajib kita Elektronika Industri yang ngambil dari jurusan Elektro. Waktu itu tugasnya disuruh nulis di blog. Gitu de….:P

  3. tedong says:

    Oh ya, di Teknik Industri ITB. Aku baru ingat baca di About Me. Cuma saking cepatnya baca (abis, lagi melalap semua isi blog) data itu nggak nyantel. Sekarang sudah tahu. Ya udah ha, ha…

  4. Ahmad Dardiri says:

    Anitaaa… keren tulisannya,,
    wahh.. selamat dulu yak, udah melepaskan status mahasiswa dengan sangat baik!!
    Smangat nit, masih banyak tantang di depan,,
    Ganbatte!!, he3

  5. tedong says:

    Anita, Mei sudah hampir berlalu, April sudah lama lewat. Dua bulan terakhir, mana nih tulisannya. Sibuk dengan kerjaan baru ya? Kalimat terakhirnya “Will write another story about this, later”. Ditunggu ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s