(Bukan) Mahasiswa Lagi

Oke, pertama-tama saya ingin meminta maaf (kepada siapapun yang merasa-:P) karena sudah dua bulan lebih blog ini saya tinggal tanpa memberi kabar. Sebenarnya blog ini masih sering saya intip, kalau-kalau bisa membangkitkan mood saya untuk menulis. Tapi nyatanya, rasa malas berhasil menaklukkan saya.  Bukannya saya sok sibuk ato beneran sibuk tapi benar-benar mood saya tidak bisa diajak kompromi. Padahal saya sudah me-list hal -hal apa saja yang ingin saya tulis. Tapi rencana tinggal rencana, tanpa eksekusi (kebiasaan buruk saya).

Sesuai dengan judul postingan kali ini, resmi sejak tanggal 24 maret 2011, saya sudah bukan mahasiswa lagi. Alhamdulillah. Dan seremoni kelulusan ini pun sudah saya lalui di gedung Sabuga tanggal 9 April yang lalu. Tapi entah kenapa, bagi saya wisuda hanyalah euforia sesaat. Saya mati rasa, mungkin karena sudah terlalu sering melihat, menonton dan terlibat langsung dalam acara wisuda baik di himpunan, unit maupun langsung di Sabuga (baca: menjadi protokoler). Satu hal yang menyenangkan adalah Ibu dan adik saya berkesempatan ke Bandung untuk menyaksikan wisuda saya. Bahkan abang saya yang kebetulan sedang training di Bandung juga hadir di hari ‘bahagia’ itu. Di luar dari itu, semuanya adalah kegiatan yang melelahkan dan menghabiskan duit-:P.

Bagaimana tidak? Mengurusi syarat administrasi wisuda (tutup ini itu, bikin surat ini itu, bayar ini itu), bikin pas foto, beli bahan kebaya, jahit kebaya, cari sendal (ini permintaan Ibu, yang minta saya pake high heels–sumpah ga bakal2 lagi de-:P). Itu baru persiapan sebelum hari-H. Sore hari menjelang wisuda, ada acara syukuran di Program Studi yang seharusnya mengundang orang tua tapi karena Ibu berangkat dengan pesawat sore, akhirnya saya datang bersama abang saya. Pesawat yg ditumpangi Ibu ternyata delayed, dan baru nyampe di Bandung hampir tengah malam. Malam itu saya benar-benar tidak bisa tidur, entah kenapa ada perasaan tidak enak padahal besok seharusnya adalah hari yang berbahagia. Saya baru bisa tidur jam setengah 3 dan bangun lagi jam 4. Anehnya tanpa rasa malas dan kantuk, seolah-olah saya sudah tidur cukup. Saya pun berangkat ke Sabuga jam 7 lewat.

Selesai wisuda jam 12, kemudian menunggu giliran foto dengan rektor. Lalu mengikuti proses arak-arakan (saya pernah cerita disini) dan baru kelar  jam setengah 6 sore. Itupun saya tidak mengikuti acara lempar-lemparan balon air. Ibu, adik dan kakak saya telah pulang duluan sejak acara di Sabuga selesai. Dari semua yang melelahkan itu saya benar-benar terharu karena teman-teman  dan junior saya (dari SMA 1 Pariaman yang kuliah di Bandung) rela menunggui saya hingga arak-arakan selesai. Mereka bahkan telah datang sejak siang. Dan saya mendapat banyak bungaaaaaaa….Hahaha…That was the first time I got so many flowers-:D  Terima kasih sahabat dan adek-adek ku tersayang. You guys (and also girls-:P) definitely are my second family. I am so lucky to have you all… Bahkan pulang dari kampus pun saya di ‘arak’ oleh mereka hingga kosan padahal saya masih lengkap bertoga dan berkebaya. What a day…-:D. Seharian berteriak, malamnya suara mulai parau dan serak-serak basah terdengar seperti suara Afgan *kata teman saya*. Padahal esok hari Minggu-nya saya harus menemani Ibu belanja dan masih harus antri foto studio karena Senin paginya beliau sudah berangkat kembali ke Pariaman.

Efek satu hari wisuda itu benar-benar ‘mengesankan’ bagi saya.  Hari Senin tanggal 11 April, suara saya resmi hilang, saya seperti menjadi orang bisu (ini serius-:P). Bahkan ketika Ibu saya menelpon, beliau tidak bisa mendengar suara saya. Hari itu juga saya ke klinik BMG (Bumi Medika Ganesha) ITB, berharap bisa mendapat pengobatan secepatnya. Takut juga kalo tar  jadi beneran bisu. Serius, menjadi bisu itu sulit sekali. Ketika saya ke BMG naik angkot, saya meminta tolong – dengan bahasa bibir tanpa suara- seorang anak SMA yang kebetulan satu angkot dengan saya,  untuk meminta pak sopir berhenti. Aduh, mungkin si anak mengira saya gagu beneran. Bahkan saya masi ingat, tatapan prihatinnya melihat saya yang tidak bersuara.

Menjadi bukan mahasiswa lagi, bukan berarti kemerdekaan sejati. Sungguh, seperti kata-kata senior dan orang-orang yang telah mendahului saya, menjadi mahasiswa justru lebih banyak ‘untung’nya. Kita bisa berlindung dibalik status ‘mahasiswa’ untuk mendapatkan berbagai macam previlege dan benefit. Contoh yang paling nyata saya alami adalah ketika saya berobat ke BMG. Alasan saya ke BMG dibanding ke RS umum, tentu saja berharap mendapat pengobatan gratis. Mahasiswa ITB memang mendapatkan akses layanan kesehatan di BMG, dan hanya membayar uang administrasi yang waktu itu masih Rp 5000 sekali berobat (sekarang uda 10 ribu:P). Tapi karena saya yang bukan mahasiswa lagi, dan dianggap sbg masyarakat umum, terpaksa harus bayar adm Rp 20 ribu dan nebus obat 50 ribu. Ahhhhhhhh….duit lagiiiiiiiiii………:(((((( Kalo tau gitu, mending pas si Mba-nya nanya masih mahasiwa ato ga, saya jawab masih aja kali ya:P

Menjadi bukan mahasiswa lagi juga berarti, ketika saya harus mengisi suatu form yang meminta info tentang pekerjaan saya apa, sungguh saya tidak tahu harus mengisi apa. Harus mengisi pengangguran kah? Makanya ketika saya -karena tidak ada kerjaan- membuat paspor di kantor imigrasi Bandung saya pun menuliskan bahwa status saya adalah mahasiswa. Menjadi bukan mahasiswa lagi, juga berarti  bahwa saya tidak dapat menggunakan KTM a.k.a Kartu Tanda Mahasiswa sebagai alat untuk mendapat diskon ketika naik travel, menghadiri seminar ataupun acara-acara yang memberikan Pelajar/mahasiswa berbagai keuntungan lainnya.

Ahhh….mahasiswa beruntunglah kamu ketika masih menyandang status itu. Memang benar setiap tahap kehidupan yang (harus) kita lewati, adalah bagian hidup yang menjadikan seperti apa tahapan kehidupan kita berikutnya. Nikmatilah. Live within it to the fullest. Karena siap tidak siap, mau tidak mau, kita harus berhadapan dengan tahapan berikutnya. Dan pastinya tiap tahapan itu akan lebih sulit, lebih bermasalah dan lebih menantang makna kedewasaan yang kita punya. Goodbye college… Goodbye campus… Welcome to the real world!!!

Advertisements

5 thoughts on “(Bukan) Mahasiswa Lagi

  1. tedong says:

    ha…ha…, although you lose the privilege of a student, you’ll got the privilege of a real human being, with all smile and cry within them.Welcome Anita…….

  2. sepri says:

    “kehidupan yang (harus) kita lewati, adalah bagian hidup yang menjadikan seperti apa tahapan kehidupan kita berikutnya”

    boleh juga tuh quote-nya, btw slmt udh lulus dr ITB

  3. kucingbiru says:

    salam kenal. wah senangnya, saya juga ingin cepat wisuda. Aamiin. hihihi, lucu cerita angkotnya, saya sampai praktek…(tepuk jidat).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s