Antara Angkot dan Ngetem

Tiba-tiba pengen nulis yang agak serius setelah saya mengalami kejadian yang tidak mengenakkan beberapa saat yang lalu di atas angkot.  Barusan saya naik angkot dari Ciwalk ke kosan, dan ada kejadian yang membuat saya miris dan merenung. Sopir angkot Caheum- Ciroyom bersiteru memperebutkan penumpang. Angkot yang saya naiki dianggap tidak antri dalam mengambil penumpang. Kebetulan ada beberapa angkot yang sedang nge-tem di Jalan Cipaganti untuk mengambil penumpang dari Ciwalk.  Si bapak-entah-siapa marah-marah terhadap sopir angkot yang saya naiki. Dengan bahasa Sunda yang sedikit-sedikit saya mengerti, si bapak memaki-maki sopir angkot tsb karena dianggap memotong antrian untuk mengambil penumpang. Si sopir angkot saya kekeuh bahwa dia tidak memotong. Dengan logat Jawanya yang kental, ia terus berusaha membela diri, membantah pernyataan si bapak Sunda yang bahkan memanggilnya goblok.

Saya dan teman saya, yang duduk di bangku paling depan (samping sopir) sempat was was juga takut terjadi pertengkaran yang lebih parah. Untungnya si sopir angkot Jawa, mau mengalah, menyuruh turun penumpangnya untuk menaiki angkot yang lebih depan dahulu. Entah siapa yang benar dan salah, dari pada terjadi yang gak- gak saya dan penumpang lainnya manut saja. Eeeehhh, uda jalan ke angkot paling depan, ternyata beberapa penumpang termasuk saya, malah tidak kebagian tempat. Jadinya malah kami kembali lagi ke angkot semula. Ufffff…

Bukan masalah bolak baliknya yang saya ributkan, cuma tiba-tiab muncul perasaan tidak enak. Kehidupan perangkotan ternyata keras juga. Saya sampai sekarang masih bertanya-tanya, berapa rata-rata pendapatan sopir angkot sehari? berapa yang harus disetor? berapa penghasilan bersihnya? Mungkin terkadang kita marah-marah, kesal karena sopir angkot ngetem. Kadang kalo saya sedang baik, saya sempat berpikir dari sisi lain, si sopir memang mungkin dari tadi belum dapat penumpang. Kalo angkotnya dengan 1 ato 2 penumpang, waktunya hanya akan habis dijalan sementara uang yang didapat pun tidak seberapa. Bahkan saya ingat cerita teman saya  bahwa ada seorang bapak yang marah-marah pada sopir angkot karena si sopir sering berhenti untuk menaiki penumpang. Si bapak mengaku sedang terburu-buru. Tapi caranya itu, kalo emang mau cepat, naik taksi sana Pak. Kayak orang ga pernah naik angkot saja.

Yap, jika kita sempat untuk berpikir dan merenung, cobalah untuk berempati pada sopir angkot. Kalo memang sedang buru-buru, dan ternyata angkot kita ngetem, dan kita tidak punya pilihan transportasi lain (baik karena masalah uang ato kondisinya memang tidak ada angkot lain yang tidak ngetem), daripada ngedumel ato pura-pura kesal dengan menghentakkan kaki ke lantai angkot mending kita sempatkan berdoa semoga si sopir segera mendapatkan tambahan penumpang. Atau hatinya tergerak untuk mulai menjalankan angkotnya dan mendapatkan penumpang lain sepanjang perjalanan.

Saya pernah mencoba beberapa kali cara ini dan berhasil. Waktu itu saya menaiki satu-satunya angkot yang lewat di subuh hari menuju stasiun. Karena penumpangnya memang baru 2 orang (termasuk saya), si sopir dengan sangat nyantainya  mengendarai si angkot dengan pelan perlahan. Saya berkali-kali lirik jam, takut ketinggalan kereta api. Sungguh bukan pada posisi saya untuk bilang, ” Pak, bisa cepatan dikit ga, takut ketinggalan kereta Pak!”. Lah, salah sendiri kenapa mepet banget berangkatnya, kenapa ga naik taksi atau ojek saja. Makanya dengan pasrah saya berdoa semoga saya tidak terlambat dan si bapak angkot dapat tambahan penumpang. Dan doa saya terkabul. Setelah menaiki satu penumpang tambahan, si sopir angkot mulai mempercepat laju angkotnya. Dan Alhamdulillah saya sampai di stasiun 5 menit sebelum keberangkatan, dan masih dapat tiket walaupun harus bayar lebih untuk tiket Eksekutif.

Dari pengalaman saya sebagai pengguna angkot aktif, tingkat ke-ngetem-an angkot di Bandung masih bisa saya tolerir dibandingkan angkot di Pariaman dan  beberapa kota lain di Sumbar. Mungkin frekuensi bolak-balik mereka atau poin-poin tempat naiknya penumpang yang sangat jarang sehingga mereka tidak mau rugi jika harus berangkat dengan jumlah penumpang yang sedikit. Apapun alasannya, saya dan siapapun yang merasa user dari angkot-angkot yang beredar, benar-benar harus melatih kesabaran dan rasa empati terhadap sopir angkot. Diakui memang, kesulitan hidup membuat orang kehilangan rasa empati dan peduli. Ngapain gue mikirin nasib lo, nasib gue aja ga jelas. Ngapain gue mikiran nasib sopir angkot, TA gue aja ga kelar-kelar ni, uang jajan lagi seret, pulsa habis, ortu cuek, teman nyebelin dan masalah-masalah lainnya yang tidak bakal kehabisan kata untuk disebutkan. Disitulah sisi humanisme kita diuji. Disaat kita sibuk dengan kehidupan kita, sempatkah untuk sebentar kita berhenti, melihat kiri dan kanan, memperhatikan orang-orang sekitar kita. Karena terkadang dengan begitu, kita masih bisa bersyukur bahwa kita masih beruntung dibanding mereka. Bahwa Tuhan masih memberi nikmat yang lebih kepada kita, dalam bentuk apapun itu. Bahwa sepahit dan sesulit apapun masalah yang kita hadapi, ada yang mengalami lebih pahit dan sulit daripada kita. Dengan begitu kita masih bisa menghargai betapa pentingnya setiap kehidupan untuk diperjuangkan.

Advertisements

5 thoughts on “Antara Angkot dan Ngetem

  1. prasari puspita ariestyawati says:

    pas nyari tentang cari tiket kick andy gimana caranya dapat link kesini, melipir dulu deh kesini..aku suka dengan cara penulisan mbak niih..

    salam kenal ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s