Resensi : Rembulan Tenggelam di Wajahmu


Apa yang bisa saya katakan setelah membaca buku Tere Liye kali ini? Saya tidak bisa berkata apa- apa. Sejenak terdiam dan tergugu. Kemudian mencoba membolak balik lagi halaman sebelumnya. Mencari kembali bagian cerita dimana setiap pertanyaan Rehan dijawab dengan begitu indah oleh si lelaki dengan wajah yang menyenangkan. Mengulangi lagi membacanya. Merenungi setiap kata – katanya. Dalam menghujam. Indah tak terbantahkan.

Tere Liye memang rajanya meramu kata-kata yang mampu membolak balik perasaan. Saya menangis sejak awal membaca buku ini. Membayangkan betapa kerasnya kehidupan Rehan. Walaupun ini hanya cerita fiksi. Tapi mungkin saja di antara jutaan umat di bumi ini ada yang bernasib sama dengan Rehan kan? Mungkin saja bukan? Sama mungkinnya dengan kebenaran cerita si Arab Tua yang tinggal puluhan tahun di oase gurun.

Membaca kisah Rehan dalam novel ini seperti menonton perjalanan panjang dan berliku seorang anak manusia. Mulai dari asal hingga berakhir pada ujungnya, kematian. Kehidupan tiap insan memang seperti sebuah film masterpiece karya Sang Pencipta. Skenario unik untuk setiap orangnya. Tak ada yang bisa membandingkan film kehidupan siapa yang paling bagus atau film kehidupan mana yang berhak mendapatkan penghargaan sekelas Oscar atau Golden Globe. Karena memang tidak ada standar baku pembandingnya. Semua berhak mendapat penghargaan sebagai karya masterpiece karena setiap cerita mempunya siklus sebab akibatnya sendiri. Setiap kehidupan punya jawaban yang indah untuk setiap lima pertanyaannya. Dan sungguh saya sepakat dengan testimoni yang disampaikan oleh Ratih Sang, bahwa terasa sekali kita tidak dapat berandai-andai ketika membaca novel Tere Liye kali ini.

Ada satu quote yang langsung terpikir di otak saya seusai membaca novel ini. Janganlah sekali -kali engkau membandingkan kehidupanmu dengan kehidupan yang lain. Menganggap orang lebih bahagia atau kenapa hidup kita begitu nestapa. Kita tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui dan perjuangkan untuk mencapai kehidupan mereka yang sekarang.  Karena itu, bersyukurlah dengan kehidupanmu yang sekarang. Kita sama sekali tidak dapt berandai-andai karena skenario Allah tetap yang terbaik.

Advertisements

One thought on “Resensi : Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s