Titik Nol Sebuah Resensi

indexIni adalah karya Agustinus yang kedua yang saya baca setelah Selimut Debu. Tidak bisa saya bandingkan, karena Selimut Debu pun tak selesai saya baca saat itu (Ah, pengen baca ulang). Namun ketika membaca Titik Nol saya bisa merasakan perbedaaan yang kentara dibandingkan Selimut Debu atau dengan travel writing lainnnya. Ditulis dengan plot cerita yang paralel, tapi memiliki benang merah yang sama, merupakan cara yang jenius menurut saya. Pantas saja Agustinus mengatakan bahwa ini adalah buku yang paling sulit beliau tulis hingga mengalami berulang kali perombakan. Bagaimana tidak, mengorek-ngorek kembali kenangan lama atau bahkan luka yang tidak ingin diingat lagi, siapa yang tahan untuk menceritakannya kembali. Dengan berani dan jujur tentunya.

Saya pun merasakannya betapa emosi yang Mas Agus yang tertuang dalam tulisannya ini berhasil tersampaikan dengan baik. Tepat menghujam di lubuk hati pembaca. Setelah membacanya, dada sesak, perasaan kalut dan nelangsa. Namun di satu sisi ada rasa puas yang melegakan. Seperti memakan permen mint, pedas di awal kita mengemutnya namun berujung pada rasa dingin menyegarkan di tenggorokan.

Resensi ini pun begitu sulit untuk saya tulis. Saya tidak ingin menceritakan seolah-olah buku ini begitu ‘ringan’-nya untuk dibaca sehingga dengan sangat mudah dan cepat saya bisa ceritakan plus minus buku ini. Jangan dengan remehnya berpikiran bahwa buku ini sama seperti kebanyakan travel writing yang lainnya, yang dengan gampang Anda bolak-balik halamannya, Anda pilah pilih cerita atau pengalaman unik si penulisnya. Tidak. Secara konten, saya bisa katakan ini buku ‘berat’. Setiap kata-kata, kalimat dan paragraf merupakan hasil perenungan dan penghayatan penulis terhadap makna yang beliau dapat selama perjalanan. Filosofis mungkin. Cerdas pasti. Tapi saya yakin tiap-tiap kata filosofis itu merupakan kulminasi dari perjalanan beliau bertahun-tahun. Makna yang dipetik dari setiap episode perjalanan yang penulis lakoni.

Tapi hebatnya, buku ini tidak akan membuat anda mengerutkan dahi untuk berpikir layaknya buku yang dengan tema serupa. Membaca buku ini, tidak mengajak Anda untuk berpikir secara hitam dan putih, mana yang benar dan salah. Lewat buku ini Anda diajak bercermin dan merasakan. It makes you feel, not judging or blaming.

Mungkin karena penulis juga bercerita dalam bahasa universal : bahasa cinta. Ya, Agustinus tidak hanya mengajak pembaca untuk ikut menyelam dalam petualangannya di negara-negara Asia Tengah namun juga meresapi perjalanan seorang anak mengantar kepergian Ibunda tercinta. Cerita universal ini menunjukkan eksistensi sisi humanis seorang Agustinus, bahwa setiap orang akan jatuh dan terluka ketika kehilangan orang yang dicintainya. Tak peduli betapa keras perjalanan hidup yang dialaminya, betapa tidak manusiawi potret kehidupan yang ia saksikan setiap hari, setiap orang pun layak untuk menangis. Bahkan untuk seorang jurnalis seperti Agustinus yang terbiasa melihat tangis dan kematian di daerah konflik yang ia kunjungi.

Segala teka teki yang awalnya terlintas di benak saya, terjawab sudah ketika selesai membaca buku ini. Kenapa di buku ini tidak ada peta? Awalnya saya kurang nyaman karena harus menebak-nebak di sebelah manakah Nepal dan Tibet itu, namun baru saya mengerti kemudian. Agustinus memang tidak ingin menjadikan buku ini sebagai buku panduan perjalanan. Ah, saya setuju sekali. Itu sama saja Anda menjatuhkan nilai buku ini dengan segala pemaknaanya hingga ke titik nadir. Apalah arti sebuah tempat yang terkotak-kotak oleh garis batas buatan manusia. Kehidupan disana sama-sama pantas diperjuangkan, bukan?

Juga dengan misteri kalimat membingungkan di cover depan buku ini, juga terjawab dengan indah.

Perjalananku bukan perjalananmu.
Perjalananku adalah perjalananmu.
Ya, perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku (Paul Therox).

Oh iya, setelah membaca buku ini saya ingin menonton kembali serial Kera Sakti, Sun Gu Kong. Tak dinyana, kisah perjalanan seorang kera bersama Guru dan teman-temannya yang kocak mengilhami Agustinus untuk melakukan perjalananan menjelajah Asia Tengah. Terima kasih Mas Agustinus. Harga buku yang tergolong mahal untuk kantong saya ini, tidak bisa saya bandingkan dengan pemaknaan yang saya dapat. Nilainya jauh, jauh lebih mahal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s