Mt. Guntur : My Very First Mountain

Pendidikan klasikal selama 3 bulan di LPPI yang saya lalu sejak pertengahan Februari lalu benar – benar menguras mental dan pikiran. Mendengarkan materi selama lebih kurang 7 jam setiap harinya, ujian setiap paginya cukup membuat saya jenuh dan otak serasa penuh.

Setelah sempat beberapa kali tertunda untuk mendaki gunung, akhirnya saya punya kesempatan untuk mencoba pendakian pertama saya. Ketika saya mendapat pesan WA dari Melissa, mengajak untuk naik Gunung Guntur, tanpa babibu saya langsung balas, ” I’m in”. Saya baru kemudian googling gambar Gunung Guntur dan sempat membaca blog orang yang pernah mendaki gunung tersebut. Long weekend 29 – 31 Maret lalu menjadi pengalaman tak terlupakan bagi saya. Bersama teman – teman perjalanan yang ‘gila’ dan kocak, terjalnya jalur yang kami daki dan turuni, menjadi saksi bahwa kami menikmati setiap momennya. Benar kata pepatah, it’s not about where would you go, it’s about who you go with.

Seminggu sebelumnya saya sudah survei harga – harga peralatan dan printilan untuk mendaki. Butuh modal yang besar pastinya, karena itu saya memutuskan untuk meminjam apa yang bisa dipinjam. Tiga hari sebelum pendakian, saya sudah tidak konsentrasi untuk belajar ujian, hanya untuk memikirkan apakah harus pinjam carrier (*karena saya tidak sempat untuk memutari toko- toko outdoor), harus cari sepatu gunung atau pakai sandal gunung yang saya punya dan sebagainya sebagainya. Akhirnya saya memutuskan untuk memakai tas ransel bekas Samapta di Lemdikpol, pinjam sleeping bag dan jaket Iktri. Lumayan, saya tidak perlu mengeluarkan gocek yang terlalu banyak.

Perjalanan dimulai dari terminal Kampung Rambutan, Jumat 29 Maret. Bersama 6 orang teman Pengajar Muda III, Mas Teguh dan 4 orang teman baru, kami bertolak ke Garut pukul 12 malam dan sampai di Tarogong pukul 4 pagi hari berikutnya. Kami berhenti di sebuah SPBU sambil menunggu truk yang akan mengantar kami ke titik pendakian Gunung Guntur. Kami bergabung dengan rombongan lainnya sehingga bak truk penuh dengan carrier dan kerumunan orang ‘gila’ yang rela berdesak desakan, dorong-dorongan, tarik- tarikan, dan kotor- kotoran, ketika truk menggoyang muatannya melewati jalur yang cukup rawan.

Gunung guntur memiliki ketingginan 2249 mdpl, tergolong rendah bahkan dibandingkan dengan Gunung Papandayan. Dari bawah gunung ini kelihatan jinak untuk ditaklukkan. Eits, tapi tunggu dulu. Jangan pernah men-judge gunung dari covernya.


Setelah lebih kurang 30 menit berjalan, kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu ketika menemukan sumber air. Tim dapur, saya dan Veri pun mulai beraksi. Saya kebagian memasak nasi dan Veri memasak lauknya : telur kuah asam pedas. Makanan pun kami lahap sampai jilatan terakhit. Entah memang karena kelaparan atau suasana alam yang mendukung sehingga apapun yang kami makan terasa nikmat. Setelah makan dan beres-beres kami pun melanjutkan perjalanan ke atas. Perjuangan sebenarnya dimulai dari sini.

Beberapa jam pertama, kami masih mendaki di bawah lindungan pohon – pohon. Hingga kemudian tidak ada jalur lain, kami harus melewati track yang gersang, hanya ditumbuhi rumput dan ilalang -ilalang pendek.

Matahari semakin garang memuntahkan panasnya dan lelah pun datang mendera. Kami terus menyeret kaki yang terasa berat dan punggung yang terasa penat menahan beban carrier yang tidak ringan. Ibarat melihat oase, melihat sebatang dua batang pohon di kejauhan menjadi motivasi kami untuk terus bergerak meski terkadang tak jarang saya harus merangkak. Sempat saya termenung, menertawakan diri sendiri, “What am I doing here?”. Hufft…

Tak terhitung berapa kali kami melepas lelah. Ada pohon berarti istirahat. Tidur di bawah pohon rindang, dengan semilir tiupan angin gunung, sungguh menjadi kenikmatan sendiri. Namun perjalanan belum selesai. Seperti kata Edy Tanzil di Ring of Fire, “Rest, if you must, but don’t you quit”.

guntur_2

Photo by Gatya

Makin mendekati puncak, makin terjal trek yang harus kami daki. Beberapa kali saya sempat tertipu, mengira puncak telah dekat. Tapi justru yang kami temui sedikit tanah landai yang di depannya pendakian yang lebih terjal lagi. Saat lelah berkali kali membuat saya terduduk, tanpa rindang pohon yang melindungi, saya mengedarkan pandangan ke bawah, ke arah alur terjal yang telah saya lalui. Rumah – rumah penduduk di bawah terlihat semakin kecil dan saya merasa semakin dekat dengan langit.

Setelah perjalanan melelahkan selama 8 jam dati titik pendakian, kami akhirnya sampai di puncak ketiga. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di puncak ini, bersama para pendaki lainnya. Cukup ramai yang mendaki. Bahkan saya bertemu Sita, teman satu kosan ketika tahun pertama kuliah di Bandung. Ah, dunia sempit sekali kan?

Malamnya kami tidur lebih awal, karena esok pagi ingin mengejar sunrise di puncak kedua. Jam empat pagi kami bersepuluh, minus Veri (yang ga ikut karena lebih baik menyiapkan sarapan untuk kami:D) dengan bermodal senter meniti jalan menuju puncak dua. Setengah jam saja, kami sudah ambil posisi untuk menikmati pemandangan sunrise. Ini sunrise pertama saya di puncak gunung. Matahari dengan anggunnya keluar perlahan lahan dari tempat peraduannya. Cantik sekali. Pemandangan yang saya bayar cukup mahal dari hasil pendakian seharian.

10176269_10203571187306462_504260421_n

Photo by Gatya

Setelah puas menikmati sunrise dan tentunya berfoto- foto ria, kami pun melanjutkan perjalanan ke puncak ketiga. Titik tertinggi di gunung Guntur. Dari puncak dua ke puncak tiga, tidak terlalu jauh, cukup 15 menit saja.

Yeaayyy!!! Dan saya seperti berada di negeri di atas awan, dengan kabut mengelilingi kami. Dan hebatnya lagi, sinyalnya kenceng pooooll dari sini. Saya pun sigap berpose, uplot di path ” Live from the top on 31 March 2014 at 07.09 am “.
So this is it, the luxury of mountain climbing. Saya tidak jera, saya masih ingin ke puncak- puncak lainnya:)

guntur_4

Photo by Gatya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s