Tabungan Penyambung Asa

Bicara soal menabung ingatan saya melayang ke awal tahun 1990-an ketika pertama kali ‘dihadiahi’ sebuah buku tabungan bewarna hijau muda oleh ibu saya. Buku tabungan itu bermula dari suatu malam ketika ibu mengumpulkan kami sekeluarga (minus Bapak) di ruang tengah. Ibu memandangi kami satu persatu sebelum memulai percakapan. Saat itu adik saya belum lahir. Anak ibu hanya saya dan dua orang kakak saya.

Malam itu ibu meminta kami agar bersiap-siap. Pekerjaan Bapak tidak akan selamanya. Jika proyek pembangunan terowongan air itu selesai dalam tiga tahun ke depan, maka selesai pulalah Bapak bekerja. Dengan kata lain, Bapak mungkin saja jadi pengangguran. Uang jajan kami mungkin akan berkurang. Jalan – jalan keluarga yang biasa sekali setahun dilakukan, bisa jadi akan tidak pernah ada lagi.

Pekerjaan Bapak yang tidak tetap, membuat beliau dapat berhenti bekerja kapan saja sementara gaji Ibu dipastikan tidak akan cukup untuk membiayai kami bertiga terutama untuk biaya sekolah. Oleh karena itu kami diminta untuk menyisihkan sebagian uang yang kami peroleh dari Bapak, Saudara maupun Keluarga lainnya. Untung-untung uang jajan yang kami peroleh tiap harinya masih bisa disisihkan meskipun Ibu paham uang jajan kami pun pas-pasan.

Malam itu pula Ibu memutuskan agar kami memiliki tabungan masing- masing di bank. Kami jelas-jelas masih di bawah umur dan belum memiliki kartu identitas. Karena itu hanya Ibu seorang yang berhak menarik tabungan itu ketika dibutuhkan.

Kenapa harus menabung di bank? Kenapa tidak di celengan saja seperti kebanyakan anak-anak? Menurut Ibu menabung di bank akan membuat kami lebih disiplin, saldonya tercatat dan pastinya lebih aman. Selain alasan sedih di balik kenapa kami harus menabung, saya senang sekali karena akan memiliki buku tabungan sendiri, atas nama saya sendiri. Bagaimana tidak? Di saat orang masing belum terlalu melek dengan perbankan, ibu telah mengenalkan saya menabung di bank sejak saya masih berseragam putih merah.  Saya yakin kala itu mungkin saya adalah satu-satunya murid di kelas atau bahkan di sekolah saya yang memiliki rekening tabungan di bank.

Tentu menjadi pertanyaan, bagaimana bisa anak SD seperti saya dan kakak saya sudah menabung dari kecil di bank? Darimana sumber uang menabung kami jika uang jajan kami pun hampir tak bersisa.

Biasanya kami akan mendapatkan surplus uang ketika Bapak pulang ke rumah setiap pekan. Bapak biasa memberi kami uang jajan tambahan, meskipun jumlahnya tidak menentu. Mulai dari Rp5 ribu hingga Rp20 ribu per orang tiap minggunya. Atau ketika Om dan Keluarga Bapak atau Ibu mengunjungi kami. Sudah menjadi hal lumrah anak-anak bocah seperti kami akan mendapatkan tambahan “uang jajan” dari sanak keluarga. Apalagi ketika masa Lebaran, kami sudah merasa seperti orang kaya dengan uang yang berlimpah hasil mengumpulkan “amplop” pemberian Saudara dan tetangga.

Ibu memiliki semacam buku jurnal yang digunakan untuk mencatat uang yang kami akan tabung di bank. Ketika akhir minggu, misalnya, saya mendapatkan tambahan uang jajan Rp20 ribu dari bapak. Tentunya agak minder jika menyetorkan uang sebesar itu langsung ke bank. Walaupun dahulu Bank masih menerima minimal setoran Rp5.000, tapi kami mengumpulkan ‘receh –receh’ yang kami peroleh hingga mencapai jumlah tertentu. Tiap sekali sebulan, Ibu akan ke bank menyetorkan hasil setoran kami yang sudah direkap di jurnal.  Malamnya kami langsung memberundungi Ibu, melihat hasil cetakan  buku tabungan kami. Siapa punya saldo tabungan berapa. Rasanya saat itu bangga sekali, angka-angka di tabungan kami terus bertambah sedikit demi sedikit.

Saat menulis ini saya tersenyum mengenangnya. Ibu sering memuji kemampuan saya menabung. Ketika Ibu merekap setoran kami masing-masing, sering kali saya menjadi anak Ibu yang paling banyak menyetorkan uang untuk ditabung  mengalahkan kedua kakak saya. Tidak paham jika saya tergolong pelit atau tidak, tapi Ibu selalu berkata saya yang paling mewarisi kemampuan Ibu dalam mengelola uang.

Kebiasaan menabung kami yang ditumbuhkan sejak dini tidak terlepas dari nasehat dan didikan Ibu. Ibu selalu mengingatkan agar uang ekstra yang kami peroleh disimpan. Jangan dibelikan jajanan atau mainan yang tidak penting. Simpan untuk biaya pendidikan nanti. Untuk hal ini, Ibu  juga punya cara ampuh. Beliau rela bersusah payah untuk membuatkan jajanan yang sedang kami inginkan. Soto, Gado-gado, Bubur, dan berbagai penganan pasar lainnya. Tiap minggu Ibu tidak pernah absen untuk makanan spesial untuk kami. Karena itu pula kami jarang  makan di luar ataupun sekadar membeli lauk di warung.  Kata ibu, lebih murah dan sehat  karena diolah oleh tangan sendiri. Padahal saya tahu persis usaha, waktu dan tenaga yang Ibu korbankan untuk memasak tidak sebanding dengan penghematan yang dilakukan.

Memori tentang menabung juga mengingatkan saya saat pertama kali menginjakkan kaki di bank. Bagi kami yang tinggal di kota kecil, kala itu bank adalah kantor yang paling mewah di kota kami. Gedungnya bersih dan rapi, dipenuhi  oleh orang berjas dan berdasi. Persis seperti orang kantoran yang kami lihat di TV.

Saya sering menemani Ibu ke bank baik yang berurusan dengan kantor maupun pribadi. Tiap memasuki kantor bank,  kami akan dibukakan pintu oleh satpam disertai senyuman yang ramah. Bank di memori kecil saya adalah potret suasanan kantor yang profesional dan modern.

Saya ingat betul ketika pertama kali seorang diri menabung ke bank. Saat itu saya sudah duduk di kelas I SMP.  Menggunakan sepeda kesayangan sepulang les Bahasa Inggris, dengan langkah malu-malu saya memasuki kantor bank. Saya menyetorkan sendiri uang tabungan saya ke bank, mengisi slip setoran dengan tulisan tangan dan dibubuhi tanda tangan saya sendiri yang saat itu masih ‘alay’.  Darimana saya belajar? Tentu saja dari ibu saya. Seminggu sebelumnya, ibu mengajarkan saya cara mengisi slip setoran dan melakukan setoran uang di bank. Ibu bilang, saya sudah cukup besar untuk  bisa menyetorkan uang sendiri ke bank. Kunjungan saya berikutnya ibu-ibu kasir di bank sudah mengenali saya karena di kota kecil kami jarang sekali anak seumuran saya datang sendiri ke bank untuk menabung.

Lulus dari SD jumlah tabungan saya hampir mencapai Rp3 juta, sedikit tipis dibandingkan kakak pertama saya. Sebagai anak pertama, uang jajan kakak saya tentunya lebih banyak dari saya, dan sering kali keluarga kami juga membedakan jumlah uang yang diberikan berdasarkan umur. Yang lebih kecil tentu dapat  lebih sedikit. Sementara kakak perempuan saya, hmmm, nilai tabungannya berada di bawah saya. Dari kecil kakak kedua saya memang paling boros.

Tiga tahun kemudian saya sudah duduk di bangku SMA. Ketika SMA saya sering diikutkan oleh sekolah mengikuti perlombaan sains antar SMA baik tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi. Dari perlombaan tersebut saya beberapa kali sering mendapatkan juara yang hadiahnya sering kali berupa uang dan piala. Yang artinya  juga, saya acap kali mendapatkan uang ekstra dari perlombaan tersebut.

Seperti kata pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit. Uang tabungan saya pun terkumpul hingga mencapai Rp10 juta-an ketika saya lulus SMA. Jika Merry Riana punya 1 juta Dollar ketika ia berusia 26 tahun, maka saya punya 10 juta hasil menabung ketika saya lulus SMA. Masih kalah jauh memang. Tapi saya bangga.

Apa yang saya lakukan dengan uang 10 juta tersebut? Tabungan tersebut adalah penyambung asa saya untuk melanjutkan pendidikan ke universitas. Ketika memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke Bandung, tiket pesawat bahkan uang masuk kuliah yang sebesar 2 juta kala itu, semuanya berasal dari tabungan saya.  Sejak krisis 1998, Bapak sudah lama menganggur. Ibu tentu saja tidak memiliki cukup uang  untuk menyekolahkan saya ke luar kota.

Saya juga masih ingat, kakak pertama saya menggunakan tabungannya untuk  membeli sepeda motor ketika dia masuk mulai kuliah. Itupun kami masih urunan untuk menggenapkan uang kakak dengan perjanjian bahwa motor itu adalah aset kami bersama. Sepeda motor itulah kendaraan pertama yang dimiliki keluarga kami sebagai penyambung kaki kakak saya untuk pulang setiap pekan dari ibu kota ke kota kecil kami. Kakak perempuan saya? Entahlah… Sepertinya tidak ada  barang fenomenal yang ia belikan dari hasil tabungannya.

Hingga saat ini, kebiasaan menabung telah menjadi darah daging di keluarga kami. Warren Buffet dalam bukunya mengatakan “do not save what is left after spending, but spend what is left after saving”.  Tapi ibu saya tidak pernah kenal Warren Buffet apalagi membaca bukunya. Ibu juga tidak pernah mendapatkan kuliah khusus mengenai financial planning  atau kenal dengan ilmu manajemen keuangan lainnya. Ibu hanya lulusan SMA yang belajar dari kerasnya hidup yang penuh dengan ketidakpastian. Saya  beruntung terlahir dari ibu yang penuh perencanaan dan dedikasi untuk mengajarkan kami anak-anaknya tentang pentingnya menabung. Mengajarkan  pentingnya kami memitigasi risiko ketidakpastian di masa depan dengan menyisihkan sebagian uang yang kami punya. Bahkan adik saya sudah memiliki rekening tabungan di bank saat usianya belum mencapai satu tahun.

Siapa sangka receh-receh yang saya kumpulkan sejak awal tahun 90an kemudian menjadi sangat berarti ketika saya gunakan di awal tahun 2000an untuk mengantarkan saya mengecap pendidikan di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.  Bagi saya, uang tabungan tersebut telah memainkan perannya dengan sempurna.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba yang diadakan LPS bertema “Inspirasi Ayo Menabung”*
 
#LOMBALPS #AYOMENABUNG

One thought on “Tabungan Penyambung Asa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s