(Bukan) Mahasiswa Lagi

Oke, pertama-tama saya ingin meminta maaf (kepada siapapun yang merasa-:P) karena sudah dua bulan lebih blog ini saya tinggal tanpa memberi kabar. Sebenarnya blog ini masih sering saya intip, kalau-kalau bisa membangkitkan mood saya untuk menulis. Tapi nyatanya, rasa malas berhasil menaklukkan saya.  Bukannya saya sok sibuk ato beneran sibuk tapi benar-benar mood saya tidak bisa diajak kompromi. Padahal saya sudah me-list hal -hal apa saja yang ingin saya tulis. Tapi rencana tinggal rencana, tanpa eksekusi (kebiasaan buruk saya).

Sesuai dengan judul postingan kali ini, resmi sejak tanggal 24 maret 2011, saya sudah bukan mahasiswa lagi. Alhamdulillah. Dan seremoni kelulusan ini pun sudah saya lalui di gedung Sabuga tanggal 9 April yang lalu. Tapi entah kenapa, bagi saya wisuda hanyalah euforia sesaat. Saya mati rasa, mungkin karena sudah terlalu sering melihat, menonton dan terlibat langsung dalam acara wisuda baik di himpunan, unit maupun langsung di Sabuga (baca: menjadi protokoler). Satu hal yang menyenangkan adalah Ibu dan adik saya berkesempatan ke Bandung untuk menyaksikan wisuda saya. Bahkan abang saya yang kebetulan sedang training di Bandung juga hadir di hari ‘bahagia’ itu. Di luar dari itu, semuanya adalah kegiatan yang melelahkan dan menghabiskan duit-:P.

Bagaimana tidak? Mengurusi syarat administrasi wisuda (tutup ini itu, bikin surat ini itu, bayar ini itu), bikin pas foto, beli bahan kebaya, jahit kebaya, cari sendal (ini permintaan Ibu, yang minta saya pake high heels–sumpah ga bakal2 lagi de-:P). Itu baru persiapan sebelum hari-H. Sore hari menjelang wisuda, ada acara syukuran di Program Studi yang seharusnya mengundang orang tua tapi karena Ibu berangkat dengan pesawat sore, akhirnya saya datang bersama abang saya. Pesawat yg ditumpangi Ibu ternyata delayed, dan baru nyampe di Bandung hampir tengah malam. Malam itu saya benar-benar tidak bisa tidur, entah kenapa ada perasaan tidak enak padahal besok seharusnya adalah hari yang berbahagia. Saya baru bisa tidur jam setengah 3 dan bangun lagi jam 4. Anehnya tanpa rasa malas dan kantuk, seolah-olah saya sudah tidur cukup. Saya pun berangkat ke Sabuga jam 7 lewat.

Selesai wisuda jam 12, kemudian menunggu giliran foto dengan rektor. Lalu mengikuti proses arak-arakan (saya pernah cerita disini) dan baru kelar  jam setengah 6 sore. Itupun saya tidak mengikuti acara lempar-lemparan balon air. Ibu, adik dan kakak saya telah pulang duluan sejak acara di Sabuga selesai. Dari semua yang melelahkan itu saya benar-benar terharu karena teman-teman  dan junior saya (dari SMA 1 Pariaman yang kuliah di Bandung) rela menunggui saya hingga arak-arakan selesai. Mereka bahkan telah datang sejak siang. Dan saya mendapat banyak bungaaaaaaa….Hahaha…That was the first time I got so many flowers-:D  Terima kasih sahabat dan adek-adek ku tersayang. You guys (and also girls-:P) definitely are my second family. I am so lucky to have you all… Bahkan pulang dari kampus pun saya di ‘arak’ oleh mereka hingga kosan padahal saya masih lengkap bertoga dan berkebaya. What a day…-:D. Seharian berteriak, malamnya suara mulai parau dan serak-serak basah terdengar seperti suara Afgan *kata teman saya*. Padahal esok hari Minggu-nya saya harus menemani Ibu belanja dan masih harus antri foto studio karena Senin paginya beliau sudah berangkat kembali ke Pariaman.

Efek satu hari wisuda itu benar-benar ‘mengesankan’ bagi saya.  Hari Senin tanggal 11 April, suara saya resmi hilang, saya seperti menjadi orang bisu (ini serius-:P). Bahkan ketika Ibu saya menelpon, beliau tidak bisa mendengar suara saya. Hari itu juga saya ke klinik BMG (Bumi Medika Ganesha) ITB, berharap bisa mendapat pengobatan secepatnya. Takut juga kalo tar  jadi beneran bisu. Serius, menjadi bisu itu sulit sekali. Ketika saya ke BMG naik angkot, saya meminta tolong – dengan bahasa bibir tanpa suara- seorang anak SMA yang kebetulan satu angkot dengan saya,  untuk meminta pak sopir berhenti. Aduh, mungkin si anak mengira saya gagu beneran. Bahkan saya masi ingat, tatapan prihatinnya melihat saya yang tidak bersuara.

Menjadi bukan mahasiswa lagi, bukan berarti kemerdekaan sejati. Sungguh, seperti kata-kata senior dan orang-orang yang telah mendahului saya, menjadi mahasiswa justru lebih banyak ‘untung’nya. Kita bisa berlindung dibalik status ‘mahasiswa’ untuk mendapatkan berbagai macam previlege dan benefit. Contoh yang paling nyata saya alami adalah ketika saya berobat ke BMG. Alasan saya ke BMG dibanding ke RS umum, tentu saja berharap mendapat pengobatan gratis. Mahasiswa ITB memang mendapatkan akses layanan kesehatan di BMG, dan hanya membayar uang administrasi yang waktu itu masih Rp 5000 sekali berobat (sekarang uda 10 ribu:P). Tapi karena saya yang bukan mahasiswa lagi, dan dianggap sbg masyarakat umum, terpaksa harus bayar adm Rp 20 ribu dan nebus obat 50 ribu. Ahhhhhhhh….duit lagiiiiiiiiii………:(((((( Kalo tau gitu, mending pas si Mba-nya nanya masih mahasiwa ato ga, saya jawab masih aja kali ya:P

Menjadi bukan mahasiswa lagi juga berarti, ketika saya harus mengisi suatu form yang meminta info tentang pekerjaan saya apa, sungguh saya tidak tahu harus mengisi apa. Harus mengisi pengangguran kah? Makanya ketika saya -karena tidak ada kerjaan- membuat paspor di kantor imigrasi Bandung saya pun menuliskan bahwa status saya adalah mahasiswa. Menjadi bukan mahasiswa lagi, juga berarti  bahwa saya tidak dapat menggunakan KTM a.k.a Kartu Tanda Mahasiswa sebagai alat untuk mendapat diskon ketika naik travel, menghadiri seminar ataupun acara-acara yang memberikan Pelajar/mahasiswa berbagai keuntungan lainnya.

Ahhh….mahasiswa beruntunglah kamu ketika masih menyandang status itu. Memang benar setiap tahap kehidupan yang (harus) kita lewati, adalah bagian hidup yang menjadikan seperti apa tahapan kehidupan kita berikutnya. Nikmatilah. Live within it to the fullest. Karena siap tidak siap, mau tidak mau, kita harus berhadapan dengan tahapan berikutnya. Dan pastinya tiap tahapan itu akan lebih sulit, lebih bermasalah dan lebih menantang makna kedewasaan yang kita punya. Goodbye college… Goodbye campus… Welcome to the real world!!!

Advertisements

Japan: The Way They Tell The World

Barusan baca sebuah tulisan dari mailing list himpunan. Tulisan yang ditulis oleh seorang mahasiswa Indonesia di Jepang itu bercerita tentang filosofi kehidupan di Jepang yang membuat mereka begitu perkasanya dalam menghadapi segala masalah, baik dalam konteks personal maupun kenegaraan. Filosofi ini pun terpraktekkan dengan jelas ketika Jepang dikejutkan dengan bencana Tsunami beberapa pekan yang lalu.  Mungkin banyak teman-teman yang uda baca tentang tulisan tersebut. Search aja di Google ‘Say YES to GANBAMARU!!!”, pasti dengan mudah tulisan tersebut dapat ditemui.

Setelah membaca tulisan tersebut, saya hanya bisa manggut-manggut. Tak salah dengan perkiraan saya selama ini. Saya memang bukan orang yang pernah tinggal di Jepang atau mempunyai kenalan maupun teman yang berasal dari Jepang. Saya mengenal Jepang dari sejarah negaranya. Saya mengenal orang Jepang lewat dorama-dorama, anime-anime, dan manga-nya. Dan itu semua sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mengenal budaya dan karakter orang Jepang.

Mungkin karena persepsi saya yang demikian terhadap orang Jepang dan negaranya, membuat saya merasa Jepang akan baik-baik saja setelah bencana dahsyat yang melanda negeri itu beberapa waktu yang lalu. Sungguh, tak terbersit di pikiran dan perasaan saya rasa ‘iba’ dan ‘kasihan’, karena saya tau Jepang akan baik-baik saja. Entah kenapa, bagi saya Jepang berhasil mencitrakan bahwa mereka akan bangkit dengan perkasa. We’ll be all right, begitulan kira-kira kalimat yang mereka sampaikan pada dunia. Bukan berarti mereka tidak butuh bantuan untuk kembali berbenah diri, tapi sekali lagi saya merasa teryakinkan bahwa mereka telah siap dan terlatih. Mereka akan tunjukkan pada dunia bahwa bencana ini bukanlah apa-apa. Sama halnya ketika bom nuklir meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki puluhan tahun yang lalu, bencana kali ini pun hanya akan menambah deretan catatan sejarah mengenai semangat juang  orang Jepang untuk bangkit dari keterpurukan.

Kondisi Jepang pasca bencana menurut saya sungguh tidak pantas digambarkan dalam lagu-lagu sendu dan pilu seperti tayangan lebay di salah satu stasiun TV nasional (ini stasiun emang terlebay mengabarkan-IMHO). Bahkan, menurut tulisan yang barusan saya baca, tidak ada tayangan dengan backsound lagu2 pilu  di stasiun TV di Jepang, ataupun penyebaran rekening-rekening peduli bencana. They have been ready all the time. Lihat saja, dalam beberapa bulan, Jepang akan memperlihatkan pada dunia seakan-akan bencana itu tidak pernah terjadi di negara mereka. Mental untuk keluar dari kegelapan, selalu berjuang untuk lebih baik, bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan, selalu belajar dari pengalaman, Jepang punya itu semua. Dan itu adalah modal luar biasa untuk terus maju dan maju, tak peduli berapa kali mereka jatuh dan terpuruk.

Banyak cerita dan tulisan yang saya baca, yang membuktikan bahwa karakter dan budaya orang Jepang sungguh sangat islami. Bagaimana mereka menghargai waktu dan kejujuran, continous improvement, budaya kerja  5 S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke), dan banyak lainnya. Bukannya itu semua telah kita kenal dan ketahui dengan jelas dalam Al Quran  dan Sunnah Rasul? Tapi orang Jepang dengan berhasil mempraktekkannya dan menjadikan mereka negara perkasa seperti sekarang.

Menulis ini, sebenarnya hanya ingin menceramahi diri saya sendiri. Betapa seringnya saya mengeluh, merasa Tuhan terkadang begitu tega menghujani saya dengan masalah demi masalah. Betapa begitu banyak nikmat Tuhan yang saya sia-siakan. Dan Tuhan, dengan Maha Kasih dan Penyayang-Nya selalu berhasil membuat saya tergugu, betapa kecilnya saya dan Maha Besar-Nya Dia. Begitu luar biasa Kuasa-Nya hingga ketika Dia berkehendak sesuatu terjadi maka terjadilah ia.   Semoga kisah ini, kisah Jepang dan kisah masing-masing kita di kehidupan selalu membuat kita menjadi  orang yang lebih baik, dan bisa memanfaatkan segala nikmat yang diberikan-Nya untuk sebanyak-banyak amal dan kebaikan. Amin.

* NB: O ya saya udah resmi bukan mahasiswa lagi. Alhamdulillah, Ya Allah. Thanks for everything. Will write another story about this, later.

 

Nostalgia Masa SMP

Beberapa jam yg lalu, saya menerima telpon dari sebuah nomor tak dikenal. Setelah main tebak2 an orang (jelas banget ga ada kerjaan), ternyata yg nelpon adalah teman SMP saya. Huaaa…di tengah-tengah stress TA yg tak kunjung selesai, saya senang banget ada yg nelpon, apalagi teman yg uda lama ga ketemu. Bahkan wajahnya dia aja, saya masih samar2, ups. Awalnya saya ga begitu mood menjawab pertanyaan dia, lg dimana? ngapain? uda lulus kan? hahaha pertanyaan yg sensi banget buat saya belakangan ini 😛 #no-offense.

Setelah ngalor ngidul nanya ini itu, tak terasa obrolan pun beralih pada masa-masa kami di SMP. SMP bagi saya bukanlah masa satu tahun atau dua tahun yang lalu. That was a long time ago, ten years ago. Hahaha… semakin menyadarkan saya bahwa saya tidak muda lagi, sudah kepala dua. Kata seorang teman, “Lah elok jadi induak urang (Sudah pantas menjadi seorang ibu)”. Seperti SMA dan SD saya dulu, SMP saya cukup dekat dari rumah. Bahkan sebelum saya pindah rumah terakhir kali,  rumah saya sangat dekat dengan SMP, tak cukup lima menit berjalan kaki.

Awal masuk SMP saya masih ingat saya sangat antusias sekali. Masuk SMP berarti jarak ke sekolah lebih dekat (lebih dekat dibandingkan sewaktu SD). Masuk SMP berarti saya bisa bangun siang karena untuk kelas 1 sekolah dimulai jam 1 siang. Masuk SMP berarti untuk pertama kalinya, setelah 6 tahun akhirnya seragam saya berubah warna : Putih biru. Masuk SMP berarti saya sudah bisa daftar les bahasa Inggris (karena bahasa Inggris baru diajarkan pas SMP). Masuk SMP berarti mempelajari pelajaran-pelajaran baru : Fisika, Biologi, Akuntansi, Ekonomi, Sejarah dan Geografi yang sewaktu SD terangkum dalam IPA dan IPS. Masuk SMP berarti ketemu teman-teman baru, guru baru, suasana sekolah yang baru dan tempat jajan yang baru. Saya benar-benar senang bisa lulus SD. Menanggalkan seragam putih merah yang sudah 6 tahun saya kenakan. Tidak lagi merasa horor di sekolah karena SD saya berlokasi di samping TPU aka Tempat Pemakaman Umum. Masih ingat dengan jelas di kepala saya : Saya begitu bahagianya bisa melanjutkan sekolah ke SMP.

Sewaktu pengumuman penerimaan siswa di SMP, saya tedaftar sebagai siswa dengan no urut 2 dari segi NEM. Kala itu NEM saya 44 koma sekian. Saya tak begitu ingat pelajaran apa saja yang di EBTANAS-kan saat itu. Yang pasti, saya cukup berbangga karena saya berada di no urut 2. No urut pertama tentu saja berasal dari SD favorit di tempat saya: SDN 29 Kampung Baru. SD ini terkenal dengan murid-muridnya yang pintar, gedung sekolah yang bagus (satu-satunya SD yang berlantai 2 di daerah saya) dan orang tua wali murid yang berekonomi “baik”. Tentu saja karena SD ini berada di kawasan yang dihuni oleh orang perantau yang rata-rata bekerja sebagai PNS, karyawan bank, TNI dan pedagang. Sebenarnya rumah saya lebih dekat dengan SD 29 dibandingkan SD saya yang sebenarnya. Tapi dengan alasan tradisi, saya juga didaftarkan oleh mama ke SD tersebut, SD 22 Lohong. Saya tinggal di desa Kampung baru dan menamatkan sekolah dasar saya di Lohong yang berbeda desa/kelurahan dengan tempat tinggal saya. Namun demikian, SD 22 masih bisa saya tempuh dengan jalan kaki.

Ahhhh…ko jadi ngomongin SD? Hmm, biarin de, sekalian nostalgia SD-;p. Hanya ingin kembali mengumpulkan mozaik kenangan yang masih tinggal di kepala saya.  Ok, mari kita kembali ke masa SMP saya. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini tidak ada lagi kelas unggul di SMP saya. O ya, namanya SMP 2 Pariaman, berlokasi di desa Kampung Baru juga. Seluruh siswa baru di acak penempatan kelasnya, dan terlemparlah saya ke kelas I-6. Hohoho….awalnya ngeri juga, masa saya di kelas I-6? kelas paling buncit no 2 setelah kelas I-7. Tapi takdir Tuhan memang luar biasa indahnya. Di kelas I-6 lah saya dipertemukan dengan orang-orang yang telah membuat kehidupan saya lebih berwarna (halah, bahasanya-;p). Bener loh. Masa SMP yang jauh jauuuuuuuuh menyenangkan dibandingkan SD. Apanya yang menyenangkan? pertama, wali kelas saya ganteng abis (menurut pandangan saya sebagai anak SMP kelas 1 saat itu). Nama beliau Maskur Hadi, mengajar Biologi. Tidak hanya wajah beliau yang enak di pandang, tulisannya pun enak dilihat dan dibaca. Tulisan yang sangat indah untuk seorang guru laki-laki. Saking stalker-nya saat itu, saya sering bersepeda hanya untuk melewati rumah Sang Guru, kebetulan tidak begitu jauh dari rumah saya.

Kedua, saya mendapatkan teman sekelas yang sangat menyenangkan. Teman yang saya maksud disini adalah teman perempuan karena penyakit saya dari SD (baca : tidak begitu menyukai teman laki2) sepertinya masih berlanjut di tahun pertama saya di SMP. Makanya saya merasa risih dan merasa terganggu jika ada teman laki-laki yang menghampiri saya, walaupun mungkin tujuannya hanya untuk menyapa. Teman sekelas saya : Pitria Hayati (Ipit), Eliza Edwar (Ija) dan Nining Hendrawan (Nining a.k.a Nining Cendawan-;p). They are the best friends ever yang pernah saya punya. Walaupun hingga kini jarang kontak2-an tapi bagi saya setiap kenangan bersama mereka begitu menyenangkan, memorable dan selalu membuat saya tersenyum jika mengingatnya. Oh, miss u all girls…

Saya duduk sebelahan dengan Ija di baris kedua dekat jendela dekat pintu kelas. Ipit dan Nining di baris pertama tepat di samping pintu kelas. jadi jika ingin keluar dari tempat duduknya, Nining kerap menggeser mejanya ke depan, karena lebih mudah lewat depan daripada harus keluar melalui sisi samping kursi tempat duduknya. hahaha…Penting ga sih, cerita yang beginian. Penting bagi saya, karena ketika menuliskan ini, kejadian itu terputar ulang di kepala saya.

Saya juga masih ingat, ketika kelas 1 SMP -perilaku egois peninggalan SD- yang saya miliki masih terlihat jelas. Cadiak buruak. hahaha… Bagaimana tidak? bayangkan saja, tiap pelajaran yang mewajibkan membawa buku Paket ke sekolah, saya tidak pernah membawanya. Alasan saya : berat!!! Hahahaha, hingga kini pun saya ketawa sendiri mengingat tingkah laku saya. Akibatnya saya selalu mengandalkan buku paket yang di bawa Ija. Walaupun dia sering menyindir saya karena tidak pernah mau membawa buku paket, tapi dia selalu mengijinkan saya berbagi buku paket dengannya. Ija, where’re  u now? Thanks for always bringing those books for me.

Ipiiiiiitt….hehe, walaupun kita satu SMA tapi semenjak terpisah dari kelas I-6, sepertinya kita jarang bersepeda bersama lagi pit. Aku jarang mengunjungi rumahmu. Kita tak janjian ke Mesjid bareng lagi. Tak lagi saling mencicipi nasi goreng buatan ibu kita. Tak lagi saling memberi hadiah ketika salah satu diantara kita berulang tahun. Tak lagi menjadi stalker Pak Maskur. Oh, miss all that time, Pit. O ya, Apa kabar Ibu? Riri?  I am so sorry Pit, bahkan ketika kakak dan Ayah-mu meninggal aku tidak begitu cukup dekat untuk mendampingimu. You have taught me about friendship, happiness and being strong. Thanks for everything, Pit. Time may changes us but there’s something that still the same. dan sesuatu itu memang ada pit(^_^). Hatimu. Senyummu. Hatimu masih seperti pertama kali aku mengenalmu di SMP, tak ada dendam, tulus dan sangat hangat. Senyummu masih manis dan menenangkan.

Nining: apa kabar dirimu? masih tinggal di Taluak (daerah di pinggir pantai Pariaman) kah? Apa kabar adek2mu? masih nakalkah? hahaha… kau masih ingat bagaimana aku, ipit, ija pagi2 menyatroni rumahmu. Yap, kami bersepeda menelusuri jalan sepanjang pinggir pantai untuk mencari rumahmu dengan bermodal sedikit petunjuk tentang lokasi rumahmu. Dan hebatnya kami menemukannya. Karena kami melihatmu keluar dari rumah. Masih terekam dikepalaku, nasi goreng buatan ibumu yang kau sajikan untuk menyambut kami. Bagaimana kita bermain di pantai di belakang rumahmu. Ah, kapan ya terakhir kali aku melihat mu Ning? masih ingatkah kamu betapa semangatnya dirimu jika yang mengajar adalah Pak Maskur, Pak Zul atau Pak Edison. Hahaha…mereka bertiga guru favoritmu kan? Guru favorit kita. Karena ketampanan mereka.  Ke-cool-an mereka. Cara mereka mengajar kita dan cara mereka memanggil nama kita. Nining, hope you’re just all right there. I am just fine here.  It will be so wonderful to have a reunion, right?

Wow….it has been a long note. Tak terasa. Padahal masih banyak yang ingin saya ceritakan. Itu pun baru kenangan di tahun pertama, belom lagi ketika saya di kelas II apalagi kelas III. Hmm…I will find the right time to write about them. Just wait. Hoaahhhmmm. It is 01.42 am already.  Still got something to do….Night everybody…

Insiden Kick Andy vs Tatty Elmir

Benar-benar berita yang cukup mengejutkan bagi saya. Awalnya saya mengetahui insiden pengusiran penonton di taping Kick Andy (KA) melalui twitter. Saya memang salah satu followernya @KickAndyShow. Saya juga salah satu fans acara Kick Andy, bahkan walaupun tidak sempat nonton di TV saya akan meluangkan waktu untuk menonton videonya di situs metro TV. Saya yakin banyak yang setuju bahwa acara KA telah menjadi semacam pencerahan di tengah berjibunnya acara-acara televisi yang tidak mendidik bahkan justru membodohi masyarakat. Tema-tema  yang diangkat di KA sedikit banyak telah menginpirasi saya dan juga jutaan penonton lainnya (yang menonton dengan hati – tagline Kick Andy). Oleh karena itu acara ini menjadi salah satu tontonan wajib bagi saya.

Hingga Jumat malam kemaren, saya cukup kaget mengenai berita yang ditulis di akun resmi KA Show. Akun tsb mengumumkan bahwa Andy F. Noya akan mengklarifikasi insiden pengusiran penonton yang terjadi pada saat taping (proses rekaman) salah satu tema yang akan diangkat di KA. Sekilas membaca berita lewat twitter tersebut, saya terus terang tidak begitu tertarik. Paling penonton yang tidak diundang, atau membuat keributan selama proses taping. Not care about it too much. Hingga barusan melalui twitter juga, KA Show memberikan link dimana Andy Noya menuliskan tanggapannya terhadap insiden pengusiran tersebut. Yang penasaran bisa baca disini.

Dalam tulisannya tersebut, Andy menyatakan bahwa seorang penonton mengakui telah diusir dalam salah satu proses. Si penonton juga melayangkan berbagai tuduhan dan kritikan terhadap acara KA dan sang host-nya sendiri, Andy F. Noya. Oh, tulisan yang begitu panjang ditulis Bung Andy di Andy’s Corner. Ada 21 poin  yang beliau sampaikan dalam tulisan tersebut. Hingga poin ke-9 saya dengan naif-nya langsung memvonis si penonton, menganggap penonton tsb kurang dewasa dan terkesan emotional. Tentunya saya membela Bung Andy, karena pembawa acara sekelas beliau pasti punya alasan kuat untuk melakukan pengusiran di depan 500-an penonton lainnya yang hadir pada saat acara taping tsb.

Namun, rasa penasaran membuat saya pengen membaca langsung blog yang ditulis oleh ‘orang yang terusir’ itu . Dan saya kaget, langsung mengucap “Astaghfirullah”, ternyata penonton terusir tersebut adalah ibu Tatty Elmir.  Anak UKM ITB pasti kenal dengan beliau. Walaupun tidak kenal secara personal dengan Bunda (begitu kami memanggil beliau – red), namun saya pertama kali bertemu Bunda di acara LKO  (Latihan Kepemimpinan dan Organisasi) yang diadakan UKM ITB. Saat itu beliau menjadi salah satu pembicara. Saya samar-samar ingat wajah dan perawakan beliau. Cara Bunda berbicara benar-benar membuat kami sebagai peserta terkesima. Dan saya juga baru tahu, kalo ternyata Ibu Tatty adalah mamanya Ni Jetsi. Ow… ini membuat saya lebih terkaget-kaget lagi.

Setelah membaca tulisan Bunda Tatty tentang pengusiran tersebut, saya merasa bersalah karena terlalu cepat menilai orang lain. Saya memaklumi alasan Bunda, terhadap kritikannya kepada Bung Andy. Saya juga sadar Bung Andy memang kerap mengeluarkan joke yang agak ‘nakal’ ketika mewawancarai narasumbernya. Dan jika memang begitu adanya seperti yang dituliskan oleh Bunda maka saya juga merasa kecewa dengan Bung Andy. Lalu karena tidak ingin  berlaku tidak adil terhadap kedua pihak *sok-sok pengen berlaku adil*, maka saya melanjutkan membaca tulisan Bung Andy hingga poin terakhir. Saya juga membaca tanggapan-tanggapan yang masuk di blog Bunda maupun di situs KA. Masing-masing pihak ada yang mendukung dan mengkritik.

Saya juga tidak bisa memutuskan siapa yang salah dan benar hingga menonton langsung versi yang akan ditayangkan di TV, karena menurut Bung Andy sendiri rekaman acara tersebut pastinya akan mengalami proses pengeditan. Hal-hal yang dianggap oleh Bunda tidak pantas untuk di-explore mungkin saja memang tidak ditayangkan. Terus terang, saya prihatin melihat dua orang yang saya kagumi, bersalah paham seperti itu. Beliau orang-orang hebat dan saya percaya keduanya memiliki itikad baik untuk kemaslahatan orang banyak. Seperti komentar salah satu penonton KA, saya harap permasalahan ini bisa dibicarakan baik-baik, bertatap muka dengan kepala dingan, hati yang jernih dan mengesampingkan ego masing-masing. Tidak kekanak-kanakan dengan saling melakukan pembelaan diri maupun tudingan melalui internet. Cukup sudah masyarakat kehilangan banyak tokoh teladan, dengan perilaku mereka yang tidak pantas. Dan sungguh saya tidak ingin memelihara rasa ‘ilfil’ ini lama-lama, baik terhadap Bunda maupun Bung Andy. Ayo Bung Andy, Ayo bunda Tatty tunjukkanlah kalian memang orang-orang yang berjiwa besar.

Life is An Adventure – Nutrilon Adv

Impressive. That is the first word come out of my mind when I see this advertisement on TV. That’s why I decide to write it in my blog. What an awesome commercial break. Just check this out.

I want to live my life to the absolute fullest

To open my eyes to be all I can be

To travel roads not taken, to meet faces unknown

To feel the wind, to touch the stars

I promise to discover myself

To stand tall with greatness

To chase down and catch every dream

LIFE IS AN ADVENTURE

 

Round and round (baca: raun-raun)

Judul postingan saya kali ini, bisa dibaca dari dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan Minang. kalo bahasa Inggris bisa diartikan kan sebagai keliling2, ato muter2. kalo bahasa Minang bisa dibaca sebagai raun-raun, yang artinya jalan-jalan.

Nah, walaupun dibaca dari dua bahasa yang jauh berbeda, ternyata artinya ga jauh-jauh amat tuh…hahaha…ngasal;-p

Yow, mari kita serius. Kenapa saya milih postingan dengan judul yang agak aneh ini (aneh gitu?) . Karena weekend kemaren emang saya habiskan dengan raun-raun. Pergi baralek (resepsi pernikahan) sebenarnya. Kebetulan saudara saya ada yang nikah hari Minggu kemaren. Kebetulan lagi acaranya di Leles, Garut. karena itu, saya jadinya round and round dari bandung ke Garut. ga muter2 juga sih-;p

O y saudara saya itu yang jadi  ca-penganten laki2nya. Sebenarnya dia ga tinggal di Bandung sih, tinggalnya di Tembilahan (Riau). Jadi ke Bandung emang cuma buat nikah terus memboyong istrinya ke pulau Sumatera. Karena berangkat dari Bandung-nya pagi-pagi hari Minggu, jadinya malam Minggu saya nginep di kosan teman saudara saya.

Saya bersyukur bisa nginep malam itu, karena artinya saya bisa nonton final bulutangkis –men double– asian games di TVRI. Secara di kosan saya, sedang tidak ada TV. Satu-satunya wakil Indonesia, Markis Kido dan Hendra Setiawan dengan perjuangan luar biasa berhasil lolos ke babak final, melawan pasangan no 2 dunia asal Malaysia-ga tau sapa namanya, ga penting juga-.

Awalnya karena malu2, baru dateng ke kosan orang, saya diem aja ketika ga bisa nonton. Pasrah. Tapi setelah si teteh di kosan itu, ngajakin saya nonton, langsung aja saya bilang, “Teh, tukar TVRI ya?”. Si teteh yg lagi nonton OVJ, entah terpaksa ato tidak, merelakan saya menukar channel ke TVRI. Agak promosi, saya pun sedikit bercerita ke si teteh, kalo ini laga Asian Games di Cina, yg maen Indonesia, satu2nya yg lolos final, tar kalo menang dapet emas, yg berarti emas pertama untuk bulutangkis Indonesia. Si teteh-nya mengangguk  saja dan ikut menonton dengan saya.

Waw…pertandingan yang luar biasa. Cukup untuk membuat saya teriak2 (padahal di rumah orang lo-;p), harap2 cemas sambil dalam hati terus berdoa: God, Please help Indonesia…Pleeeeeeease… Aduh, saya ga bisa cerita betapa serunya pertandingan malam itu- INA vs MAS. Walaupun saya baru nonton di pertengahan set ke-2. Set pertama pasangan INA kalah. Gila beneran deh tu pertandingan, bener2 bikin sport jantung. Bahkan si teteh yg nonton dgn saya ikut2an histeris. hahaha…ketularan saya kayaknya tuh…

Set ke-2 ALHAMDULILLAH (Thanks so muuuuuchhh God, for bring the hope back for Indonesia), pasangan INA menang 26-24 setelah memaksa deuce sebanyak 5 kali. Waw, kebanyang ga sih gimana tegangnya tu pertandingan.

Di awal set ke-3 pasangan INA bermain lebih bagus, walaupun pasangan MAS bisa menyamakan skor saat 19-19. Thanks God, Indonesia bisa mengejar 2 poin hingga memenangkan pertandingan malam ini. Saking senangnya, saya teriak kencang sekali saat itu, ga peduli di marahin orang serumah, Indonesia menang…menang.. menaaaanggg!!!

Saya pun tidur dengan perasaan lega dan bangga. Duh pengen deh, nonton pertandingan olahraga Indonesia di luar negeri sana, apalagi laga sekelas Asian Games. Pengen mendengar langsung lagu Indonesia Raya berkumandang di negeri orang, dilihat oleh seantero bumi dengan perasaan kagum, dan sejenak terlupa akan masalah2 di dalam negeri. Pengeeennnn!!!

Duh, ko malah ngomongin bulutangkis. Jalan2 nya mana? huehehe…ga pa-pa biar postingannya panjang. lagi mood ini;-p

Paginya sekitar jam setengah lima saya uda bangun. Tumben saya bisa bangun cepat-;p. padahal tidurnya lumayan larut. Mungkin efek bulutangkis tadi malam. Ah, uda…fokus!!! Abis shalat, beres2, mandi, etc. Jam setengah 6 mobil yg jemput pun datang.  Jam 6 kurang  kita uda berangkat, otw to Garut.

Di perjalanan saya ngantuk berat, tp anehnya g bisa tidur. dikit2 kebangun. jadinya saya tak jadi tidur hingga kami pun sampai di rumah penganten perempuan.

Menyaksikan langsung prosesi pernikahan dengan adat Sunda, jujur pertama kali ini saya alami. Berasa aneh, karena saya (walaupun uda lebih 4  tahun di Bdg) sama sekali ga ngerti bahasa Sunda. Tau dikit si kata2 Sunda, dikit banget tapi. Makanya ketika si MC dan acara2 lainnya di omongin pake bahasa Sunda, saya puyeng. Serasa di dunia lain. jadinya bosen. Orang2 pada ketawa ngakak (waktu si MC ngomongin entah apa), trus saya nya hanya melongo-longo tidak mengerti.

Ini juga pertama kali saya menyaksikan akad nikah secara langsung. Suasananya emang bikin nangis. Apalagi pas sungkeman, walopun ga tau si orang tua bisikan apa, tapi asli, saya jd ikutan terharu. Terharu apa mupeng? hahaha…

Nah, karena acaranya baru selesai jam 3 an, saya pun balik ke Bandung duluan. Sendiri. Baliknya pake apa? Orang Sunda menyebutnya elep, semacam minibus kayak mobil2 travel gtu. Tapi ini pastinya bukan travel, ga ada AC, tempat duduknya kurang nyaman, desak-desakan, lazimnya transportasi masyarakat umum. Untungnya saya di anter hingga bisa mencegat elep yg hampir penuh dan uda mo berangkat. Soalnya kalo ga penuh, ngetem-nya lama banget, gitu kata salah seorang yg nganterin saya.

Saya pun menaiki elep tersebut. Haa, jadi keinget bus Solok-Bukittinggi. Persis banget bus yg saya naikin kali ini. Masuk busnya susah.  Tempat duduknya sempit (buat kaki saya) jadi harus agak diangkat sedikit. Tapi ga papa, asal cepat sampai. Saya duduk di baris kedua dari belakang. Kiri kanan saya bapak-bapak.

Wooo…pas si bus mo jalan. Gileee…ini sopir mau balapan apa ya? ugal-ugalan, motong sana-sini, ngerem mendadak. Aduh… kalo mama saya yg naik bus ini, pasti dia langsung minta turun. Saya sih pasrah saja. Bismillahi tawakaltu ‘alallah. Hoaaaahmmm…Ngantuk.

Saya pun menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Karena  sandarannya rendah, jadi kepala saya agak sedikit tengadah. Ga enak sama orang belakang saya sebenarnya. Tapi, dasar saya-nya yang lagi ga peduli. Saya cuek aja. Ngantuk berat. Tiduuuur….

Sejam kemudian, uda jam 1 siang. Saya terbangun. Masih di atas bus. Huft, tidur saya lelap sekali. Nyaris tanpa gangguan. Ga kebangun sekalipun. Bahkan si kondektur juga tak membangunkan saya untuk menagih ongkos. Hmm…mungkin karena bus-nya ngebut, plus AC (Angin Cepoicepoi) yg sejuk banget,  saya pun tertidur lelap. Emang de, kalo bus ngebut enak dibawa tidur, daripada mati ketakutan, mending tidur.

Sempat terpikir, gimana kalo bus ini tabrakan. Padahal ga bilang ke Mama, kalo saya balik ke Bdg naik bus. Tapi, sekali lagi saya pilih pasrah aja. Pasrahkan pada yg Di Atas. Yang namanya takdir, mau ngelak kemana juga ga bakal bisa.

Bus ini keknya beneran ngebut de (yang untungnya saya ga nyadar seberapa kebutnya), masa satu jam uda nyampe aja di pintu tol Padalarang. Saya pun nyampe di Caringin setengah jam kemudian. Satu setengah jam saja, Leles-Caringin. Padahal biasanya baru nyampe 2 jam lebih, 2 jam aj uda cepet.

Dari Caringin saya naik angkot SSC a.k.a Sadang Serang – Caringin. Ini nih yg lama. 1 jam lebih, baru nyampe Simpang Dago. Mana ongkosnya di ambil 5 ribu lagi. Mahal. Pas turun, hujan gerimis. Saya pun berlari-lari kecil ke kosan.

Nyampe kosan. Capek… Tidur lagi… gara-garanya saya ga jd ketemuan teman jm 4. Maaf  ya Rin, ketiduran…

Addicted to One Republic

Awalnya niat mau tidur lebih awal malam ini. Berharap dgn mendengarkan radio lewat HP bisa membantu utk cepat tidur (tips yang sangat tidak dianjurkan-;p), saya pun langsung mematikan lampu kamar dan mulai memilih stasiun radio utk kemudian memejamkan mata.

Dan…ketika mendengarkan satu lagu Oz Fm, mata saya langsung melek kembali. Saya kenal suara vokalis lagu ini. Dan saya bisa langsung menebak,  ini lagunya One Republic. Secara mereka punya musik dan warna vocal yg khas. Saya masih terus menyimak lagunya. Saya baru pertama kali dengar lagu ini dan saya langsung suka.

Saya awalnya bukan penggemar One Republic. Saya cuma kenal satu lagu mereka, Apologize. Padahal saya punya album Waking Up (2009),  tapi saya hanya mendengarkan satu judul lagu saja di album itu, Secrets. Itupun terpengaruh status FB teman, yang bilang kalo lagu Secrets bagus banget. Dan saya pun memutar lagu ini berkali-kali sampai bosan-sampai hafal liriknya-;p.  Habisnya keren banget.

Ujung-ujungnya saya ga jadi tidur. Saya malah menyalakan lagi lampu, buka browser dan langsung search : favourite songs from One Republic. Secara saya tidak tahu judul lagu yg saya barusan dengar. Saya pengen dengar lagi. Saya ubek2 di album Waking Up ,tak saya temukan kata2 yg saya kira dengar di lagu itu (ga jelas juga sih liriknya apa).

Google emang ternyata lebih membantu. Saya langsung tahu judul lagu tersebut : Stop and Stare dari album Dreaming Out Loud (2007). Buka new tab, masuk ke 4shared, search album Dreaming Out Loud dan saya menemukan lagu yang saya cari -;p. Bahkan saya mendonlot beberapa lagu yang direkomendasikan sebagai favourite songs mereka.

Tak puas dengan hanya mendengarkan Stop and Stare, saya pun memutar semua lagu d album Waking Up. Aw, it’s awesome. Sebagian besar lagu di album tersebut langsung klop di telinga saya. Mulai de saya gatel search sana sini. VC lagu mereka di youtube, profil mereka di wiki, di website official mereka : onerepublic.net, dan saya semakin suka band ini.

Band ini punya pemain cello sendiri ternyata. Di beberapa lagu One Republic, alat musik gesek memang cukup dominan (yang menjadi salah satu alasan saya menyukai lagu2 mereka). Mereka juga punya pemain violin yg merangkap menjadi gitaris. Wow…saya pikir mereka menyewa grup orchestra untuk pembuatan lagu-lagu tersebut. Surprised, they own it all in one. Poin plus plus de buat mereka-;p

Bener de, ini band underrated banget utk masuk play list saya. Ican say, most of their songs are my favourite. Lagu-lagu mereka sesuai dengan selera musik saya. Hmmm…Sepertinya posisi Lifehouse dan Alex Band dalam beberapa minggu ke depan akan bergeser dr playlist saya-;p

Buat bonus, ini ada lirik Stop and Stare. Liriknya dalem juga ternyata-;p

This town is colder now, I think it’s sick of us
It’s time to make our move, I’m shakin off the rust
I’ve got my heart set on anywhere but here
I’m staring down myself, counting up the years
Steady hands, just take the wheel…
And every glance is killing me
Time to make one last appeal… for the life I lead

Stop and stare
I think I’m moving but I go nowhere
Yeah I know that everyone gets scared
But I’ve become what I can’t be, oh
Stop and stare
You start to wonder why you’re ‘here’ not there
And you’d give anything to get what’s fair
But fair ain’t what you really need
Oh, can u see what I see

They’re tryin to come back, all my senses push
Un-tie the weight bags, I never thought I could…
Steady feet, don’t fail me now
Gonna run till you can’t walk
But something pulls my focus out
And I’m standing down…

Stop and stare
I think I’m moving but I go nowhere
Yeah I know that everyone gets scared
But I’ve become what I can’t be, oh
Stop and stare
You start to wonder why you’re here not there
And you’d give anything to get what’s fair
But fair ain’t what you really need
Oh, you don’t need

What u need, what u need…

Stop and stare
I think I’m moving but I go nowhere
Yeah I know that everyone gets scared
But I’ve become what I can’t be
Oh, do u see what I see…

I think I’m moving but I go nowhere… menyindir progres saya ni, hehe…