JALAN PANJANG MENUJU SMART NATION

“Bayarnya pakai ini saja Pak.” ujar saya ketika taksi yang saya tumpangi mendekati pintu tol menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Saya pun menyodorkan sebuah kartu berwarna merah dengan logo bank di pojok kiri bawahnya. Sekilas mirip dengan kartu ATM atau kartu debet, namun sejatinya kartu itu adalah uang elektronik.

“Wah bisa pake ini ya Bu? Apa ini Bu? “. Si supir taksi mengambil kartu yang saya sodorkan  sambil tetap mengarahkan pandangannya ke depan kemudi.

Saya agak kaget. Baru kali ini ada supir taksi bandara yang saya tumpangi tidak mengenal uang elektronik untuk membayar tol. Padahal pembayaran tol menggunakan uang elektronik di Makassar telah dimulai sejak akhir tahun 2012. Prasangka saya, si bapak adalah supir taksi baru dan jarang mengantar penumpang ke arah bandara, atau mungkin memang masih jarang penumpang taksi bandara yang menggunakan uang elektronik untuk membayar tol.  Tanpa ambil pusing, saya pun menjelaskan kepada si bapak supir tentang uang elektronik, kegunaannya dan cara mengisi saldonya.

“Oh, begitu ya Bu.  Saya baru tahu ini”, ujarnya menutup pembicaraan. Kelihatan sekali si bapak supir sangat terkagum dengan manfaat dan kegunaan uang elektronik.

Peran Bank Indonesia dalam mendukung Smart City

Kejadian tersebut terreka ulang di ingatan saya tatkala saya berpikir akan menulis apa tentang smart citySmart city, atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi kota cerdas, belakangan ramai menjadi topik perbincangan terutama bagi pemerintah daerah dan pemerhati kota. Beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya bahkan telah mendaulat dirinya sebagai kota cerdas, yang memanfaatkan teknologi informasi untuk mengelola seluruh sumber daya di dalam kota dengan lebih efektif dan efisien.

Dalam rangka mendukung pengembangan smart city, Bank Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran, pada dasarnya telah memerankan porsinya dengan  baik. Sejak Agustus 2014, Bank Indonesia menggagas Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) sebagai upaya untuk mendorong peningkatan transaksi pembayaran menggunakan alat pembayaran non tunai.

Transaksi non tunai atau dalam istilah disebut sebagai smart money, tidak dipungkiri lagi memberikan berbagai kemudahan dan manfaat bagi masyarakat maupun pemerintah. Dengan bertransaksi non tunai, masyarakat dapat melakukan proses pembayaran dengan praktis, cepat, aman, dan transparan. Sementara bagi pemerintah, transaksi non tunai dapat menekan biaya cash handling untuk pencetakan, pengedaran dan pemusnahan uang. Karena proses transaksi menjadi lebih cepat, transaksi non tunai juga dapat meningkatkan sirkulasi uang dalam perekonomian sehingga mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Hal ini terkonfirmasi oleh penelitian yang dilakukan oleh European Central Bank pada tahun 2013 yang menyatakan bahwa transaksi non tunai berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah manfaat transaksi non tunai dalam perencanaan ekonomi. Karena bersifat non tunai, segala bentuk transaksi keuangan baik penerimaan maupun pengeluaran, dapat tercatat dan terdokumentasi dengan baik. Sebut saja dalam hal penerimaan pajak. Jika pembayaran pajak oleh masyarakat dapat dilakukan secara non tunai,  pemerintah akan mendapatkan data yang akurat terkait realisasi penerimaan pajak dalam setahun. Yang juga berarti bahwa peluang untuk dana tersebut disalahgunakan juga semakin minim. Untuk tahun berikutnya, pemerintah dapat melakukan perencanaan anggaran dengan lebih tepat dan akurat karena berdasarkan data yang reliabel. Tidak lagi garbage in, garbage out.

Melihat fenomena itu pula, dalam rangka mewujudkan smart governance, Bank Indonesia juga mendorong program elektronifikasi pembayaran pemerintah. Dengan program elekronifikasi, penermaan dan pengeluaran pemerintah dimigrasikan dari manual ke elektronis, dari tunai ke non tunai. Ya, Bank Indonesia jelas mendukung pengembangan smart city, namun apa yang masih terlewatkan?

PR Besar Masih Menunggu

Kembali ke cerita si bapak supir taksi.  Saya sempat merenung, jika seorang supir taksi yang tinggal di kota besar seperti Makassar saja tidak mengenal uang elektronik, apalagi orang-orang di pelosok daerah atau pulau-pulau terpencil di Indonesia. Ingatan saya tetiba melayang ketika saya melakukan edukasi kebanksentralan di pulau paling selatan Sulawesi, Kabupaten Kepulauan Selayar. Kepulauan Selayar merupakan satu-satunya kabupaten yang terpisah dari jazirah Pulau Sulawesi dengan kondisi wilayah 87% merupakan daerah perairan. Ketika saya mengenalkan GNNT di Selayar, alih-alih mengenal uang elektronik, berhubungan dengan lembaga keuangan saja mereka mungkin belum pernah.

Akses keuangan di Kabupaten Selayar relatif tertinggal dibandingkan kabupaten lainnya di Sulawesi Selatan. Indikator yang paling sederhana adalah rasio jumlah rekening tabungan per 1000 penduduk dewasa (angkatan kerja) yang pada tahun 2015 sebesar 782. Artinya, dari 1000 penduduk hanya 782 yang memiliki rekening tabungan. Bandingkan dengan Makassar yang sudah mencapai 1952 rekening atau Sulawesi Selatan yang sebesar 1490 rekening tabungan per 1000 penduduk dewasa. Jika ditarik ke level nasional, berdasarkan data World Bank tahun 2014, hanya 36,1% penduduk dewasa Indonesia yang mempunya rekening di lembaga keuangan. Kondisi ini masih jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Thailand 78,1%; Malaysia 80,7% dan Singapura 98,2%.

Inilah kemudian yang saya catat sebagai PR besar Bank Indonesia: inklusi keuangan. Bagaimana memastikan setiap individu memiliki akses penuh terhadap berbagai layanan keuangan yang berkualitas secara tepat waktu, nyaman, dan jelas dengan biaya terjangkau sebagai penghormatan penuh atas martabat pribadinya.

Dalam kaitannya dengan pengembangan smart city, kondisi keuangan Indonesia yang masih eksklusif adalah sebuah tantangan. Bagaimana mungkin masyarakat akan berpindah hati dari transaksi tunai menjadi non tunai jika dirinya belum berkenalan dengan yang namanya lembaga keuangan. Bagaimana mungkin mendorong masyarakat untuk membayar kewajibannya secara elektronis jika gaji mereka masih dibayarkan secara tunai? Bagaimana mungkin mewujudkan sebuah kota yang cerdas jika masyarakatnya belum tercerahkan? Dalam hal layanan keuangan sekalipun.

Bank Indonesia bukannya belum bergerak. Melalui Layanan Keuangan Digital maupun Program Elektronifikasi dan Keuangan Inklusif, Bank Indonesia telah bergerilya  di daerah untuk meningkatkan akses keuangan masyarakat. Berbagai upaya dilakukan, mulai dengan menggandeng pemerintah daerah dan instansi terkait dalam suatu payung nota kesepahaman maupun turun langsung melakukan edukasi kepada masyarakat umum maupun dunia pendidikan.

Namun kerja belum selesai. Dengan kondisi infrastruktur dan tantangan geografis di Indonesia, perjalanan menuju Indonesia yang berkeuangan inklusif adalah jalan yang panjang. Namun tidak pula berarti pula mustahil. Berbekal kepemimpinan yang visioner, konsistensi kebijakan, kolaborasi dan partisipasi aktif dari berbagai pihak, Indonesia akan mencapai ke arah sana. Menuju keuangan yang lebih inklusif, menuju kota dan negara yang tercerdaskan.

(Tulisan ini juga telah dimuat pada blog pribadi https://alwaysanita.wordpress.com).

Mt. Guntur : My Very First Mountain

Pendidikan klasikal selama 3 bulan di LPPI yang saya lalu sejak pertengahan Februari lalu benar – benar menguras mental dan pikiran. Mendengarkan materi selama lebih kurang 7 jam setiap harinya, ujian setiap paginya cukup membuat saya jenuh dan otak serasa penuh.

Setelah sempat beberapa kali tertunda untuk mendaki gunung, akhirnya saya punya kesempatan untuk mencoba pendakian pertama saya. Ketika saya mendapat pesan WA dari Melissa, mengajak untuk naik Gunung Guntur, tanpa babibu saya langsung balas, ” I’m in”. Saya baru kemudian googling gambar Gunung Guntur dan sempat membaca blog orang yang pernah mendaki gunung tersebut. Long weekend 29 – 31 Maret lalu menjadi pengalaman tak terlupakan bagi saya. Bersama teman – teman perjalanan yang ‘gila’ dan kocak, terjalnya jalur yang kami daki dan turuni, menjadi saksi bahwa kami menikmati setiap momennya. Benar kata pepatah, it’s not about where would you go, it’s about who you go with.

Seminggu sebelumnya saya sudah survei harga – harga peralatan dan printilan untuk mendaki. Butuh modal yang besar pastinya, karena itu saya memutuskan untuk meminjam apa yang bisa dipinjam. Tiga hari sebelum pendakian, saya sudah tidak konsentrasi untuk belajar ujian, hanya untuk memikirkan apakah harus pinjam carrier (*karena saya tidak sempat untuk memutari toko- toko outdoor), harus cari sepatu gunung atau pakai sandal gunung yang saya punya dan sebagainya sebagainya. Akhirnya saya memutuskan untuk memakai tas ransel bekas Samapta di Lemdikpol, pinjam sleeping bag dan jaket Iktri. Lumayan, saya tidak perlu mengeluarkan gocek yang terlalu banyak.

Perjalanan dimulai dari terminal Kampung Rambutan, Jumat 29 Maret. Bersama 6 orang teman Pengajar Muda III, Mas Teguh dan 4 orang teman baru, kami bertolak ke Garut pukul 12 malam dan sampai di Tarogong pukul 4 pagi hari berikutnya. Kami berhenti di sebuah SPBU sambil menunggu truk yang akan mengantar kami ke titik pendakian Gunung Guntur. Kami bergabung dengan rombongan lainnya sehingga bak truk penuh dengan carrier dan kerumunan orang ‘gila’ yang rela berdesak desakan, dorong-dorongan, tarik- tarikan, dan kotor- kotoran, ketika truk menggoyang muatannya melewati jalur yang cukup rawan.

Gunung guntur memiliki ketingginan 2249 mdpl, tergolong rendah bahkan dibandingkan dengan Gunung Papandayan. Dari bawah gunung ini kelihatan jinak untuk ditaklukkan. Eits, tapi tunggu dulu. Jangan pernah men-judge gunung dari covernya.


Setelah lebih kurang 30 menit berjalan, kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu ketika menemukan sumber air. Tim dapur, saya dan Veri pun mulai beraksi. Saya kebagian memasak nasi dan Veri memasak lauknya : telur kuah asam pedas. Makanan pun kami lahap sampai jilatan terakhit. Entah memang karena kelaparan atau suasana alam yang mendukung sehingga apapun yang kami makan terasa nikmat. Setelah makan dan beres-beres kami pun melanjutkan perjalanan ke atas. Perjuangan sebenarnya dimulai dari sini.

Beberapa jam pertama, kami masih mendaki di bawah lindungan pohon – pohon. Hingga kemudian tidak ada jalur lain, kami harus melewati track yang gersang, hanya ditumbuhi rumput dan ilalang -ilalang pendek.

Matahari semakin garang memuntahkan panasnya dan lelah pun datang mendera. Kami terus menyeret kaki yang terasa berat dan punggung yang terasa penat menahan beban carrier yang tidak ringan. Ibarat melihat oase, melihat sebatang dua batang pohon di kejauhan menjadi motivasi kami untuk terus bergerak meski terkadang tak jarang saya harus merangkak. Sempat saya termenung, menertawakan diri sendiri, “What am I doing here?”. Hufft…

Tak terhitung berapa kali kami melepas lelah. Ada pohon berarti istirahat. Tidur di bawah pohon rindang, dengan semilir tiupan angin gunung, sungguh menjadi kenikmatan sendiri. Namun perjalanan belum selesai. Seperti kata Edy Tanzil di Ring of Fire, “Rest, if you must, but don’t you quit”.

guntur_2

Photo by Gatya

Makin mendekati puncak, makin terjal trek yang harus kami daki. Beberapa kali saya sempat tertipu, mengira puncak telah dekat. Tapi justru yang kami temui sedikit tanah landai yang di depannya pendakian yang lebih terjal lagi. Saat lelah berkali kali membuat saya terduduk, tanpa rindang pohon yang melindungi, saya mengedarkan pandangan ke bawah, ke arah alur terjal yang telah saya lalui. Rumah – rumah penduduk di bawah terlihat semakin kecil dan saya merasa semakin dekat dengan langit.

Setelah perjalanan melelahkan selama 8 jam dati titik pendakian, kami akhirnya sampai di puncak ketiga. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di puncak ini, bersama para pendaki lainnya. Cukup ramai yang mendaki. Bahkan saya bertemu Sita, teman satu kosan ketika tahun pertama kuliah di Bandung. Ah, dunia sempit sekali kan?

Malamnya kami tidur lebih awal, karena esok pagi ingin mengejar sunrise di puncak kedua. Jam empat pagi kami bersepuluh, minus Veri (yang ga ikut karena lebih baik menyiapkan sarapan untuk kami:D) dengan bermodal senter meniti jalan menuju puncak dua. Setengah jam saja, kami sudah ambil posisi untuk menikmati pemandangan sunrise. Ini sunrise pertama saya di puncak gunung. Matahari dengan anggunnya keluar perlahan lahan dari tempat peraduannya. Cantik sekali. Pemandangan yang saya bayar cukup mahal dari hasil pendakian seharian.

10176269_10203571187306462_504260421_n

Photo by Gatya

Setelah puas menikmati sunrise dan tentunya berfoto- foto ria, kami pun melanjutkan perjalanan ke puncak ketiga. Titik tertinggi di gunung Guntur. Dari puncak dua ke puncak tiga, tidak terlalu jauh, cukup 15 menit saja.

Yeaayyy!!! Dan saya seperti berada di negeri di atas awan, dengan kabut mengelilingi kami. Dan hebatnya lagi, sinyalnya kenceng pooooll dari sini. Saya pun sigap berpose, uplot di path ” Live from the top on 31 March 2014 at 07.09 am “.
So this is it, the luxury of mountain climbing. Saya tidak jera, saya masih ingin ke puncak- puncak lainnya:)

guntur_4

Photo by Gatya

Air Terjun Nyarai : Emerald Waterfall

Libur satu minggu dari hiruk pikuknya Jakarta tak mau saya lewatkan begitu saja. Jauh-jauh hari saya sudah menginfokan kepada teman-teman perihal kepulanganku ke Padang. Mario mengusulkan kami untuk trip ke Air Terjun Nyarai yang katanya bagus pake banget. Dan berbekal google saya pun menemukan sebuah blog (lubuak-aluang.blogspot.com) yang memuat tempat- tempat wisata di Lubuk Alung. Salah satu tempat yang kelihatan amazing dari fotonya adalah Air Terjun Nyarai ini. Nih… Bikin mupeng kan? *ini foto polos tanpa editan.

nyarai1
Lubuk Alung merupakan ibukota Kabupaten Padang Pariaman. Air terjun Nyarai sendiri berada di jorong Garaman, Lubuk Alung dengan jarak tempuh kira-kira satu jam dari Bandara Internasional Minangkabau. Untuk mencapai ke posko Air terjun Nyarai, memang lebih mudah dengan mobil pribadi.

Tapi hari itu saya dan teman-teman sepakat untuk naik transportasi umum karena letaknya yang tidak begitu jauh dari Padang. Saya berangkat dari rumah saya di Ombilin dengan travel dari Jambi. Lalu kami janjian bertemu di Simpang BLKM Jambak. Karena bingung naik apa ke dalam, saya pun meminta travel kami mengantar ke dalam. Dari hasil tanya warga sekitar, jaraknya hanya sekitar 5 km menuju posko Air Terjun Nyarai. Tapi setelah mengalami sendiri, ternyata cukup jauh sekitar 10 km mungkin.

Ketika sampai di posko, sudah ada bapak-bapak yang menyambut kami, lalu kami diantar ke sekretariat, mendaftar, bayar 20 ribu untuk HTM dan guide. Di depan posko, terpampang baliho yang mengambarkan rute perjalanan yang akan kami tempuh.

nyara_1ed

Kami sangat excited karena foto Air Terjun Nyarai telah memanggil-manggil. Walaupun agak khawatir dengan medan perjalanan yang akan ditempuh, saya meneguhkan hati. Udah sampai kesini. Harus bisa. Apalagi ada guide, insya Allah semuanya lancar dan pulang kembali dengan selamat.

Perjalanan yang sangat melelahkan. Setengah jam pertama kami sudah ngos-ngosan, akibat sudah jarang berolahraga. Terakhir kali saya trekking adalah saat mendaki bukit di belakang desa saya di Halmahera Selatan bersama anak-anak. Itu pun juga dua jam, dengan kondisi semua barang bawaan saya dibawakan oleh anak-anak. Sekarang, dengan tas punggung yang cukup berat, medan yang penuh tanjakan, kaki lecet, sepatu diseret (seperti nyanyian waktu di Kopasus-:p), dan panas yang menyengat membuat setiap langkah begitu berat. Kami sempat istirahat tiga kali sepanjang perjalanan. Mulai trekking pukul 09.10 dan kami pun sampai pukul 11.00. Cukup hebat bukan?

Seperti kata temanku, lelah ini akan tergantikan ketika kami sampai di tujuan nanti. Dan benar adanya. Melihat secara langsung pemandangan yang sebelumnya saya lihat di foto- foto di internet, benar-benar amazing!! View yang saya lihat dengan kasat mata, sama indahnya dengan foto-foto yang beredar di internet. Inilah yang disebut dengan kemewahan alam. Kelelahan yang mendera selama 2 jam tadi, menguap begitu saja ketika saya menceburkan kaki ke dalam dinginnya air terjun. Very refreshing and relaxing!!

nyarai_3

Setelah puas mandi, terjun dari batu dan foto dengan berbagai pose dan sudut, perut kami pun mulai keroncongan. Ah, sudah lama tidak merasakan nikmat seperti ini. Makan di tengah batu besar di kerumuni hijaunya pepohonan dan backsound alunan suara air mengalir. It’s just too perfect. Seusai makan? Ya mandi-mandi lagi;) Air sungai yang bewarna hijau emerald begitu menggoda pengen diceburin.

Hal-Hal yang nikmat memang terasa cepat berlalu. Waktu sudah menunjukkan jam setengah 2. kami pun merapikan barang-barang, foto-foto lagi (teteuppp:-p) dan melanjutkan perjalanan pulang. Terbayang 2 jam yang melelahkan dan penuh keringat lagi. Tapi entah kenapa setelah mandi, langkah terasa ringan. Jalan kami lebih cepat bukan hanya karena medan yang menurun tapi karena kepuasan yang kami dapatkan. Ah, jadi beginilah yang dirasakan orang-orang yang biasa naik gunung. Perjuangan memang ketika berusaha mendaki ke atas, apakah kita akan menjadi quitter, camper atau climber! Dan hari ini kami telah menjadi climber!! Cheers!!!

nyarai_4

 

Cengkeh Penyambung Asa

???????????????????????????????Ketika Musim Cengkeh Datang

Apa yang dinanti-nanti oleh seluruh penduduk desa Bajo, Kabupaten Halmahera Selatan ketika libur kenaikan kelas datang? Bukan liburan ke tempat – tempat keramaian atau sekedar jalan- jalan di pusat kota seperti Ternate. Bukan. Bukan itu. Jika mereka diberikan pertanyaan, peristiwa apa yang paling berkesan dari tahun kemaren, tahun ini atau mungkin tahun depan. Tentunya jawaban mereka akan sama. Musim cengkeh. Ya, sang pujaan yang mareka nantikan penuh harap setiap tahunnya adalah musim cengkeh. Ada apa gerangan di musim cengkeh?

Mungkin kita masih ingat pelajaran Sejarah di bangku SMP, bahwa  bangsa Portugis dan Spanyol pertama kali datang ke Indonesia karena tertarik dengan rempah rempah di Maluku. Rempah – rempah saat itu dianggap komoditi dagang yang sangat menguntungkan. Ya, selama saya di Halsel pohon yang paling banyak saya temui adalah pohon pala dan cengkeh. Entah sudah berapa umur pohon – pohon cengkeh dan pala disana. Mungkin itu pohon – pohon yang sama ketika Portugis dan Spanyol datang ke Maluku.

Awal musim cengkeh berbeda untuk masing-masing pulau. Umumnya dimulai sejak bulan Juni hingga Agustus. Pada bulan – bulan tersebut pohon-pohon cengkeh akan siap untuk dipetik. Saya tidak tahu persis bagaimana musim cengkeh pada tahun – tahun sebelumnya. Tapi bagi saya yang sudah hampir satu tahun berada di desa ini, mengalami musim cengkeh merupakan peristiwa yang sesuatu bagi saya. Kenapa tidak?

Di desa Bajo, tidak semua warga memiliki kebun cengkeh, tapi jika musim cengkeh datang hampir semuanya dibuat sibuk. Tua, muda, besar, kecil semuanya turun ke kebun. Bagi yang tidak mempunyai kebun sendiri, biasanya menjadi buruh panjat di tuan empunya kebun. Sedangkan anak- anak saling berpacu untuk bapunggul (mengumpulkan) cengkeh-cengkeh yang sudah jatuh ke tanah. Tidak peduli siapa yan­­­g punya kebun cengkeh, yang paling cepat dialah yang dapat banyak.

Cengkeh yang diperoleh dengan bapunggul dapat langsung dicuci dan dijemur. Sementara cengkeh hasil memanjat masih harus dibuang tangkainya. Satu tangkai biasanya berisi 5 sampai 20 biji cengkeh. Disinilah serunya­. Cengkeh yang dibawa berkarung-karung dari kebun, akan digelar di teras atau ruang tengah rumah. Lalu orang – orang akan datang beramai-ramai untuk turut membantu membuang tangkai cengkeh. Orang sini menyebutnya bapatah cengkeh (berpatah cengkeh).

Mengalami musim cengkeh, saya benar-benar banyak belajar tentang kearifan lokal disini. Setiap pekerjaan yang berhubungan dengan cengkeh, ada caranya tersendiri. Cara yang pintar dan unik, menurut saya. Seperti cara bapatah cengkeh, bapunggul ataupun menjemur cengkeh di atas terpal. Kedengaran gampang bukan? Apa susahnya mematahkan tangkai cengkeh, memunguti cengkeh yang jatuh atau bahkan menjemur cengkeh dibawah sinar matahari? Ya, itu menurut Anda dan saya (dulunya). Tapi sungguh jika Anda tidak tahu caranya, Anda akan setengah mati untuk mengerjakannya.

Untuk bapatah cengkeh, jangan katakan Anda akan membuang tangkainya dengan memetik satu – satu biji cengkeh seperti saat Anda memetik buah rambutan, memetik satu persatu dari tangkainya. Tangan Anda akan keburu pegal sebelum Anda menyelesaikan bapatah cengkeh satu karung. Cara jitunya adalah dengan memegang tangkai cengkeh di satu tangan dan mematahkannya pada telapak tangan lainnya.  Crek, sekali patah, langsung puluhan bulir cengkeh berguguran. Dan untuk bisa dengan cepat melakukannya, Anda harus belajar dan berlatih.

Sama halnya ketika bapunggul cengkeh. Jika Anda berniat memunguti cengkeh yang jatuh dengan satu tangan, tamatlah riwayat Anda. Teman Anda sudah mengumpulkan satu kaleng cengkeh sementara Anda mungkin belum sempat mengisi dasar kaleng Anda. Anda harus memunguti cengkeh dengan kedua tangan, kiri dan kanan dua- duanya bekerja. Tidak pakai lama. Apalagi ketika menjemur cengkeh. Anda harus benar-benar belajar caranya terlebih dahulu. Kalau tidak, Anda akan berakhir dengan berputar putar di atas terpal besar yang sudah Anda bentangkan, tanpa pernah selesai – selesai menyebarkan cengkeh dengan rata di permukaan terpal.

Semua ada caranya. Saya masih ingat, Ibu saya selalu bilang. Pikirkan dulu sebelum mengerjakan sesuatu. Jangan pernah menganggap gampang suatu pekerjaan hanya karena pekerjaan itu kelihatan gampang. Coba kerjakan dulu sendiri, baru bisa bilang gampang atau susah.

Rupiah Bulir Cengkeh

Berapa uang yang bisa dikumpulkan dari setiap bulir cengkeh yang dipetik? Satuan dalam perdagangan cengkeh disini adalah cupa. Satu cupa sama dengan satu kaleng kecil susu kental manis. Satu cupa dihargai Rp 3000 hingga Rp 4000 rupiah untuk cengkeh mentah. Sementara cengkeh kering biasa dijual per kilo dengan harga satu kilogram 70 ribu hingga 85 ribu, tergantung suplai cengkeh di pasaran. Mahal atau murah? Entahlah.

Bagi saya yang lulusan Teknik Industri masih susah untuk mengkuantifikasi biaya produksi hasil pertanian. Sulit menominalkan dengan uang berapa biaya setiap usaha jerih payah mulai dari menanam tanaman, merawat, hingga memetik hasilnya. Belum lagi proses pengolahannya hingga dapat dijual ke pasaran, mulai dari membersihkan tangkai cengkeh, menjemur hingga membersihkan cengkeh setelah dijemur. Bahkan jika ingin dibuat rumit, itupun belum termasuk perhitungan resiko ketika proses panen, penjemuran hingga kondisi pasar saat penjualan. Semuanya terlalu kompleks untuk dikalkulasikan.

Tapi saya sungguh takjub dengan perubahan sosial yang terjadi ketika musim cengkeh. Apalagi musim cengkeh tahun ini berdekatan dengan tahun ajaran baru dan lebaran Idul Fitri. Tentulah dua titik waktu itu merupakan dua antara sekian titik waktu dalam setahun dimana setiap keluarga harus memiliki simpanan uang ekstra.

Dengan adanya panen cengkeh, ibu-ibu tidak perlu khawatir memikirkan biaya sekolah yang harus dikeluarkan untuk anak-anak mereka, terutama yang baru memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Anak-anak PAUD masuk SD, lulusan SD masuk SMP, lulusan SMP masuk SMA juga yang baru lulus SMA yang ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana Tuhan memberkati penduduk desa ini dengan adanya cengkeh. Saya menyaksikan bagaimana Anto, salah satu siswa di SD Sawangakar, dapat mendaftarkan diri di salah satu SMP favorit di ibukota kabupaten. Anak pulau itu sedang merintis tangga menggapai cita-citanya, keluar dari desanya yang tidak bersinyal dan berlistrik menuju kota kabupaten yang lebih “berkehidupan” sosial. Anto tidak meminta uang pendaftaran bernilai ratusan ribu itu kepada bapak atau ibunya. Tapi dia mengumpulkan sendiri lembar demi lembar uang untuk dapat melanjutkan sekolahnya. Seusai ujian nasional, dia meninggalkan desa menuju Pulau Muari, salah satu pulau penghasil cengkeh terbesar di Halmahera Selatan. Anto bapunggul cengkeh, bersama puluhan warga Sawangakar lainnya di Muari. Tak terbayangkan jika saat itu bukan musim cengkeh, cara mana lagi yang tercepat untuk mendapat uang ratusan ribu dalam hitungan dua minggu. Mengail? Ikut kapal penangkap ikan? Itu semua penuh dengan ketidakpastian.

Atau kisah adik piara saya yang bisa melanjutkan kuliah ke kota propinsi di Ternate, karena kebun cengkeh warisan keluarga sedang mengeluarkan bunga- bunganya yang bernilai uang. Bapak piara saya memboyong karung berisi ratusan kilogram cengkeh untuk dijual ke Ternate.  Hasil penjualan cengkeh tersebut bisa membiayai anak keempatnya untuk kuliah di Ternate juga mengongkosi putri ketiganya yang sedang sekolah Kebidanan untuk studi banding ke Pulau Jawa. Cahaya harapan adik piara saya untuk tetap kuliah masih bisa terus bernyala karena berkah musim cengkeh. Saya bisa katakan bahwa hampir seluruh anak usia sekolah di desa ini dapat melanjutkan sekolah, membeli seragam dan buku baru, dari jerih payah mereka untuk bapunggul atau memetik cengkeh.

Tidak hanya untuk membantu biaya pendidikan, cengkeh juga telah memeriahkan suasana Lebaran di desa Bajo. Rumah – rumah panggung dari papan yang warnanya sudah kusam kini berganti dengan warna baru. Masing-masing keluarga sibuk mengecat rumah mereka, sekaligus untuk menyambut libur Lebaran. Anak- anak heboh berkeliaran dengan baju baru yang mereka peroleh dari hasil penjualan cengkeh. Ah, cengkeh memang surga bagi mereka. Berakhirnya musim cengkeh juga pelan – pelan mengakhiri wajah sumringah para mama, papa, om, kakak, cewe, dan nyong disana. Namun mereka percaya masih ada asa, di musim cengkeh tahun depan.

Titik Nol Sebuah Resensi

indexIni adalah karya Agustinus yang kedua yang saya baca setelah Selimut Debu. Tidak bisa saya bandingkan, karena Selimut Debu pun tak selesai saya baca saat itu (Ah, pengen baca ulang). Namun ketika membaca Titik Nol saya bisa merasakan perbedaaan yang kentara dibandingkan Selimut Debu atau dengan travel writing lainnnya. Ditulis dengan plot cerita yang paralel, tapi memiliki benang merah yang sama, merupakan cara yang jenius menurut saya. Pantas saja Agustinus mengatakan bahwa ini adalah buku yang paling sulit beliau tulis hingga mengalami berulang kali perombakan. Bagaimana tidak, mengorek-ngorek kembali kenangan lama atau bahkan luka yang tidak ingin diingat lagi, siapa yang tahan untuk menceritakannya kembali. Dengan berani dan jujur tentunya.

Saya pun merasakannya betapa emosi yang Mas Agus yang tertuang dalam tulisannya ini berhasil tersampaikan dengan baik. Tepat menghujam di lubuk hati pembaca. Setelah membacanya, dada sesak, perasaan kalut dan nelangsa. Namun di satu sisi ada rasa puas yang melegakan. Seperti memakan permen mint, pedas di awal kita mengemutnya namun berujung pada rasa dingin menyegarkan di tenggorokan.

Resensi ini pun begitu sulit untuk saya tulis. Saya tidak ingin menceritakan seolah-olah buku ini begitu ‘ringan’-nya untuk dibaca sehingga dengan sangat mudah dan cepat saya bisa ceritakan plus minus buku ini. Jangan dengan remehnya berpikiran bahwa buku ini sama seperti kebanyakan travel writing yang lainnya, yang dengan gampang Anda bolak-balik halamannya, Anda pilah pilih cerita atau pengalaman unik si penulisnya. Tidak. Secara konten, saya bisa katakan ini buku ‘berat’. Setiap kata-kata, kalimat dan paragraf merupakan hasil perenungan dan penghayatan penulis terhadap makna yang beliau dapat selama perjalanan. Filosofis mungkin. Cerdas pasti. Tapi saya yakin tiap-tiap kata filosofis itu merupakan kulminasi dari perjalanan beliau bertahun-tahun. Makna yang dipetik dari setiap episode perjalanan yang penulis lakoni.

Tapi hebatnya, buku ini tidak akan membuat anda mengerutkan dahi untuk berpikir layaknya buku yang dengan tema serupa. Membaca buku ini, tidak mengajak Anda untuk berpikir secara hitam dan putih, mana yang benar dan salah. Lewat buku ini Anda diajak bercermin dan merasakan. It makes you feel, not judging or blaming.

Mungkin karena penulis juga bercerita dalam bahasa universal : bahasa cinta. Ya, Agustinus tidak hanya mengajak pembaca untuk ikut menyelam dalam petualangannya di negara-negara Asia Tengah namun juga meresapi perjalanan seorang anak mengantar kepergian Ibunda tercinta. Cerita universal ini menunjukkan eksistensi sisi humanis seorang Agustinus, bahwa setiap orang akan jatuh dan terluka ketika kehilangan orang yang dicintainya. Tak peduli betapa keras perjalanan hidup yang dialaminya, betapa tidak manusiawi potret kehidupan yang ia saksikan setiap hari, setiap orang pun layak untuk menangis. Bahkan untuk seorang jurnalis seperti Agustinus yang terbiasa melihat tangis dan kematian di daerah konflik yang ia kunjungi.

Segala teka teki yang awalnya terlintas di benak saya, terjawab sudah ketika selesai membaca buku ini. Kenapa di buku ini tidak ada peta? Awalnya saya kurang nyaman karena harus menebak-nebak di sebelah manakah Nepal dan Tibet itu, namun baru saya mengerti kemudian. Agustinus memang tidak ingin menjadikan buku ini sebagai buku panduan perjalanan. Ah, saya setuju sekali. Itu sama saja Anda menjatuhkan nilai buku ini dengan segala pemaknaanya hingga ke titik nadir. Apalah arti sebuah tempat yang terkotak-kotak oleh garis batas buatan manusia. Kehidupan disana sama-sama pantas diperjuangkan, bukan?

Juga dengan misteri kalimat membingungkan di cover depan buku ini, juga terjawab dengan indah.

Perjalananku bukan perjalananmu.
Perjalananku adalah perjalananmu.
Ya, perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku (Paul Therox).

Oh iya, setelah membaca buku ini saya ingin menonton kembali serial Kera Sakti, Sun Gu Kong. Tak dinyana, kisah perjalanan seorang kera bersama Guru dan teman-temannya yang kocak mengilhami Agustinus untuk melakukan perjalananan menjelajah Asia Tengah. Terima kasih Mas Agustinus. Harga buku yang tergolong mahal untuk kantong saya ini, tidak bisa saya bandingkan dengan pemaknaan yang saya dapat. Nilainya jauh, jauh lebih mahal.

Resensi : Rembulan Tenggelam di Wajahmu


Apa yang bisa saya katakan setelah membaca buku Tere Liye kali ini? Saya tidak bisa berkata apa- apa. Sejenak terdiam dan tergugu. Kemudian mencoba membolak balik lagi halaman sebelumnya. Mencari kembali bagian cerita dimana setiap pertanyaan Rehan dijawab dengan begitu indah oleh si lelaki dengan wajah yang menyenangkan. Mengulangi lagi membacanya. Merenungi setiap kata – katanya. Dalam menghujam. Indah tak terbantahkan.

Tere Liye memang rajanya meramu kata-kata yang mampu membolak balik perasaan. Saya menangis sejak awal membaca buku ini. Membayangkan betapa kerasnya kehidupan Rehan. Walaupun ini hanya cerita fiksi. Tapi mungkin saja di antara jutaan umat di bumi ini ada yang bernasib sama dengan Rehan kan? Mungkin saja bukan? Sama mungkinnya dengan kebenaran cerita si Arab Tua yang tinggal puluhan tahun di oase gurun.

Membaca kisah Rehan dalam novel ini seperti menonton perjalanan panjang dan berliku seorang anak manusia. Mulai dari asal hingga berakhir pada ujungnya, kematian. Kehidupan tiap insan memang seperti sebuah film masterpiece karya Sang Pencipta. Skenario unik untuk setiap orangnya. Tak ada yang bisa membandingkan film kehidupan siapa yang paling bagus atau film kehidupan mana yang berhak mendapatkan penghargaan sekelas Oscar atau Golden Globe. Karena memang tidak ada standar baku pembandingnya. Semua berhak mendapat penghargaan sebagai karya masterpiece karena setiap cerita mempunya siklus sebab akibatnya sendiri. Setiap kehidupan punya jawaban yang indah untuk setiap lima pertanyaannya. Dan sungguh saya sepakat dengan testimoni yang disampaikan oleh Ratih Sang, bahwa terasa sekali kita tidak dapat berandai-andai ketika membaca novel Tere Liye kali ini.

Ada satu quote yang langsung terpikir di otak saya seusai membaca novel ini. Janganlah sekali -kali engkau membandingkan kehidupanmu dengan kehidupan yang lain. Menganggap orang lebih bahagia atau kenapa hidup kita begitu nestapa. Kita tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui dan perjuangkan untuk mencapai kehidupan mereka yang sekarang.  Karena itu, bersyukurlah dengan kehidupanmu yang sekarang. Kita sama sekali tidak dapt berandai-andai karena skenario Allah tetap yang terbaik.

Antara Angkot dan Ngetem

Tiba-tiba pengen nulis yang agak serius setelah saya mengalami kejadian yang tidak mengenakkan beberapa saat yang lalu di atas angkot.  Barusan saya naik angkot dari Ciwalk ke kosan, dan ada kejadian yang membuat saya miris dan merenung. Sopir angkot Caheum- Ciroyom bersiteru memperebutkan penumpang. Angkot yang saya naiki dianggap tidak antri dalam mengambil penumpang. Kebetulan ada beberapa angkot yang sedang nge-tem di Jalan Cipaganti untuk mengambil penumpang dari Ciwalk.  Si bapak-entah-siapa marah-marah terhadap sopir angkot yang saya naiki. Dengan bahasa Sunda yang sedikit-sedikit saya mengerti, si bapak memaki-maki sopir angkot tsb karena dianggap memotong antrian untuk mengambil penumpang. Si sopir angkot saya kekeuh bahwa dia tidak memotong. Dengan logat Jawanya yang kental, ia terus berusaha membela diri, membantah pernyataan si bapak Sunda yang bahkan memanggilnya goblok.

Saya dan teman saya, yang duduk di bangku paling depan (samping sopir) sempat was was juga takut terjadi pertengkaran yang lebih parah. Untungnya si sopir angkot Jawa, mau mengalah, menyuruh turun penumpangnya untuk menaiki angkot yang lebih depan dahulu. Entah siapa yang benar dan salah, dari pada terjadi yang gak- gak saya dan penumpang lainnya manut saja. Eeeehhh, uda jalan ke angkot paling depan, ternyata beberapa penumpang termasuk saya, malah tidak kebagian tempat. Jadinya malah kami kembali lagi ke angkot semula. Ufffff…

Bukan masalah bolak baliknya yang saya ributkan, cuma tiba-tiab muncul perasaan tidak enak. Kehidupan perangkotan ternyata keras juga. Saya sampai sekarang masih bertanya-tanya, berapa rata-rata pendapatan sopir angkot sehari? berapa yang harus disetor? berapa penghasilan bersihnya? Mungkin terkadang kita marah-marah, kesal karena sopir angkot ngetem. Kadang kalo saya sedang baik, saya sempat berpikir dari sisi lain, si sopir memang mungkin dari tadi belum dapat penumpang. Kalo angkotnya dengan 1 ato 2 penumpang, waktunya hanya akan habis dijalan sementara uang yang didapat pun tidak seberapa. Bahkan saya ingat cerita teman saya  bahwa ada seorang bapak yang marah-marah pada sopir angkot karena si sopir sering berhenti untuk menaiki penumpang. Si bapak mengaku sedang terburu-buru. Tapi caranya itu, kalo emang mau cepat, naik taksi sana Pak. Kayak orang ga pernah naik angkot saja.

Yap, jika kita sempat untuk berpikir dan merenung, cobalah untuk berempati pada sopir angkot. Kalo memang sedang buru-buru, dan ternyata angkot kita ngetem, dan kita tidak punya pilihan transportasi lain (baik karena masalah uang ato kondisinya memang tidak ada angkot lain yang tidak ngetem), daripada ngedumel ato pura-pura kesal dengan menghentakkan kaki ke lantai angkot mending kita sempatkan berdoa semoga si sopir segera mendapatkan tambahan penumpang. Atau hatinya tergerak untuk mulai menjalankan angkotnya dan mendapatkan penumpang lain sepanjang perjalanan.

Saya pernah mencoba beberapa kali cara ini dan berhasil. Waktu itu saya menaiki satu-satunya angkot yang lewat di subuh hari menuju stasiun. Karena penumpangnya memang baru 2 orang (termasuk saya), si sopir dengan sangat nyantainya  mengendarai si angkot dengan pelan perlahan. Saya berkali-kali lirik jam, takut ketinggalan kereta api. Sungguh bukan pada posisi saya untuk bilang, ” Pak, bisa cepatan dikit ga, takut ketinggalan kereta Pak!”. Lah, salah sendiri kenapa mepet banget berangkatnya, kenapa ga naik taksi atau ojek saja. Makanya dengan pasrah saya berdoa semoga saya tidak terlambat dan si bapak angkot dapat tambahan penumpang. Dan doa saya terkabul. Setelah menaiki satu penumpang tambahan, si sopir angkot mulai mempercepat laju angkotnya. Dan Alhamdulillah saya sampai di stasiun 5 menit sebelum keberangkatan, dan masih dapat tiket walaupun harus bayar lebih untuk tiket Eksekutif.

Dari pengalaman saya sebagai pengguna angkot aktif, tingkat ke-ngetem-an angkot di Bandung masih bisa saya tolerir dibandingkan angkot di Pariaman dan  beberapa kota lain di Sumbar. Mungkin frekuensi bolak-balik mereka atau poin-poin tempat naiknya penumpang yang sangat jarang sehingga mereka tidak mau rugi jika harus berangkat dengan jumlah penumpang yang sedikit. Apapun alasannya, saya dan siapapun yang merasa user dari angkot-angkot yang beredar, benar-benar harus melatih kesabaran dan rasa empati terhadap sopir angkot. Diakui memang, kesulitan hidup membuat orang kehilangan rasa empati dan peduli. Ngapain gue mikirin nasib lo, nasib gue aja ga jelas. Ngapain gue mikiran nasib sopir angkot, TA gue aja ga kelar-kelar ni, uang jajan lagi seret, pulsa habis, ortu cuek, teman nyebelin dan masalah-masalah lainnya yang tidak bakal kehabisan kata untuk disebutkan. Disitulah sisi humanisme kita diuji. Disaat kita sibuk dengan kehidupan kita, sempatkah untuk sebentar kita berhenti, melihat kiri dan kanan, memperhatikan orang-orang sekitar kita. Karena terkadang dengan begitu, kita masih bisa bersyukur bahwa kita masih beruntung dibanding mereka. Bahwa Tuhan masih memberi nikmat yang lebih kepada kita, dalam bentuk apapun itu. Bahwa sepahit dan sesulit apapun masalah yang kita hadapi, ada yang mengalami lebih pahit dan sulit daripada kita. Dengan begitu kita masih bisa menghargai betapa pentingnya setiap kehidupan untuk diperjuangkan.

Previous Older Entries